Monday, September 23, 2019
Home News Feature Menanti Kiprah Emma Sri Martini Membesut Telkomsel (Bagian 1)

Menanti Kiprah Emma Sri Martini Membesut Telkomsel (Bagian 1)

-

Jakarta, Selular.ID – September ini menjadi bulan ke empat bagi Emma Sri Martini menduduki posisi sebagai Dirut Telkomsel. Seperti diketahui, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Telkomsel yang digelar di Jakarta, Rabu (29/5/2019), mendapuk wanita berhijab ini menjadi suksesor Ririek Adriansyah.

Tampilnya Emma terbilang mengejutkan. Pasalnya, ia berasal dari kalangan di luar PT Telkom. Sebelumnya Emma adalah orang nomor satu di PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). BUMN di bawah Kementerian Keuangan. Ia menjabat sebagai dirut, sejak berdirinya perusahaan pembiayaan infrastruktur itu pada Februari 2009.

Seperti kita ketahui, sepanjang Telkomsel berdiri sejak 1995, posisi dirut selalu berasal dari PT Telkom. Dengan tampilnya Emma, ini adalah kali pertama, Telkomsel dipimpin oleh eksekutif di luar PT Telkom. Perusahaan induk yang merupakan pemegang saham mayoritas.

Selain hilangnya ‘hak istimewa’ Telkom, tradisi lain yang berubah adalah, Dirut Telkomsel tak selalu memiliki latar belakang industri telekomunikasi.

Sebelumnya karena posisi Dirut selalu diisi eksekutif dari PT Telkom, dengan sendirinya pengalaman dan latar belakang bukan merupakan isu. Sebab masih dibidang yang sama.

Penetapan Emma sebagai Dirut Telkomsel, sesungguhnya mengulang langkah Kementerian BUMN saat memilih Arwin Rasyid dan Rinaldi Firmansyah sebagai dirut PT Telkom.

Arwin menjadi dirut Telkom pada periode 2005 – 2007. Ia adalah bankir yang sudah malang melintang di industri perbankan nasional.

Baca juga: Jadi Dirut Telkomsel, Emma Sri Martini Menabrak Dua Tradisi

Pria kelahiran Roma, itu pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur Bank Negara Indonesia (BNI) dan Presiden Direktur Bank Danamon.

Sedangkan Rinaldi Firmansyah merupakan mantan Dirut Bahana Sekuritas. Ia merupakan pengganti Arwin. Rinaldi terbilang cukup awet menjadi Dirut Telkom, sepanjang 2007 – 2012.

Luasnya Coverage

Pergantian posisi puncak di sebuah perusahaan, sesuai hasil RUPS adalah hal yang biasa. Umumnya disebabkan karena masa kerja direksi sudah lama dan juga ada pertukaran tempat.

Pertimbangan lain dilakukan sebagai penyegaran dalam tubuh organisasi. Supaya perusahaan bisa terus tumbuh di tengah lingkungan bisnis yang semakin kompetitif.

Begitu pun dengan Telkomsel. Sejak pertama kali berdiri pada 2005, perusahaan telah dipimpin oleh banyak eksekutif tangguh, yang membuat Telkomsel tetap berjaya di industri selular nasional hingga saat ini.

Di mulai dari Koesmarihati (1995 – 1999), Mulya Tambunan (1999 – 2003), Bajoe Narbito (2003 – 2005), Kiskenda Suriahardja (2005 – 2009), Sarwoto Atmosutarno (2009 – 2013), Alex Janangkih Sinaga (2013 – 2015), Ririek Adriansyah (2015 – 2019), dan kini Emma Sri Martini.

Masing-masing Dirut memiliki peluang dan tantangan tersendiri, sesuai dengan kondisi ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Dipengaruhi oleh teknologi selular yang berkembang pada jamannya.

Semua berperan dalam membangun Telkomsel. Tercermin dari berbagai inovasi dan value perusahaan. Seperti pencapaian jumlah pelanggan, EBITDA, total revenue, net margin, jumlah pembangunan BTS, dan lain sebagainya.

