spot_img
BerandaApps98 Juta Data Muslim Pro Dijual Ke Militer AS?

98 Juta Data Muslim Pro Dijual Ke Militer AS?

-

Jakarta, Selular.ID – Aplikasi Muslim Pro, yang memberikan kemudahan umat muslim untuk mengingat kegiatan ibadah secara mengejutkan diklaim telah menjual data-data pribadi penggunanya ke militer Amerika Serikat (AS).

Aplikasi muslim populer telah memiliki total unduh sekitar 98 juta umat Islam di seluruh dunia,  berdasarkan catatan Business Insider, Selasa (17/11), data yang dijual berkaitan dengan lokasi. Kabarnya militer AS itu membeli data tersebut melalui pihak ketiga yang memang membeli data dari Muslim Pro.

Kabar itu pun menuai protes, di sosial media aksi kekecewaan tak terelakan oleh netizen muslim di seluruh dunia dan bahkan mengajak untuk sama-sama meng-uninstall aplikasi tersebut, tak terkecuali di Indonesia. Artis Arie Untung, mantan VJ MTV itu dalam akun instagramnya bahkan mengungkap kekesalanya, dan mengaku jika dirinya telah menghapus aplikasi tersebut, dan meminta rekomendasi ke para followers-nya aplikasi muslim sejenis buatan dalam negeri.

“Hmm.. kalau di hape ku sih aplikasi ini langsung aku delete. Pake produksi dalam negeri aja, yang jelas pemiliknya saudara sendiri. Ada yang punya rekomendasi muslim Apps dalam negeri?,” ujar artis yang juga menggeluti dunia pembawa acara dan akting itu.

Kronologi terungkapnya penjualan data pengguna dari Muslim Pro pertama kali dilaporkan Media daring Motherboard dari Vice, yang menceritakan data lokasi pengguna aplikasi Muslim Pro dibeli  militer AS dari kontraktor militer yang diperolehnya dari broker pihak ketiga bernama X-Mode. Broker ini membeli data dari developer Muslim Pro.

Baca juga :  Mengenal 4 Fitur Tersembunyi Telegram dan Fungsinya

Kendati demikian X-Mode mengatakan kepada Motherboard bahwa bisnisnya dengan kontraktor militer difokuskan pada tiga jenis penggunaan, yaitu untuk kontra-terorisme, keamanan siber, dan prediksi hotspot Covid-19 di masa depan.

Baca juga :  Mengenal 4 Fitur Tersembunyi Telegram dan Fungsinya

X-Mode sebelumnya telah menerbitkan data lokasi anonim dari smartphone untuk menunjukkan pergerakan orang ke dan dari area di mana kasus Covid-19 melonjak. Namun, beberapa penelitian telah menunjukkan sangat mudah untuk membatalkan anonimitas data lokasi dan mengkaitkannya kembali ke orang atau penggunanya. Yang artinya, sangat merusak keamanan privasi dari para pengunduh aplikasi tersebut.

spot_img

Artikel Terbaru