spot_img
BerandaNewsFeatureKomersialisasi 5G Mulai 'Menyapa', Perluasan Sinyal 4G Digenjot hingga Ujung Negeri

Komersialisasi 5G Mulai ‘Menyapa’, Perluasan Sinyal 4G Digenjot hingga Ujung Negeri

-

Jakarta, Selular.ID – Malam itu seperti biasa, Jumat (28/5), ritual ngopi bersama teman selepas letih bekerja terjalin begitu himkat. Kedai kopi langanan yang kerap kita singahi pun tetap ramah menyapa, meski keluh kesah soal kerjaan setumpuk, dan problematika kehidupan selalu ditumpahkan dengan sengaja, tak jarang sumpah serapah pun terucap ditengah sajian kopi pahit kegemaran kita.

Namun hari itu cukup berbeda, laju obrolan cenderung santai. Tema pembahasan pun silih berganti, dan sekilas melebar membahas layanan 5G Telkomsel yang sudah resmi meluncur di tanah air.

Tentu bagi saya (penulis) tidak heran mendengarnya, pasalnya kedua teman saya Iki Risky (31) dan Luviresy (35) yang berprofesi sebagai desain grafis, videographer, sekaligus content creator ini di keseharian erat kaitanya dengan internet, terlepas dari mereka yang bisa dibilang memang sebagai pengguna internet aktif.

Baca juga: Rekomendasi Smartphone yang Dukung Layanan 5G Telkomsel

“Smartphone 5G yang udah di jual di Indonesia apa aja fren? gue ada rencana mau beli nih, kira-kira yang terjangkau plus ‘OK’ apa yah,” ujar Luvi.

Sembari browsing mencari produk smartphone yang sudah mendukung jaringan generasi ke-lima itu, Iki kemudian menjabarkan secara detail temuan produk ponsel pintar yang sekiranya sudah mendukung layanan 5G Telkomsel, lengkap dengan harga sekaligus spesifikasinya, “ada lumayan banyak, tinggal pilih aja. Eh, Tapi layanan 5G-nya masih terbatas di wilayah tertentu lho, kantor daerah Blok M masuk enggak Vi?,” celetuk Iki sembari menyeruput secangkir kopi pesananya.

Hadirnya 5G, melalui layanan yang digelar Telkomsel tak dipungkiri tentu menjadi kabar baik bagi Indonesia. Dimana ujung harapan dari implementasi jaringan super cepat generasi kelima itu bakal berdampak luas pada ekonomi dalam negeri secara umum.

Nailul Huda, Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) saat dihubungi Selular menjelaskan, langkah Telkomsel mengelar layanan 5G itu dampaknya akan positif.

Baca juga: Pengamat: Layanan 5G Harus Dibarengi dengan Membangun Kebiasaan Masyarakat

“Selama ada peningkatan kualitas teknologi maka hal tersebut sangat positif terhadap perekonomian, termasuk hadirnya 5G di Indonesia yang saya rasa akan positif  dampaknya. Yang nantinya tentu harapanya kegiatan ekonomi digital melalui layanan jaringan tersebut akan berjalan lebih cepat,” kata Huda, Minggu (30/5).

Namun memang jika kita amati lebih detail lanjut Huda, hadirnya 5G di kota-kota besar jika tidak diimbangin dengan kehadiran 4G di daerah-daerah kecil, akan menciptakan ketimpangan digital yang semakin besar. Sehingga jangan heran jika perputaran uang di ekonomi digital lagi-lagi akan berlangsung hanya di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan ​Bekasi (Jabodetabek) atau kota-kota besar lainnya.

“Ini yang harus kita waspadai sebenarnya. Jadi memang langkah Telkomsel untuk menghadirkan 5G itu sangat bagus, namun harus diiringi dengan pemerataan jaringan internet berupa 4G di daerah-daerah lainnya, yang pada prinsipnya jangan sampai kehadiran layanan 5G semakin menimbulkan kembali ketimpangan digital yang jauh lebih parah,” kata Huda.

Percepat gelar akses 4G di daerah

Di samping itu tak dipungkiri banyak tantangan yang musti dihadapi oleh para penyedia jaringan untuk memenuhi ketersediaan layanan internet hingga ke daerah terdepan, terluar, tertinggal (3T). Selain kendala geografis, tingkat keamanan di lokasi, transportasi, dan minimnya pasokan listrik pun turut menjadi penghambat yang sangat memberatkan.