Jika ditelisik, pada masa tiga dirut pertama, industri selular tengah dalam masa pertumbuhan awal. Teknologi GSM yang diusung oleh Telkomsel, memiliki keunggulan dibandingkan teknologi analog, NMT dan AMPS. Hal itu membuat penetrasi pengguna ponsel berkembang sangat cepat di era 2G.

Apalagi layanan SMS, juga sama populernya dengan voice. SMS bahkan menjadi salah satu sumber revenue yang mendongkrak kinerja keuangan semua operator di Indonesia.

Pada era product driven ini, pertumbuhan Telkomsel dipicu oleh beragam inovasi produk dan layanan, seperti layanan pra bayar pertama Simpati yang mengubah secara drastis kebiasaan masyarakat.

Pendek kata, tak ada kesulitan bagi operator dalam melipatgandakan jumlah pelanggan, karena pasar masih terbuka lebar. Persoalan lebih pada besarnya Capex yang harus digelontorkan. Apalagi kondisi geografis Indonesia menjadi tantangan tersendiri, yang tak mudah ditaklukkan.

Namun hal itu tidak menyurutkan Telkomsel untuk terus melakukan, penggelaran jaringan di seluruh Nusantara. Telkomsel beruntung memiliki Garuda Sugardo.

Direktur Network Telkomsel itu bahu membahu dengan Koesmarihati, dalam memperluas coverage sebagai kunci bersaing dengan operator lain.

Sejak awal berdirinya, doktrin pengembangan jaringan Telkomsel adalah: C3 (coverage, coverage dan coverage). Setelah coverage terpenuhi di suatu wilayah, maka strategi bisnis berkembang menjadi C3QS (coverage, capacity, cost, quality and sevices).

Kelak terbukti, coverage yang meluas, dari Sabang hingga Merauke, menjadi keunggulan yang hingga kini mampu dipertahankan Telkomsel dari kejaran para kompetitor.

Memasuki kepemimpinan Kiskenda Suriahardja, industri selular mulai bertransformasi dari layanan dasar ke layanan data. Hal ini dipicu oleh penggunaan teknologi 3G. Dengan 3G, kita mulai mengenal layanan video call dan live streaming.

Jaringan 3G di dunia sejatinya mulai diperkenalkan pada 1998. Disinilah mulai muncul istilah mobile broadband. Kecepatan maksimum yang ditawarkan 3G mencapai 2 Mbps saat dalam posisi diam, dan 384 Kbps saat dalam keadaan bergerak.

Setelah melakukan serangkaian uji coba, pada 2007 Telkomsel menjadi operator pertama di Indonesia yang menawarkan layanan 3G secara komersial.

Pada tahun itu juga, Telkomsel mulai mengembangkan beragam layanan non telko yang bersifat value added service (VAS), seperti dompet mobile (e-wallet), yakni T-Cash, yang merupakan cikal bakal dari Link-Aja. Juga ada Langit Musik, layanan music streaming yang menyasar segmen anak muda.

Perang Tarif

Setelah Kiskenda, Dirut selanjutnya adalah Sarwoto Atomosutarno. Pria asal Solo ini, diserahi misi untuk mengangkat kinerja keuangan Telkomsel yang menurun, sebagai imbas dari perang tarif yang mulai merebak pada 2007.

Kerasnya persaingan bahkan membuat market share Telkomsel menciut, dari 50% pada 2009 menjadi 47% pada 2010. Hal ini merupakan imbas dari banyaknya operator yang beroperasi.

Demi bisa bersaing, operator gurem, seperti Fren, Tri, Axis, dan Smart Telecom, terpaksa menggunakan harga murah dan bonus berlimpah, sebagai senjata untuk menjaring pelanggan.

Kondisi itu pada akhirnya memaksa operator di layer kedua (Flexy dan Esia), serta operator tiga besar (Indosat, Telkomsel, XL), menerapkan jurus yang nyaris serupa.

