BerandaNewsFeatureSelular Award Jadi Cerminan Jatuh Bangunnya Pelaku-pelaku Bisnis di Industri ICT Indonesia

Selular Award Jadi Cerminan Jatuh Bangunnya Pelaku-pelaku Bisnis di Industri ICT Indonesia

-

Jakarta, Selular.ID – Ajang Selular Award yang sudah menjadi kelender tetap industri telko dan ICT Indonesia, akan kembali dihelat. Meski Indonesia masih dilanda pandemi covid-19, Selular Media Network (SMN) tetap menghadirkan event tersebut, namun dengan format virtual seperti tahun lalu.

Kalangan industri, pemerintahan, akademisi, LSM dan masyarakat umum bisa menyaksikan melalui live streaming di channel Youtube Selular TV, hari ini (Rabu 7 Juli 2021), mulai pukul 13..00 – hingga selesai.

Sekedar diketahui, Selular Award merupakan wujud apresiasi SMN kepada industri ICT, khususnya operator telekomunikasi, vendor jaringan, vendor handset dan perusahaan teknologi lainnya atas kontribusi mereka kepada masyarakat dengan layanan terbaiknya.

Tahun ini Selular Award telah menginjak gelaran ke-18. Sebuah pencapaian yang terbilang fenomenal. Pasalnya, banyak ajang penghargaan di industri lain terhenti. Beberapa event serupa dengan Selular Award juga tak mampu melanjutkan kiprahnya. Sebut saja ICS (Indonesia Cellular Show) yang digagas oleh Diandra Promosindo (Kompas Gramedia) dan Golden Ring Award (Forum Jurnalis Telko).

Menengok ke belakang Selular Award pertama kali digelar pada 2003. Seperti halnya Majalah Selular yang merupakan media pertama, Selular Award juga menjadi ajang penghargaan pertama di industri telekomunikasi nasional.

Diskusi Selular Award

Sejak awal kehadirannya, Selular Award disambut baik oleh kalangan industri, karena dapat menjadi parameter dan pencapaian kinerja, sekaligus mendorong kompetisi yang sehat. Melalui Selular Award, masyarakat dan dunia usaha dapat menilai brand-brand dan perusahaan yang memiliki prestasi membanggakan.

Selain menyasar brand dan korporat, terdapat penghargaan khusus bagi individu yang memiliki prestasi istimewa.  Seperti CEO of The Year dan Life Time Achievement. Selain itu juga ada Excellence in Performance. Penghargaan ini khusus diberikan kepada eksekutif yang memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan perusahaan dan industri telekomunikasi secara keseluruhan.

Mereka yang mampu meraih penghargaan di ajang Selular Award, dinilai telah mampu mengatasi tantangan, sekaligus menunjukkan prestasi yang signifikan dibandingkan para pesaing. Keberhasilan tersebut dapat mendorong reputasi brand, menumbuhkan loyalitas konsumen, dan meningkatkan penjualan.

Seperti halnya Majalah Selular (kini berganti format menjadi Selular.ID), Selular Award merangkum kiprah dan perjalanan para pelaku bisnis di industri selular Tanah Air. Mulai dari era 2G, 3G, 4G, hingga saat ini mulai memasuki era 5G.

Merentang panjang hingga hampir dua dekade, sejak era transisi dari telepon tetap ke ponsel, analog dan digital, prabayar dan pasca bayar, sampai era media sosial yang menempatkan konten dan aplikasi sebagai layanan populer masyarakat.

Dominasi China

Karena telah menjadi bagian dari evolusi industri telekomunikasi, Selular Award dengan sendirinya menjadi cerminan jatuh bangunnya pelaku bisnis dalam mengarungi kerasnya persaingan. Tak ada jaminan bagi brand-brand yang pernah merajai untuk tetap bertahan dan menjadi pilihan masyarakat.

Tengok saja perjalanan Nokia. Di era 2G hingga 3G, brand asal Finlandia itu mampu menjadi market leader pasar ponsel di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, merentang dari 1999 – 2012. Wajar jika selama periode itu, Nokia mampu menyabet banyak penghargaan di ajang Selular Award.

Namun melonjaknya popularitas Android sebagai sistem operasi penantang Symbian dari Nokia, melambungkan Samsung sebagai merek ponsel yang banyak diburu oleh masyarakat hingga kini. Di sisi lain, Nokia mulai kehilangan pangsa pasar. Penjualan ke Microsoft malah membuat Nokia semakin terseok-seok dalam ketatnya persaingan. Demi mempertahankan eksistensinya, Nokia terpaksa melego unit bisnis ponsel kepada HMD Global pada 2016.

Sejatinya Nokia tidak sendirian. Sejumlah merek ponsel juga pernah berjaya dan memperoleh pengakuan di ajang Selular Award. Namun akhirnya tumbang dilibas pesaing. Sebut saja Nexian, Hisense, HTC, OnePlus, Coolpad, Blackberry, Lenovo, Sony, acer, dan LG.

Begitu pun dengan merek lokal yang sempat mewarnai percaturan industri smartphone di Tanah Air. Seperti Polytron, Ti-Phone, Esia, Advan, Axioo, Hi-Max, V-Gen, Pixcom, Telkom Flexy, Wiko dan Evercoss.

