Monday, May 27, 2019
Home News Feature Gonjang-Ganjing Industri Selular, Mampukah Telkomsel Mempertahankan Supremasi?

Gonjang-Ganjing Industri Selular, Mampukah Telkomsel Mempertahankan Supremasi?

-

Jakarta, Selular.ID – Tahun 2018 ditutup dengan kinerja operator selular yang tidak memuaskan. Pertama kalinya setelah lebih dari tiga dekade, terjadi negative growth sebesar 7,4%.

Padahal, meski terus mengecil, dalam dua tahun sebelumnya (2016 dan 2017), industri selular masih tumbuh masing-masing sebesar 10% dan 9%. Tak dapat dipungkiri, pertumbuhan minus itu dipicu oleh tiga faktor utama. Pertama, kebijakan registrasi prabayar yang memangkas jumlah pengguna SIM card.

Kedua, menurunnya penggunaan legacy service (SMS dan voice) karena maraknya layanan OTT sejenis. Dan ketiga, perang tarif khususnya data yang tak kunjung usai. Alhasil, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya – meski bervariasi – rapor semua operator, termasuk Telkomsel, tak lagi menggembirakan.

Terdapat lima parameter utama yang menjadi indikator kesehatan operator, yakni total pendapatan, laba bersih, EBITDA, market share dan jumlah pelanggan. Sebelum mengulik pencapaian dan tantangan Telkomsel, mari kita kuliti satu persatu kinerja dua pesaing terdekat, Indosat Ooredoo dan XL Axiata.

Diantara the big three, Indosat Ooredoo menjadi operator yang paling anjlok kinerjanya. Laporan keuangan 2018 menunjukkan, perusahaan yang dulunya pernah menjadi BUMN ini, menelan rugi bersih sebesar Rp 2,4 triliun. Padahal pada 2017 masih mencatatkan laba Rp 1,13 triliun.

Memburuknya keuangan Indosat disebabkan menukiknya pendapatan hingga 22,68% atau Rp 6,6 triliun. Pendapatan operator yang identik dengan warna kuning itu, pada 2018 tercatat hanya Rp 23,14 triliun. Menurun tajam dibandingkan Rp 29,93 triliun setahun sebelumnya.

Menciutnya pendapatan membuat EBITDA Indosat juga rontok. Pada 2017, anak usaha Ooredoo Qatar itu masih mampu mencetak EBITDA sebesar Rp 10.788 triliun.

Bahkan di 2016, EBITDA Indosat masih sebesar Rp 11.063 triliun. Namun pada akhir 2018 amblas sangat dalam, hanya sebesar Rp 4.972 triliun.

Penderitaan Indosat masih berlanjut, karena dalam dua parameter penting lainnya juga menurun tajam, yakni market share dan total jumlah pelanggan.

Diketahui pangsa pasar Indosat pada 2016, masih cukup signifikan mencapai 18,2%. Lalu turun sebesar 14,4% di 2017. Apa daya, menciut lagi menjadi 13,8% di akhir 2018.

Begitu pun dengan jumlah pelanggan. Program registrasi prabayar benar-benar menjadi mimpi buruk bagi Indosat. Tercatat, total pelanggan menurun drastis hingga 47,3%. Dari sebelumnya 110,2 juta pada 2017 menjadi hanya 58 juta di akhir 2018.

Hal yang sama juga mendera XL Axiata. Namun dibandingkan Indosat, kinerja XL terbilang masih cukup baik. Anak usaha Axiata Berhad ini, mencatat kerugian bersih Rp 3,30 triliun. Padahal pada 2017, XL masih mencetak laba sebesar Rp 375,24 miliar.

Lonjakan kerugian ini terutama berasal dari beban penyusutan dan amortisasi yang mencapai Rp 11,62 triliun di tengah pendapatan usaha yang cenderung stagnan.

Tercatat, sepanjang 2018 XL mencetak pendapatan Rp 22,94 triliun. Pendapatan ini hanya naik 0,27% jika dibandingkan 2017 yang mencapai Rp 22,87 triliun.

Meski merugi karena pendapatan nyaris flat, namun dalam tiga parameter lainnya, yakni EBITDA, market share dan jumlah pelanggan, XL justru mencatat pertumbuhan positif.

Dalam tiga tahun terakhir, EBITDA XL terus meningkat, yakni Rp 8.058 triliun (2016), Rp 8.320 triliun (2017) dan Rp 8.512 triliun (2018).