Hasilnya? Persaingan semakin berdarah-darah lantaran tarif yang dipatok menukik hingga paling bawah. Sampai-sampai konsumen juga bingung, karena operator ada yang menerapkan tarif nol nol koma. Terkesan tidak masuk akal.

Kondisi itu diperparah dengan serta diberlakukannya tarif interkoneksi yang dikeluarkan oleh pemerintah pada 2008. Kebijakan tersebut menguntungkan konsumen karena tarif ritel telekomunikasi semakin terjangkau. Namun di sisi lain, membuat operator semakin sesak nafas karena berdampak pada menurunnya ARPU.

Menurut riset Deutsche Bank, hanya dalam kurun tiga tahun, yakni 2005 -2008, perbedaan tarif operator menjadi sangat timpang. Pada 2005, tarif selular masih di Indonesia masih terbilang tinggi di Asia, yakni US$ 0,15 atau Rp 1.350 per menit. Namun pada 2008, tarif terpangkas hingga ke titik terendah, hanya US$ 0,015 atau hanya Rp 135 per menit.

Broadband Service

Tak dapat dipungkiri, periode 2008 – 2010, bisa disebut sebagai titik balik industri selular. Setelah lebih dari satu dekade tumbuh double digit, pertumbuhan kemudian menciut menjadi single digit. Pada fase ini, industri selular mulai memasuki titik jenuh.

Puncaknya terjadi pada 2011, jumlah pengguna SIM card mencapai 260 juta. Padahal, total penduduk Indonesia pada tahun itu sebanyak 240 juta jiwa. Artinya jika dihitung persentase, Indonesia sudah memiliki penetrasi selular 110%

Selain dihadapkan pada kondisi menurunnya ARPU dan maraknya layanan OTT global seperti Facebook, Twitter, Youtube yang mulai mengancam revenue operator, dalam periode ini, pola komunikasi masyarakat juga semakin bergeser.

Hal itu berkat evolusi dari feature phone ke smartphone. Dengan beragam fitur dan kemampuan kamera yang semakin baik, ponsel bukan lagi sekedar menonjolkan fungsi dasar namun juga cermin dari gaya hidup pengguna.

Lewat smartphone, pengguna dapat mengakses internet di mana saja, baik untuk sekedar browsing, nonton video, main games, hingga bersosial media. Sehingga operator memiliki kesempatan untuk memonetisasi bisnis di luar legacy service.

Namun berkat smartphone pula, layanan voice dan SMS, meski saat itu masih menjadi penyumbang terbesar revenue operator, mulai menunjukkan tren penurunan.

Agar bisa survive, mau tak mau operator harus menjadi pelayan dalam mengiringi life style pengguna. Mulai dari pelanggan bangun pagi, beraktifitas pada siang hari, hingga berbagai kegiatan di malam hari menjelang tidur.

Menyadari bahwa masa depan perusahaan kelak terletak pada layanan data dan konten, Sarwoto pun bergerak cepat. Pria asal Solo ini, terus berupaya meningkatkan kualitas jaringan 2G dan 3G.

Khusus BTS 3G jumlahnya terus diperbanyak, terutama di kota-kota kabupaten. Pada 2011, Telkomsel telah memiliki total 50.000 BTS, sebanyak 10.000 diantaranya adalah BTS 3G.

Penambahan BTS 3G sangat penting demi mendukung peningkatan trafik layanan data. Perbaikan di bidang jaringan secara besar-besaran sejalan dengan pembenahan di sisi marketing dan sistem support.

Ketiga faktor itu menjadi sangat kritikal, demi mengantisipasi booming layanan broadband yang dipredksi akan happening dalam lima tahun ke depan.

Layanan broadband diyakini oleh Sarwoto menciptakan second S curve, pertumbuhan kurva kedua yang akan menjadi sumber pemasukan baru bagi Telkomsel.