Kendati demikian pemerintah dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tetap menegakan keseriusanya dalam menyediakan layanan internet secara merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Meski Kominfo saat ini sedang fokus untuk melakukan percepatan komersialisasi sinyal 5G, namun di saat bersamaan percepatan jangkauan 4G juga terus digenjot karena keduanya saling melengkapi. Percepatan pembangunan di daerah 3T diharapkan dapat memperkecil disparitas layanan internet guna mendukung penggunaan internet yang positif dan produktif, diantaranya untuk pengembangan ekonomi digital yang salah satunya menyasar UMKM,” kata Juru Bicara Kominfo, Dedy Permadi, dalam Konferensi Pers Penyelenggaraan Layanan Seluler pada BTS 4G di Wilayah 3T.

Baca juga: Tantangan Layanan 5G Masih Panjang, Telkomsel: Harga Akan Lebih Affordable

Kini pemerintah lanjut Dedy tengah melakukan perencanaan baru untuk percepatan transformasi digital berupa pembangunan dan perluasan infrastruktur telekomunikasi. Total ada 83.218 desa dan kelurahan yang ada di Indonesia, sebanyak 12.548-nya masih belum terjangkau sinyal 4G.

“Rencana baru yang dibuat oleh pemerintah ini akan mempercepat proses pembangunan menjadi 10 tahun lebih cepat. Awalnya baru akan selesai di tahun 2032, kini ditargetkan selesai keseluruhan di tahun 2022 akhir,” ungkapnya.

Kemudian Dedy menjelaskan, pembangunan Base Transceiver Station (BTS) untuk 12.548 desa dan kelurahan tersebut, akan melalui skema pembangunan BTS untuk 9.113 daerah 3T dan 3.435 daerah non-3T.

“Khusus untuk daerah 3T, infrastruktur telekomunikasi akan dibangun oleh BLU (Badan Layanan Umum) BAKTI Kominfo bekerjasama dengan operator selular untuk operasionalnya.”  papar Dedy.

Kerjasama dengan Operator

Sementara itu, Anang Latif Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Kominfo yang juga hadir dalam konferensi pers tersebut juga menyampaikan sebagai langkah lanjutan untuk memastikan ketersediaan sinyal 4G di wilayah 3T, BAKTI Kominfo saat ini tengah memproses penetapan kerjasama operasi (KSO) dengan perusahaan operator selular yang memiliki linsensi di Indonesia.

Baca juga: Dorong Implementasi 5G, Kominfo Terapkan Dua Kebijakan

“BAKTI Kominfo sedang melalui proses penetapan kerja sama operasi dengan operator. Kualitas layanan seluler nantinya ditargetkan bisa menjangkau hingga pelosok nusantara, dan diharapkan bakal menjadi ujung tombak hajat besar percepatan transformasi digital nasional,” paparnya.

Proses penetapan KSO itu merupakan bagian dari tugas Kementerian Kominfo untuk memastikan hak masyarakat Indonesia mendapatkan layanan yang berkualitas, terjangkau, dan terjamin keberlangsungannya. “Dan juga memastikan tidak ada satu orang pun yang tertinggal ketika proses transformasi digital berjalan di republik ini,” tegas Anang

Sekedar informasi mekanisme seleksi penetapan KSO ini berjalan akuntabel dan transparan, dengan tujuan agar mendapatkan mitra KSO yang kompeten. Kemudian dalam skema KSO itu BAKTI Kominfo bertanggung jawab melakukan pembangunan serta pemeliharaan infrastruktur BTS 4G, termasuk di dalamnya menyediakan lahan. Sementara, mitra operator seluler yang terpilih bertanggung jawab menyediakan layanan 4G kepada pelanggan, termasuk di dalamnya melakukan operasi dan pemeliharaan jaringan 4G secara keseluruhan.

Baca juga: Layanan 5G Semakin Dekat, Perluasan Jaringan dan Ketersediaan Frekuensi Masih Menghadang

Penyelenggaraan KSO sendiri memiliki dasar hukum pelaksanaan yang jelas yakni Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 129 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengelolaan Badan Layanan Umum (BLU), dan Peraturan Direktur Utama BAKTI Kominfo Nomor 8 Tahun 2020 tentang Kerja Sama Operasional Pemanfaatan Aset BAKTI Kominfo dan Aset Pihak Lain di Lingkungan BLU BAKTI Kominfo.

spot_img
spot_img

Artikel Terbaru