Ditengah menurunnya kinerja semua operator, XL Axiata tercatat menjadi satu-satunya operator yang mencatat pertumbuhan EBITDA positif.

Begitu pun dengan market share yang terus mengalami peningkatan. Masing-masing 10,2% (2016), 16,3% (2017), dan 17,7% (2018). Menurunnya performa Indosat, tampaknya dimanfaatkan dengan baik oleh XL untuk memperluas pangsa pasar.

Dari sisi jumlah pengguna, XL juga mampu meminimalisir dampak dari kebijakan registrasi prabayar. Jika operator lain menciut, pelanggan XL justru naik, meski pun tipis. Dari 53,5 juta pada 2017, menjadi 54,9 juta di akhir 2018.

Kinerja Telkomsel

Sekarang mari kita telisik kinerja sang market leader, Telkomsel.

Harus diakui, gonjang-ganjing industri selular sepanjang 2018, nyatanya tak membuat Telkomsel terus-terusan kebal. Meski demikian, tercatat hanya Telkomsel yang mampu membukukan keuntungan di tengah tren kerugian yang melanda operator lain.

Diketahui pada akhir 2018, total pendapatan Telkomsel turun sebesar 4,18% dibandingkan dengan 2017.

Dalam sejarah Telkomsel, ini adalah kali kedua perusahaan mengalami penurunan pendapatan. Melongok ke belakang, penurunan pertama terjadi pada 2008 silam. Saat seluruh operator terlibat dalam perang tarif dan diberlakukannya tarif interkoneksi baru oleh pemerintah. Penurunan tersebut bahkan berdampak pada pergantian direksi.

Dengan penurunan sebesar 4,18%, membuat laba bersih Telkomsel pada 2018 sedikit terpangkas dibandingkan 2017. Dari Rp 30,39 triliun menjadi Rp 25,5 triliun.

Demikian pula dari sisi EBITDA. Sejauh ini sebagai penguasa pasar, EBITDA Telkomsel masih yang tertinggi, meski kinerja sedikit mengendor pada tahun lalu.

Tercatat EBITDA Telkomsel senilai Rp 49.828 triliun (2016), kemudian naik menjadi Rp 53.592 trilun (2017). Namun turun lagi menjadi Rp 43.370 triliun (2018).

Begitu pun dengan jumlah pelanggan. Total pelanggan Telkomsel pada 2018 mencapai 163 juta, menurun cukup tajam dibandingkan 196,3 juta pada akhir 2017.

Berbeda dengan empat parameter sebelumnya (pendapatan, laba bersih, EBITDA, jumlah pelanggan), dari sisi penguasaan pangsa pasar, Telkomsel justru mengalami kenaikan yang signifikan, yakni 68,5% (2018) dari 66,3% (2017), dan 65,6% (2016).

Naiknya market share pada gilirannya mendongkrak revenue share. Tak tanggung-tanggung, angkanya mencapai 69% di akhir 2018.

Dengan parameter-parameter tersebut, tak dapat dipungkiri, 2018 menjadi titik balik bagi Telkomsel. Harus diakui, Telkomsel tak mampu merealisasikan target triple double digit (pertumbuhan dalam pendapatan, EBITDA, dan laba bersih), seperti tahun-tahun sebelumnya.

Meski demikian, Dirut Telkomsel Ririek Adriansyah tetap optimis bahwa kinerja Telkomsel akan membaik, sejalan dengan perbaikan dalam iklim industri.

Perbaikan itu, utamanya dipicu oleh program registrasi prabayar. Walaupun berdampak signifikan, registrasi prabayar bisa diibaratkan obat atau pil pahit bagi industri selular. Tak ada jalan lain, hal itu harus dilakukan jika ingin industri selular tetap sehat di masa depan.

“Penciutan pelanggan dengan sendirinya akan mendorong terciptanya pelanggan yang loyal sekaligus high value costumer. Bukan pelanggan yang senang berpindah operator karena iming-iming bonus pulsa atau data. Ujung-ujungnya hal ini akan menyehatkan industri”, ujar Ririek, dalam satu kesempatan.

Dengan perubahan perilaku pelanggan dan model bisnis baru yang dikembangkan operator, Ririek pun optimis di tahun ini, industri selular akan mengalami pertumbuhan pendapatan di kisaran 4%—5%.