Bagaimana pun, seiring dengan bergesernya perilaku pelanggan, penggunaan basic service (voice dan SMS) pelan tapi pasti akan menurun. Meski tidak sepenuhnya ditinggal oleh pelanggan.

Faktanya, hasil dari pembangunan jaringan broadband membuat kinerja Telkomsel kembali moncer. Sepanjang 2011, Telkomsel berhasil meraih pendapatan Rp 48,7 triliun, tumbuh 7% dibanding tahun sebelumnya. EBITDA meningkat Rp 27,5 triliun, dan laba bersih sebesar Rp 12,8 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari layanan data dan SMS.

Prestasi lain di era Sarwoto yang tak kalah mencorong adalah keberhasilan meraih 100 juta pelanggan. Dengan pencapaian tersebut, Telkomsel berada di level elit operator dunia, tepatnya berada di posisi ke-17. Jauh melebihi operator ternama, seperti NTT DoCoMo, Jepang, yang hanya duduk di posisi ke-28.

Dengan visi menjadikan broadband sebagai masa depan industri, tak salah jika Sarwoto layak dianugerahi sebagai peletak dasar broadband services.

Bukan hanya di Telkomsel, namun juga industri selular di Indonesia yang tengah bertransformasi di era digital. Kesemuanya kelak berpusat pada tumbuhnya ekosistem DNA (device, network, application), sejalan dengan massifnya pembangunan BTS 3G dan melonjaknya populasi smartphone.

Triple Double Digit

Setelah Sarwoto, Alex J. Sinaga ditunjuk menjadi dirut Telkomsel selanjutnya. Fondasi yang sudah dibangun jajaran direksi sebelumnya, sesungguhnya memberikan modal yang sangat berharga bagi mantan dirut Telkom Metra itu, untuk lebih mengakselerasi layanan broadband yang ditawarkan perusahaan.

Pada era Alex, manajemen Telkomsel mengusung target yang sangat tinggi. Yakni, memenangkan digital business, memperkuat kepemimpinan di kota-kota besar melalui 500 broadband city, meningkatkan high value customer, serta transformasi people organization. Semua program itu, sejalan dengan moto 3S (solid, speed, smart) yang diusung perusahaan.

Dengan semakin berkembangnya layanan data dan konten, tak heran jika pada akhirnya Alex mendeklarasikan Telkomsel sebagai digital company. Itu berarti Telkomsel bukan lagi hanya sekadar perusahaan telekomunikasi, tapi perusahaan digital.

Alex haqul yakin, tren ke depan akan sangat didominasi oleh hal-hal yang berbau digital. Masyarakatnya akan disebut digital society atau masyarakat digital. Telkomsel ingin menjadi lokomotif yang menggerakkan masyarakat menuju ke sana (digital society).

Melalui program-program yang terarah, 2012 menjadi tahun pembuktian bagi Alex Sinaga. Meski sempat mengalami badai karena gugatan pailit, operator nomor satu di Indonesia itu, mampu menunjukkan performansi bisnis yang luar biasa.

Salah satunya adalah perolehan revenue yang mencapai Rp 54,53 triliun atau naik 12% dibandingkan 2011 sebesar Rp 48,73 triliun. Ini adalah kali pertama Telkomsel mampu meraih kembali pertumbuhan double digit sejak 2008.

Dari sisi jaringan, sepanjang 2012 Telkomsel telah memiliki 54.000 BTS sebanyak 15.000 diantaranya BTS 3G. Dengan BTS sebanyak itu, coverage Telkomsel mampu menjangkau 95% wilayah populasi Indonesia.

Dengan momentum yang telah tercipta, Alex terus menggeber mesin pertumbuhan Telkomsel. Pada akhir 2013, Telkomsel mencatat pendapatan lebih dari Rp 60 triliun, atau tumbuh 10,1% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan revenue sebesar itu, mendorong peningkatan laba bersih dan laba perusahaan sebelum biaya bunga, pajak, amortisasi, depresiasi (EBITDA) masing-masing 10,4% dan 10%.

