Selular.ID – Lebih dari tiga dekade setelah film Toy Story pertama kali tayang pada 1995, Disney bersiap untuk merilis Toy Story 5 secara eksklusif di bioskop pada 19 Juni 2026.
Meski industri film saat ini tengah dihadapi persoalan pelik, imbas migrasi penonton gegara maraknya layanan streaming, banyak yang menilai, sekuel ini diprediksi akan meraih sukses besar.
Toy Story 5 secara piawai memadukan nostalgia lintas generasi dengan tema-tema kontemporer yang sangat relevan, didukung oleh ulasan kritis awal yang spektakuler.
Alhasil, cukup wajar jika Toy Story 5 berada di jalur yang tepat untuk memecahkan rekor box office untuk film animasi.
Apalagi, ada keterlibatan Taylor Swift. Mega bintang yang merupakan salah satu musisi terkaya di dunia itu – kekayaannya diperkirakan mencapai $2 miliar (sekitar Rp36 triliun) – menyumbangkan lagu orisinal “I Knew It, I Knew You” untuk soundtrack Toy Story 5.
Ditulis dan diproduseri bersama Jack Antonoff, lagu ini terinspirasi oleh karakter koboi wanita bernama Jessie.
Swift bahkan mengejutkan penonton dengan penampilan langsung di pemutaran perdana film tersebut di Los Angeles, pada Kamis (11/6/2026).
Setelah menyanyikan “I Knew It, I Knew You”, Swift berjalan di karpet merah, di mana ia secara mengejutkan meminta Tom Hanks dan Tim Allen, untuk menandatangani kaset VHS asli Toy Story lawas miliknya yang diproduksi pada 1995.
Untuk diketahui, Toy Story 5 mengisahkan Woody (Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen), dan Jessie (Joan Cusack) yang berhadapan dengan Lilypad, sebuah tablet berbentuk katak, yang datang dengan ide-ide yang mengganggu tentang apa yang terbaik untuk anak mereka, Bonnie.
Selain Tom Hanks dan Tim Allen, para pengisi suara lainnya termasuk Conan O’Brien, Scarlett Spears, Shelby Rabara, Mykal-Michelle Harris, Craig Robinson, Bonnie Hunt, Lori Alan, Jay Hernandez, dan John Hopkins.
Steve Jobs Gelontorkan $50 Juta
Di tengah euphoria Toy Story 5 yang bakal segera tayang di bioskop-bioskop di seluruh dunia, publik seharusnya tidak melupakan jasa Steve Jobs.
Pasalnya, pendiri Apple itu memiliki peran yang sangat krusial sekaligus beragam dalam pembuatan Toy Story, sehingga mampu meraih banyak kesuksesan.
Namun untuk memahami betapa besar sesungguhnya jasa Steve Jobs, kita perlu mundur ke belakang.
Seperti kita ketahui, semasa hidupnya, Jobs dikenal sebagai pebisnis yang sangat perfeksionis.
Meski mendirikan Apple bersama Steve Wozniak, karirnya hampir tamat setelah ia didepak dari perusahaan yang didirkannya itu pada 1985, saat generasi pertama Mac kurang mendapat respon pasar.
Namun Jobs tetap pada keputusan untuk tidak mengubah fitur yang terdapat pada Mac.
Sang visioner itu pun lompat ke perusahaan gurem NeXT, dimana ia sempat menciptakan PC seharga $ 10,000 yang penuh inovasi, namun tetap saja kelewat mahal.
Pada 1986, Jobs mengakuisisi divisi grafis komputer Lucas Film dan mengganti namanya menjadi Pixar Animation Studios.
Mengambil alih Pixar bisa jadi merupakan perjudian terbesar Jobs. Pasalnya, ia harus merogoh $ 50 juta dari koceknya sendiri, guna membiayai studio film yang saat itu tengah dilanda krisis keuangan.
Namun kali ini keberuntungan mulai hinggap. Film Toy Story produksi Pixar yang dirilis pada 1995 ternyata mampu meraih box office. Dengan budget produksi sebesar $30 juta, Toy Story meraih $401 juta di seluruh dunia.
Empat sekuel selanjutnya juga menjadikan Toy Story juga meraih kesuksesan, sekaligus pendapatan yang memecahkan rekor. Terlihat dari data berikut ini:
Toy Story 2 (1999): Total pendapatan $511.4 ($90 juta biaya produksi)
Toy Story 3 (2010): Total pendapatan $1.067 billion worldwide ($200 biaya produksi)
Toy Story 4 (2019): Total pendapatan $1.074 ($200 biaya produksi)
Baca Juga: Sergey Brin Akui Google Glass Gagal karena Terlalu Pede Merasa Steve Jobs
Tak dapat dipungkiri, berkat tangan dingin Steve Jobs, Toy Story menjadi franchise film animasi yang bergelimang kesuksesan sejak dirilis kali pertama pada 1995.
Siapa sangka, kesuksesan membangun Pixar yang berujung pendapatan box office film Toy Story, berujung pada berkah lainnya.
Pada Juli 1997, Steve Jobs resmi ditunjuk kembali menjadi CEO Apple dan memimpin kebangkitan raksasa teknologi tersebut.
Di tengah kesibukannya memimpin Apple, Steve Jobs tetap menjabat sebagai CEO dan pemegang saham mayoritas Pixar dengan kepemilikan 50,1%.
Belakangan datang tawaran akuisisi dari raksasa hiburan, The Walt Disney Company. Jobs dan pemegang saham Pixar menyetujui langkah pengambilalihan itu pada 5 Mei 2006.
Dalam kesepakatan saham senilai $7,4 miliar, Disney pada akhirnya memiliki semua hak atas Toy Story.
Di sisi lain, akuisisi itu menjadikan Jobs sebagai pemegang saham individu terbesar Disney dengan kepemilikan 7%, sekaligus menjadi anggota Dewan Direksi Disney.
Sebelumnya, dalam setiap sekuel Toy Story, Steve Jobs selalu tertera sebagai produser eksekutif. Kondisi kesehatan yang mulai menurun, membuat Jobs harus mengurangi banyak aktifitas.
Belakangan karena keterlibatannya dalam produksi Pixar sangat minim, nama Jobs hanya dicantumkan dalam bagian “Ucapan Terima Kasih Khusus” di akhir kredit film-film Pixar.
Tak Ada Yang Abadi di Dunia Ini
Pada 24 Agustus 2011, Jobs mengumumkan pengunduran dirinya sebagai CEO Apple. Ia digantikan oleh COO dan calon penerus yang telah lama dipersiapkan, Tim Cook. Atas permintaan dalam surat pengunduran dirinya, Jobs didaulat sebagai ketua dewan direksi Apple.
Sayangnya, hanya dua bulan berikutnya, persisnya pada 5 Oktober 2011, keluarga Jobs mengeluarkan pernyataan bahwa ia “meninggal dengan tenang hari ini”.
Salinan akta kematiannya menunjukkan perjuangan selama delapan tahun melawan kanker pankreas.
Meski Jobs telah wafat sejak 15 tahun lalu, warisan sang visioner itu tak sebatas pada Apple yang kini semakin menggurita, namun juga Toy Story.
Sebagai investor utama, CEO, dan produser eksekutif, ia mampu menjaga kelangsungan finansial Pixar Animation selama masa produksi.
Jobs juga berjasa memimpin kesepakatan distribusi dan penawaran umum yang sangat penting yang menjadikan film tersebut menggapai kesuksesan, sekaligus mengubah wajah industri perfilman dunia.
Baca Juga: Strategi Baru, Disney Rancang Super App Untuk Pengguna Global