Pengguna Data

Tak dapat dipungkiri, pengguna data akan menjadi tumpuan pendapatan operator di masa depan. Tak hanya pasar consumer namun juga bisnis, sejalan dengan berkembangnya teknologi mobile broandband. Dari 3G, 4G, dan kelak 5G. Karenanya, agar kembali mencetak pertumbuhan positif, Telkomsel terus berupaya melakukan berbagai inovasi, baik produk maupun layanan.

Telkomsel juga fokus mengembangkan bisnis dan ekosistem digital. Hal bertujuan untuk memperluas jangkauan dari berbagai macam Layanan Digital yang dikembangkan Tekomsel.

Dengan dukungan Capex sebesar Rp 15 triliun, Telkomsel berupaya memperkuat basis pelanggan, terutama pelanggan data yang terus meningkat setiap tahunnya.

Diketahui, trafik data Telkomsel sepanjang 2018 meningkat 101,7% (YoY) menjadi 4.373.077 terabyte, terutama didorong oleh jumlah pelanggan data sebanyak 106,6 juta pelanggan atau 65,4% dari total pelanggan Telkomsel yang mencapai 163 juta pelanggan.

Telkomsel memang harus bergegas dalam mendorong pengguna data. Pasalnya, kontribusi layanan legacy (SMS dan voice) terhadap pendapatan tinggal 39%. Sedangkan kontribusi non-legacy atau layanan digital sudah mencapai 61%.

Sepanjang 2018, Telkomsel telah membangun 28.376  BTS baru yang seluruhnya berbasis 4G LTE. Hal itu memperluas jangkauan 4G LTE yang sudah mencapai lebih dari 90% populasi.

Hingga saat ini, BTS yang dimiliki Telkomsel mencapai 197.000. Dari jumlah tersebut, 65.000 diantaranya merupakan BTS 4G. Pada 2019, Telkomsel berencana membangun 20.000 BTS 4G, sehingga bisa menjangkau 93% populasi.

Outlook 2019

Program registrasi prabayar, memang membayang-bayangi kinerja semua operator. Hal itu tercermin dari menurunnya pendapatan sepanjang 2018. Meski demikian, bagi Telkomsel hal itu sesungguhnya hanya bersifat sementara.

Justru dengan adanya registrasi, bisa memberikan keuntungan tersendiri bagi Telkomsel. Karena selain kuantitas yang tetap besar, pelanggan hasil registrasi juga lebih berkualitas.

Hal ini berbeda dengan operator lainnya. Kebanyakan operator masih terus berjuang untuk mendapatkan pelanggan, baik dari perang harga maupun penjualan starter pack.

Dukungan coverage jaringan yang luas dan terbaik di Indonesia, juga membuat konsumen Telkomsel jauh lebih loyal dibandingkan operator lainnya. 

Penambahan jumlah BTS yang sangat pesat dibandingkan pesaing, membuat Telkomsel dapat mempertahankan jumlah pelanggan, sekaligus melayani lebih banyak lagi konsumen yang selama ini belum menikmati layanan telekomunikasi.

Sejauh ini resep sukses Telkomsel sesungguhnya tidak berubah, sejak perusahaan didirikan pertama kali pada 1993. Yakni, luas jangkauan, jaringan terbaik, layanan pelanggan yang andal, inovasi produk, dan tarif yang terjangkau.

Kelima parameter tersebut disesuaikan dengan dinamika pasar dan kebutuhan masyarakat yang terus berubah. Sejalan dengan berkembangnya teknologi selular, yang kini sudah memasuki era internet cepat.

Jika dukungan dana investasi, pasar dan teknologi bukan menjadi issue bagi Telkomsel, tantangan sesungguhnya lebih kepada perubahan regulasi, yang setiap saat bisa dilakukan oleh pemerintah.

Secara khusus, Telkomsel perlu mewaspadai regulasi yang cenderung menguntungkan pesaing, seperti rencana revisi aturan tarif interkoneksi dan network sharing yang diajukan oleh Kemenkominfo pada periode 2015 -2017.

Untuk tahun ini, isu merger dan akuisisi (M&A) mulai mengemuka. Kemekominfo terus mendorong agar operator bersedia berkonsolidasi agar industri lebih sehat. Surplus pemain hanya akan membuat sebagian operator, terutama operator semenjana, tetap berdarah-darah.