Keberhasilan di 2012 dan 2013, terus berlanjut pada akhir 2014. Telkomsel membukukan laba bersih Rp 19,4 triliun sepanjang 2014, meningkat 11,9% dibandingkan laba bersih 2013 yang mencapai Rp 17,34 triliun.

Melonjaknya laba bersih ditopang oleh kenaikan pendapatan yang mencapai 10,4 persen menjadi Rp 66,25 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 60,03 triliun.

EBITDA 2014 tercatat sebesar Rp 37,25 triliun atau naik 10% dibandingkan 2013 sebesar Rp 33,8 triliun. Melonjaknya pendapatan Telkomsel di sepanjang 2014, karena perseroan berhasil menumbuhkan bisnis broadband dan digital services yang didukung pertumbuhan layanan suara dan SMS.

Kepemimpinan Alex di Telkomsel berakhir pada 2014. Sepanjang lebih dari tiga tahun menahkodai Telkomsel, Alex Sinaga telah memberikan fondasi yang kokoh bagi kinerja Telkomsel.

Ia mewariskan pencapaian yang apik dari sisi revenue, net margin, dan EBITDA. Double growth selama tiga tahun berturut-turut di tengah kondisi industri selular yang telah mencapai titik jenuh.

Selain kinerja keuangan yang solid, diujung pada masa pengabdiannya, yakni Desember 2014, Alex juga meluncurkan layanan internet baru di jaringan 4G LTE.

Ini merupakan layanan komersial jaringan mobile 4G LTE pertama di Indonesia. Jakarta dan Bali dipilih sebagai sebagai daerah pertama. Sebelumnya, Telkomsel telah menguji coba layanan 4G pada berbagai kesempatan, termasuk dalam penyelenggaraan KTT APEC di Bali pada September 2013.

Dengan 4G yang mampu berlari hingga 100 Mbps, tiga kali lebih cepat dari 3G, masyarakat akan semakin dimanjakan dalam mengakses mobile internet.

Mengakses media sosial, membalas email, selancar di dunia maya, meng-upload/download foto atau dokumen kerja, bermain game, menonton video online dengan kualitas HD, serta beragam aktifitas lainnya, bakal menjadi kebiasaan baru, terutama pada generasi milenial.

Ini adalah lompatan yang luar biasa, mengingat beberapa tahun lalu, masyarakat masih terbiasa dengan layanan dasar (voice dan SMS). Tak ada yang menyangka, berkat teknologi 3G dan 4G, ponsel menjadi benda yang sangat vital dalam menunjang kegiatan sehari-hari,

Seperti halnya 3G, hadirnya 4G memperkuat predikat Telkomsel sebagai pioneer dalam pengembangan dan implementasi teknologi selular terdepan di Indonesia.

Agenda Transformasi

Dengan pencapaian yang gemilang semasa memimpin Telkomsel, Alex Sinaga pun naik ke posisi puncak di induk perusahaan, PT Telkom. Posisinya digantikan oleh Ririek Adriansyah yang sebelumnya menjabat sebagai Dirut PT TELIN (Telkom International).

Ririek Adriansyah, Dirut Telkomsel

Seperti halnya Alex yang juga alumnus ITB, Ririek yang asli Yogyakarta, juga meraih gelar Sarjana Teknik Elektro ITB pada 1988. Pengalamannya di industri telekomunikasi mungkin tidak perlu diragukan lagi.

Tetapi memimpin perusahaan sebesar Telkomsel di tengah kondisi industri yang telah saturasi dan perilaku pelanggan yang mendadak berubah menjadi data hungry, tentu menjadi tantangan tersendiri.

Beberapa kalangan bahkan menilai pria kelahiran 2 September 1963, berada di bawah bayang-bayang Alex Sinaga, yang sukses membukukan prestasi fenomenal, yakni tiga tahun berturut-turut membawa Telkomsel tumbuh double digit.