Kecuali Advan dan Evercoss, kiprah merek-merek lokal saat ini “semakin tidak terdengar”. Transisi dari 3G ke 4G membuat smartphone lokal tak mampu membendung agresifitas merek-merek China yang datang bagai air bah.

Mereka menggoda pasar lewat produk yang inovatif, teknologi terkini, serta harga yang kompetitif. Demi mendukung ekspansi, budget pemasaran dan operasional yang sangat besar juga telah disiapkan. Mereka juga menggaet artis papan atas sebagai brand ambassador.

Imbas dari penetrasi vendor-vendor China itu, peta pasar berubah dengan cepat. Hanya dalam tempo lima tahun terakhir, merek-merek smartphone China telah merajai pasar ponsel dalam negeri. Membuat merek lain, seperti pemain figuran saja.

Menurut Canalys, lima besar vendor smartphone di Indonesia untuk periode Januari-Maret 2021 adalah Oppo (24%), Samsung (19%), Vivo (19%), Xiaomi (18%), dan Realme (12%). Mengacu pada laporan Canalys itu, gabungan empat brand-brand China, sudah menggenggam 73% pangsa pasar. Padahal pencapaian itu belum termasuk pemain lapis kedua, seperti Nubia, Lenovo, Itel, tecno, dan Infinix.

Esia dan BOLT!

Seperti halnya device, persaingan antar operator selular juga sangat ketat. Dengan lebih dari 10 operator (periode 1997 – 2014), Indonesia adalah negara paling liberal dalam industri telekomunikasi dunia. Kerasnya kompetisi, memaksa operator bersaing pada level harga bukan layanan. Namun perang tarif yang berkepanjangan membuat margin keuntungan operator terpangkas, bahkan berujung pada kerugian.

Karena tak mampu bersaing, sejumlah operator kini tinggal nama. Sebut saja Esia (Bakrie Telecom), Axis (Saudi Telecom) dan terakhir BOLT! (Internux/Lippo Group). Padahal pada ajang Selular Award 2011, ponsel Esia Qwerty Games diganjar penghargaan sebagai “Best Bundling Program”.

Begitu pun dengan BOLT! yang terpilih sebagai “Most Favorite 4G Provider” alias penyedia layanan 4G terfavorit dalam dua tahun berturut-turut (2015 – 2016) di ajang Selular Award. Prestasi itu dipertahankan oleh BOLT! pada gelaran Selular Award 2017 untuk “Most Innovative Internet Service Provider”.

Tumbangnya Esia, Axis dan BOLT! dengan sendirinya mengurangi jumlah operator yang beroperasi di Indonesia. Hingga 2019, industri selular di Indonesia menyisakan lima operator besar. Masing-masing Telkomsel, Indosat Ooredoo, XL Axiata, Tri (Hutchinson Indonesia), dan Smartfren Telecom.

Dua operator lain adalah Net1 (Sampoerna Telekomunikasi Indonesia) dan HiNet (Berca Hardaya). Namun coverage yang terbatas, membuat penguasaan pelanggan kedua operator itu terbilang lebih kecil. Sehingga berdampak pada pertumbuhan perusahaan.

Net1 diketahui juga sudah megap-megap. Operator milik Sampoerna Group itu, ternyata belum mampu melunasi BHP frekuensi yang tertunggak sejak dua tahun terakhir. Jika tak mampu melunasi hutang BHP tersebut, bukan tidak mungkin Net1 akan mengikuti jejak BOLT, yang kini tinggal nama.

Larry Ridwan (kedua dari kiri), Chief Commercial Officer BOLT! Super 4G LTE menerima penghargaan Most Favorite 4G Provider di Ajang Selular Award ke-12 tahun 2015.

Kondisi tak jauh berbeda juga menimpa Berca Hardaya. Bersama dengan Sitra dan Jasnita, HiNet (Berca) adalah tiga operator BWA tersisa. Namun keputusan pemerintah tidak memperpanjang lisensi spectrum untuk Sitra dan Jasnita pada 2018, membuat Berca menjadi operator BWA satu-satunya di Indonesia. Meski masih mampu bertahan, pencapaian Berca terbilang rendah. Selama 10 tahun beroperasi pembangunan jaringan terbilang sangat minim.

Dengan persaingan yang terbilang ketat, industri selular akan selalu menampilkan drama yang mengejutkan. Apakah era 5G akan kembali mengubah peta pasar? Tentu waktu yang akan menentukan. Mana saja brand/perusahaan yang mampu bertahan dan kemudian unggul. Mana juga brand/perusahaan yang keselip kemudian sempoyongan dan akhirnya tinggal sejarah.

Apa pun itu, model open market yang selama ini dianut Indonesia dan regulasi yang kerap berubah membuat pasar tetap dinamis. Alhasil, hanya mereka yang adaptif dengan perubahan dan selera pasar  yang akan terus bertahan dan menjadi pilihan pelanggan.

Semuanya tercermin dalam ajang Selular Award.

Artikel Terbaru