Namun persoalan penting dalam dalam isu ini adalah penguasaan frekwensi. Apakah dikembalikan terlebih dahulu sesuai UU Telekomunikasi 1999 atau langsung diberikan kepada operator yang bersedia melakukan akuisisi.

Nah, munculnya operator baru hasil merger dengan kepemilikan frekwensi yang bisa saja berlebih dibandingkan market leader, tentu menjadi ancaman yang bisa menggerus supremasi Telkomsel di masa depan.

Apalagi jika operator hasil merger tersebut, didukung oleh induk usaha yang bersedia melakukan investasi besar-besaran dalam hal jaringan, teknologi, pemasaran dan human capital.

Merger

Sebagai contoh, isu merger yang mengemuka saat ini adalah rencana peleburan Axiata Group Berhad Malaysia dengan Telenor ASA Norwegia. Kedua grup operator itu, tengah dalam penjajakan serius untuk menggabungkan operasi mereka di Asia. Tak tanggung-tanggung, kedua perusahaan berniat menciptakan salah satu raksasa telekomunikasi dunia, dengan sekitar 300 juta pelanggan yang beroperasi di sembilan negara.

Saat ini baik Axiata maupun Telenor beroperasi di Malaysia, Thailand, Myanmar, Bangladesh dan Pakistan. Axiata juga memiliki anak perusahaan di India, Sri Lanka, Nepal, Kamboja, dan Indonesia. Namun dalam pembicaraan merger, operasi di Bangladesh akan dikecualikan.

Jika merger itu terjadi, dengan sendirinya akan berdampak terhadap XL, yang merupakan anak perusahaan Axiata di Indonesia. Hal ini akan memberi dukungan kepada XL untuk bisa bersaing, mengejar ketertinggalan dari Telkomsel.

Apalagi saat ini, XL juga terbilang agresif membangun ribuan BTS 4G di luar Jawa, sebagai upaya memperkuat kualitas dan coverage jaringan, demi memperluas basis pengguna data.

Perluasan jaringan di luar Jawa, dengan sendirinya akan meningkatkan level kompetisi, dan memungkinkan XL menambah pundi-pundi pendapatan. Padahal, selama ini pendapatan Telkomsel cukup banyak dikontribusi oleh pelanggan di luar Jawa.

Di sisi lain, era disrupsi teknologi telah memberikan kesempatan kepada pemain-pemain non telko untuk menciptakan pasar baru yang tumbuh karena berubahnya kebiasaan masyarakat.

Pemain-pemain OTT (over the top) seperti GoJek, Grab, Traveloka, OVO, Tokopedia, Bukalapak dan lainnya, dengan cerdik memanfaatkan luas jaringan dan murahnya layanan data, untuk menciptakan model bisnis baru. Sejalan dengan tren ekonomi digital yang berkembang pesat dalam lima tahun terakhir.

Beberapa pemain bahkan mengekspansi pasar baru seperti e-money yang belakangan semakin popular, seperti GoPay dan OVO. Padahal, bisnis dompet digital, sebelumnya lekat dengan perbankan dan operator.

Telkomsel sendiri sejak lama telah memiliki layanan e-money, yakni T-Cash. Belakangan T-Cash dilebur menjadi LinkAja, sebagai upaya memperkuat sinergi BUMN sekaligus memperluas basis pengguna.

Tumbuhnya pemain-pemain baru yang yang jeli menggarap new business, telah menyadarkan operator seperti Telkomsel, bahwa pertumbuhan new business bisa menjadi ladang revenue baru ditengah menurunnya legacy business.

Namun untuk bisa memenangkan persaingan, diperlukan inovasi dan kolaborasi. Operator selular seperti Telkomsel , tak bisa lagi mengandalkan resources yang dimiliki. Umumnya new business tidak bisa dikerjakan sendiri. Operator perlu menjalin kemitraan dengan entitas bisnis lain.

Disinilah persoalan talent mengemuka. Karena model new business berbeda dengan legacy business (voice dan SMS), maka sangat penting bagi karyawan untuk merubah mindset dan budaya kerja. Dari sekedar efficiency dan service oriented ke arah creativity sesuai kebutuhan pelanggan di era broadband yang semakin dinamis.

Subscribe to Selular Newsletter

Dapatkan berita menarik seputar harga smartphone terbaru dan informasi telekomunikasi Indonesia.

Latest