Faktanya, di tangan Ririek, Telkomsel juga semakin berotot. Di tahun pertama menahkodai Telkomsel, yakni 2015, perusahaan meraih laba Rp 22,36 triliun. Naik 15,4% dibandingkan 2014 sebesar Rp 19,39 triliun.

Laba sebesar itu merupakan buah dari pendapatan yang menembus Rp 76,055 triliun, naik 14,8% dibandingkan 2014 sebesar Rp 66,25 triliun.

EBITDA di 2015 sebesar Rp 42,6 triliun, melonjak 14,4% dibandingkan 2014 sebesar Rp 37,2 triliun. Total terdapat 152,641 juta pelanggan dengan lebih dari 50% adalah pelanggan data.

Begitu pun pada akhir 2016, Ririek terus membukukan kinerja apik. Di tahun ini, Telkomsel meraih pendapatan sebesar Rp 86,72 triliun, naik 14% dibandingkan periode 2015 sebesar Rp 76,05 triliun.

EBITDA sebesar Rp 49,78 triliun atau naik 16,9% dibandingkan periode 2015 sebesar Rp 42,6 triliun. Sedangkan laba bersih mencapai Rp 28,19 triliun atau naik 26,1% dibandingkan 2015 sebesar Rp 22,36 triliun.

Seperti halnya 2015 dan 2016, pada 2017 mesin Telkomsel, juga terus menghasilkan pundi-pundi uang yang mengundang decak kagum.

Perusahaan berhasil meraih pendapatan Rp93,21 triliun sepanjang 2017 atau naik 7,5% dibandingkan 2016 sebesar Rp86,72 triliun. Pada akhir 2017, Digital Business menghasilkan pendapatan Rp39,4 triliun, naik 28,7% dibandingkan periode 2016 sebesar Rp30,6 triliun.

Baca juga: Emma Sri Martini Pimpin Telkomsel

EBITDA sebesar Rp53,5 triliun naik 7,7% dibandingkan 2016 sebesar Rp49,5 triliun. Laba bersih Telkomsel sebesar Rp30,39 triliun naik 7,8% dibandingkan 2016 sebesar Rp28,1 triliun.

Itu berarti, sepanjang 2015 – 2017, Ririek mampu menyamai prestasi Alex Sinaga. Pencapaian triple double digit, di tengah kondisi persaingan yang ketat dan tarif data yang terus menukik.

Namun kerasnya kompetisi yang memicu perang tarif, dibarengi dengan kewajiban registrasi prabayar, serta semakin gandrungnya pelanggan menggunakan layanan OTT (suara dan teks), membuat industri selular sepanjang 2018 mengalami titik balik.

Untuk pertama kalinya operator tumbuh negative sebesar -6,4%. Kondisi itu pada akhirnya membuat Telkomsel tidak terus-terusan kebal. Meski demikian, tercatat hanya Telkomsel yang mampu membukukan keuntungan di tengah tren kerugian yang melanda operator lain.

Diketahui sepanjang 2018, Telkomsel membukukan pendapatan senilai Rp89,3 triliun, EBITDA Rp47,4 triliun, dan laba bersih Rp25,5 triliun. Pendapatan perseroan turun 4,18% dibandingkan dengan 2017 yang senilai Rp93,2 triliun.

Terlepas dari sedikitnya menurunnya performansi keuangan, sepanjang 2018, Telkomsel terus memperkuat fondasi broadband di era 4G dan kelak 5G.

Perusahaan harus bergegas dalam mendorong pengguna data. Pasalnya, kontribusi layanan legacy (SMS dan voice) terhadap pendapatan tinggal 39%. Sedangkan kontribusi non-legacy atau layanan digital sudah mencapai 61%.

Hingga akhir 2018, Telkomsel telah membangun 28.376 BTS baru yang seluruhnya berbasis 4G LTE. Hal itu memperluas jangkauan 4G LTE yang sudah mencapai lebih dari 90% populasi.

