Wednesday, November 13, 2019
Home News FinTech Tren Fintech Terbaru, Simpan Emas Secara Digital

Tren Fintech Terbaru, Simpan Emas Secara Digital

-

Jakarta, Selular.ID – Seiring perkembangan era digital di tanah air, menyimpan logam mulia emas pun kini bisa dalam bentuk digital. Layaknya rekening tabungan, nasabah bisa ‘mencairkan’ simpanannya kapan saja dalam pecahan 0,5 gram emas 24 karat.

Jika Anda ingin mencoba menyimpan emas digital, setidaknya ada tiga startup di Indonesia yang berkecimpung dalam industri ini. Mereka adalah Lakuemas, Masduit, dan Treasury.

Khusus Treasury, startup yang didirikan oleh Dian Supolo ini sudah menjadi anggota Aftech (Asosiasi Fintech Indonesia). Masyarakat yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai jual-beli-simpan emas digital ini bisa mengunjungi booth Treasury di pameran Indonesia Fintech Expo 2019 di JCC selama dua hari pada 23 dan 24 September.

Kepada Selular.ID, Head of Brand Development Treasury Narantara Sitepu memaparkan penawaran dan diferensiasi platformnya dibandingkan pemain lain.

“Treasury menawarkan simpanan emas mulai dari Rp20.000, mencetak emas dengan pecahan 0,5 gram, dan update harga emas per menit,” ujar Narantara di sela pameran Treasury di Indonesia Fintech Expo 2019, di Jakarta, Senin (23/9/2019).

Dengan update harga emas per menit, konsumen akan mendapatkan harga terbaik setiap saat dan mendapatkan transparansi, karena harga emas mengikuti update global per menit dari London Metal Exchange (LME).

Untuk transaksinya, pelanggan bisa menggunakan sejumlah metode yang disediakan, mulai dari transfer bank, e-wallet, Gopay, dan lain-lain.

Treasury sendiri diluncurkan pada November 2018 di bawah payung PT Indonesia Logam Pratama (ILP). Saat ini Narantara menyebut platform sudah memiliki 18 ribu pelanggan aktif, yang mayoritas berdomisili di Jakarta dan Surabaya.

Dalam hal keamanan transaksi digital, Treasury menggandeng dua partner. Pertama, untuk melindungi aset emas, Treasury menggandeng PT Untung Bersama Sejahtera (UBS) sebagai mitra penyedia emas. Semua emas ada sertifikatnya, sehingga aset emas pelanggan terlindungi.

Dan untuk keamanan transaksi, Treasury menggandeng Indonesia Clearing House (ICH), dan perusahaan menggunakan Know Your Customer digital atau e-KYC. sehingga semua transaksi aman dan terlindungi.

Bukan hanya logam murni emas, Treasury juga menyediakan simpanan dalam bentuk perhiasan, serta yang terbaru adalah Koin Nusantara dalam pecahan 2,2 gram dan 4,4 gram.

Narantara mengaku Koin Nusantara besutan Treasury sudah terjual lebih dari 100 koin.

“Jadi masyarakat tidak harus menyimpan emas secara fisik. Menyimpan emas digital tidak ada biaya penyimpanan. Tetapi jika pelanggan ingin mencetak emasnya juga bisa, pecahan terkecil 0,5 gram. Pengguna hanya perlu membayar biaya cetak, pajak dan ongkos kirim,” papar Narantara.

Simulasinya, biaya cetak emas adalah Rp100.000 dan ongkos kirim sekaligus asuransi melalui jasa RPX dari Surabaya (basis PT UBS) ke Jakarta misalnya dikenakan biaya Rp85.000.

Narantara mengatakan Treasury saat ini adalah anggota Aftech dan tengah dalam proses pengajuan pencatatan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Inovasi Keuangan Digital.

“Semua dokumen sudah diserahkan. Hanya menunggu waktu (pengesahan),” tutupnya.

Latest