spot_img
BerandaInsightPenetrasi Fixed Broadband di Indonesia Diprediksi Meningkat 20% pada 2022

Penetrasi Fixed Broadband di Indonesia Diprediksi Meningkat 20% pada 2022

-

Jakarta, Selular.ID – Di masa pandemi Covid-19 yang berkepanjangan memberikan banyak dampak negatif terhadap berbagai sektor usaha. Meski begitu, sektor telekomunikasi dan informatika masih membukukan kinerja solid sepanjang 2020. Laporan S&P terhadap 3.000 perusahaan global menunjukkan dampak Covid-19 terhadap industri telekomunikasi cukup moderat, terutama jika dibandingkan dengan perbankan atau aviasi.

Pandemi juga mengubah perilaku konsumen digital dan meningkatkan penggunaan teknologi digital. Kebijakan bekerja dan belajar dari rumah membuat konsumsi trafik data melonjak signifikan. Selain itu, sektor lain seperti e-learning, pembayaran digital, e-government, dan e-commerce juga semakin diminati. Maka tidak heran jika pertumbuhan industri telekomunikasi tahun ini masih positif di angka 4,8%.

Laporan terbaru Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) Buku Putih (White Paper) ICT Industry Outlook 2021 mengungkapkan perkembangan industri Indonesia, termasuk telekomunikasi. Dalam penyusunan laporan ini, MASTEL melibatkan Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL), Asosiasi IoT Indonesia (ASIOTI), Asosiasi e-Commerce Indonesia (IDEA), Asosiasi Data Center Indonesia (IDPRO), dan pihak lainnya.

“Potensi telekomunikasi masih sangat prospektif, pandemi justru menjadi momentum dan game-changer yang meningkatkan peran dan urgensi telekomunikasi broadband di tengah kehidupan masyarakat. Jaringan 5G juga semakin penting dalam mengkatalisasi transformasi digital, industri 4.0 dan lain-lain,” ujar DR Sigit Puspito Wigati Jarot sebagai Ketua Bidang Infratelnas MASTEL saat dihubungi Selular ID.

Wajah industri telekomunikasi 2021 sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi nasional. Sejumlah lembaga seperti World Bank, Asian Development Bank, Moody’s, dan International Monetary Fund (IMF) mengajukan prediksi yang beragam mulai dari 4,3% hingga 8,2%. Sektor telekomunikasi juga diprediksi akan membaik dengan tumbuh 5,3%. Kementerian Keuangan dan Bappenas memperkirakan industri informasi dan komunikasi akan tumbuh 8,3%-10,1% pada 2021.

Industri telekomunikasi dan informasi memang mencakup lini bisnis yang sangat luas. Penetrasi fixed broadband diperkirakan akan melonjak dari 13% pada 2019 menjadi 20% pada 2022. Begitu pula dengan jumlah pengguna smartphone yang diperkirakan terus meningkat dan menembus angka 210 juta pada 2021.

Dalam Focus Discussion Group yang digelar Mastel, industri telekomunikasi diwakili oleh empat bidang utama yang mencakup industri perangkat, industri jaringan, industri platform, dan industri aplikasi. Keempat bidang ini memiliki peluang dan tantangan masing-masing meskipun masih terkait dalam satu kesatuan.

Buku Putih (White Paper) ICT Industry Outlook 2021 menyebutkan konsumsi trafik data meningkat pesat tetapi harga paket data cenderung menurun. Ini membuat operator terus mengeluarkan investasi besar-besaran yang menekan arus kas maupun margin. Dari tahun 2018 ke 2019, arus kas perusahaan telekomunikasi turun sekitar 30%. Secara keuangan, kondisi ini sangat tidak ideal untuk bisnis yang berkelanjutan.

Baca juga :  Apjatel: Pemerintah Perlu Beri ‘Gula-Gula’ agar Penetrasi Fixed Broadband Tumbuh Cepat

Di sisi lain, persoalan infrastruktur masih menjadi hambatan bagi penetrasi internet. Investasi jaringan fixed broadband di Indonesia cenderung merosot tajam di tahun pandemi 2020. Sejumlah penyedia jaringan memangkas operasional, menghentikan penggelaran infrastruktur, hingga terancam gulung tikar. Secara umum, dukungan regulasi dan stimulus sangat diperlukan untuk memastikan penggelaran infrastruktur bisa diteruskan secara berkelanjutan.

Baca juga :  Percepatan Pengembangan Pita 2.3GHz Untuk Industri

“Pembenahan dan penyehatan industri perlu terus dilakukan, agar penyelenggara bisa lebih sustain usahanya, dan mempercepat penggelaran infrastruktur konektivitas broadband,” jelas Sigit.

Menurut MASTEL, secara umum sektor telekomunikasi global sedang menghadapi tantangan terutama dari sisi finansial. Ini dipicu oleh konsumsi data yang terus meningkat setiap tahun sehingga membutuhkan investasi teknologi yang tidak sedikit. Laporan keuangan tiga operator besar Tanah Air seperti PT Telkomsel, PT XL Axiata Tbk. dan PT Indosat Tbk. menunjukkan peningkatan trafik data bisa mencapai 87% per tahun.

Diperkirakan pertumbuhan pendapatan rata rata operator di tahun 2020 ini hanya akan mencapai 4.8% saja. Selama 2021 ini hanya meningkat sedikit menjadi 5.3%.

Lonjakan konsumsi data membuat operator harus terus menggelontorkan capital expenditure (capex) demi menjaga kualitas layanan. Hingga saat ini porsi capex terhadap pendapatan operator telekomunikasi di Indonesia ada di kisaran 28%, cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara lainnya. Di sisi lain, harga paket data di Indonesia masih menjadi terendah kedua di dunia yakni di kisaran USD 0,4 per gigabit sekitar Rp5.600 dengan kurs Rp14.000 per USD. Di negara lain seperti Colombia, data yields mobile-nya berada di USD 3,4 per gigabit atau hampir 9 kali lipat dari Indonesia.

Pada gilirannya, kondisi ini akan menekan arus kas perusahaan dan berpotensi menggerus EBITDA margin yang turun 5% dibandingkan 10 tahun lalu. Return on Invested Capital juga menurun secara signifikan menjadi hanya 1% di 2019 dari sebelumnya 7% pada 2009.

Menurut MASTEL, operator telekomunikasi bersama pemerintah perlu duduk bersama untuk mencari jalan keluar persoalan ini. Dengan diundangkannya UU Cipta Kerja, pemerintah kini bisa turut menetapkan batas tarif agar menunjang pertumbuhan industri yang berkesinambungan.

spot_img

Artikel Terbaru