Saat ini total BTS yang dimiliki Telkomsel mencapai 197.000. Dari jumlah tersebut, 65.000 diantaranya merupakan BTS 4G. Pada 2019, Telkomsel berencana membangun 20.000 BTS 4G, sehingga bisa menjangkau 93% populasi.

Pencapaian lain Telkomsel di era Ririek adalah keberhasilan memenangkan tender frekwensi 2.300 Mhz seluas 30 Mhz pada 2017. Tambahan spektrum ini memungkinkan Telkomsel memperkuat dan memaksimalkan kualitas layanan layanan 4G LTE bagi pelanggan, khususnya di wilayah-wilayah yang kapasitas penggunaan layanan datanya sudah padat.

Di era Ririek, Telkomsel juga terus bertransformasi menjadi digital telco company. Anak usaha Telkom ini memiliki 3 pilar inovasi digital yang terdiri dari The NextDev, Telkomsel Innovation Center (TINC), dan Telkomsel Mitra Inovasi (TMI). Kesemunya berperan dalam mengembangkan ekosistem digital nasional.

Pada era Ririek juga, Telkomsel dinilai menjadi operator yang paling siap dalam mengoperasikan layanan 5G. Hal ini berkat uji coba 5G yang terbilang sukses, semasa digelarnya Asian Games ke-18 di Jakarta, Agustus 2018.

Tak tanggung-tanggung demi menghadirkan pengalaman 5G yang revolusioner, Telkomsel membangun “5G Experience Center” di ajang olahraga internasional itu.

Masyarakat dapat langsung mencoba berbagai perangkat yang dilengkapi dengan teknologi 5G seperti Live Streaming, Football 2020, Future Driving, Cycling Everywhere dan Autonomous Bus.

Mobil 5G Telkomsel

Dari kesemuanya, Autonomous Bus bisa dibilang paling menyita perhatian. Sesuai namanya, mobil otonom ini mampu berjalan sendiri secara otomatis tanpa pengemudi. Kehadiran autonomous bus ini merupakan sebuah contoh dari kecanggihan teknologi LIDAR dan AI (Artificial Intelligent) yang digadang-gadang akan menjadi jamak di era 5G.

Kendaraan otonom yang kerap disebut mobil “hantu” ini, membutuhkan jaringan dengan latensi rendah sebesar 1 millisecond yang hanya bisa dijalankan melalui teknologi 5G.

Kecepatan transfer data sebesar 20 Gbps agar dapat melakukan komunikasi dengan kendaraan lainnya serta menghubungkan infrastruktur dengan perangkat serta memastikan mobilitas tanpa hambatan.

Di era Ririek, Telkomsel juga terus memperluas portofolio layanan digital. Mulai dari streaming video Maxstream, Mobile Financial Services, Digital Advertising, Digital Banking, Big Data dan Internet of Things (IoT).

Pelnggan Telkomsel sedang Mencoba Aplikasi digital MAXstream

Meski di 2018, kinerja Telkomsel sedikit mengendur, namun hal itu tidak membuat pemerintah mengalihkan perhatian dari Ririek. Dalam RUPS yang digelar pada Mei 2019, pria ramah dan senang guyon itu, didaulat sebagai dirut Telkom menggantikan sang senior, Alex Sinaga. Sementara Emma Sri Martini didapuk menjadi orang nomor satu di Telkomsel.

Hal ini memberikan tantangan tersendiri bagi Emma, dalam menahkodai Telkomsel di era disrupsi teknologi yang tak hanya memberikan peluang bagi perusahaan dalam mengembangkan new business, namun juga menimbulkan kecemasan sekaligus ancaman kebangkrutan bagi banyak perusahaan.

Apa saja agenda-agenda transformasi, baik SDM, teknologi, bisnis dan layanan Telkomsel di tangan Emma Sri Martini? Simak dalam artikel saya selanjutnya.

Latest