Friday, June 21, 2019
Home News Feature Ini Tanggapan Lembaga Riset Soal Fraud, Grab Lebih Aman

Ini Tanggapan Lembaga Riset Soal Fraud, Grab Lebih Aman

-

Jakarta, Selular.ID – Aksi kecurangan (fraud) pada layanan transportasi online seperti Grab dan Gojek ibarat sel kanker yang sulit disembuhkan. Mulai dari fake GPS dan order fiktif kerap kali dilakukan driver Grab dan Gojek dalam melancarkan aksi kecurangan. Baru-baru ini sejumlah lembaga riset seperti Spire Research and Consulting dan INDEF merilis data tingkat fraud yang dilakukan oleh driver Grab dan Gojek.

Data Spire Research and Consulting menyebutkan bahwa sebanyak 30% dari order yang diterima Gojek terindikasi fraud. Tingkat fraud yang dilakukan Gojek cukup besar dibandingkan Grab. Tercatat, tingkat fraud yang dilakukan Grab hanya 5%.

Sementara data dari INDEF menunjukan bahwa 42% mitra pengemudi yakin bahwa di Gojek paling banyak terjadi order fiktif. Sekitar 28% mitra pengemudi mengatakan bahwa order fiktif lebih banyak terjadi di Grab.

Hasil riset yang dilakukan Spire Research and Consulting dan INDEF ini berdasarkan hasil riset mereka kepada para driver Grab dan Gojek serta temuan lainnya. Survei yang dilakukan Spire Research and Consulting dilakukan terhadap 40 pengemudi dan 280 konsumen atau pengguna yang dipilih secara acak dalam skala nasional.

Sedangkan survey yang dilakukan INDEF melibatkan 516 orang responden mitra pengemudi kendaraan baik roda dua dan roda empat dengan metode non-probability atau convinient sampling.

Dari data kedua tersebut dapat disimpulkan bahwa Gojek lebih banyak melakukan kecurangan. Terkait banyak terjadi kecurangan pada layanannya, Redaksi Selular.ID juga telah menghubungi pihak Gojek melalui pesan singkat. Pihak Gojek merasa data yang dirilis Spire Research and Consulting dan INDEF tidak valid.

“Menanggapi riset terkait dengan driver online, kami tidak mengetahui metode apa yang digunakan oleh lembaga riset terkait. Karena 40 sampel responden tidak dapat merepresentasikan jutaan driver online di Indonesia. Kami menghimbau agar lembaga riset dapat lebih berhati-hati dalam menyajikan data. Tujuannya agar tidak memberikan informasi menyesatkan yang dapat berdampak kepada jutaan mitra driver dan keluarganya yang mencari nafkah melalui aplikasi online,” ujar Kristy Nelwan, VP Corporate Communications melalui pesan singkat kepada Selular.ID.

Redaksi Selular.ID juga meminta tanggapan Grab Indonesia. Berbanding terbalik dengan Gojek, Grab justru merespon dengan baik hasil riset kedua lembaga riset tersebut.

“Hasil riset ini menarik untuk kami pelajari. Kami bekerja keras dan dapat mengatasi masalah kecurangan tersebut. Sejauh ini, Kami telah berhasil menurunkan tingkat kecurangan secara signifikan dari platform kami di Indonesia pada semester terakhir 2018 hingga di bawah 1 persen,” ungkap Juru Bicara Grab Indonesia melalui keterangan tertulisnya.

Menurut Grab Indonesia, platform mereka bebas dari kecurangan karena Grab memiliki GMV yang lebih bersih. (Gross Merchandise Volume atau GMV sendiri merupakan keseluruhan total penjualan serta volume transaksi melalui platform yang dimiliki perusahaan.

“Kami terus melakukan penyempurnaan agar segala bentuk kecurangan terhadap sistem kami dapat dieliminasi. Grab merupakan platform penyedia layanan transportasi on-demand pertama yang mengambil sikap tegas terhadap order fiktif (ofik). Program ini adalah bagian dari komitmen Grab untuk menyediakan platform transportasi teraman bagi para mitra pengemudi dan penumpang,” jelas Grab.

Sejauh ini Grab sudah melakukan sejumlah upaya dan fitur yang mampu mengeliminasi tindak kecurangan di sistem Grab seperti teknologi machine learning dan artifical inteligence, analisis data dan model statistik, fitur anti tuyul, fitur otentikasi mitra pengemudi, dan validasi manual.

Sebagai inisiatif untuk memerangi ofik ini, Grab terus memperkuat program Grab Lawan Opik dengan Aparat Kepolisian. Dalam program ini, Grab telah berhasil menangkap sindikat dan mitra pengemudi yang telah terbukti melakukan kecurangan di beberapa kota, seperti Jakarta, Makassar, Semarang, Surabaya, dan Medan. Gabungan program dan fitur ini terbukti telah mengurangi tindak kecurangan hingga 80 persen.

Selain itu, Grab memiliki fitur Anti Tuyul yang diluncurkan pada Agustus 2018 lalu. Fitur Anti Tuyul ini memungkinkan Grab memblokir mitra pengemudi yang memiliki aplikasi fake GPS atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuyul. Untuk mendapatkan kembali akses terhadap akunnya, mitra pengemudi harus menghapus seluruh apliksi fake GPS yang dimilikinya.

Sementara untuk layanan GrabCar, ada pula fitur driver selfie authentication. Melalui fitur ini, mitra pengemudi diwajibkan mengambil dan mengunggah foto selfie dirinya sebelum memulai atau meneruskan perjalanan. Cara ini dilakukan untuk memastikan hanya pengemudi terverifikasi yang memakai akun tersebut.

Terkait hasil riset Spire Research and Consulting dan INDEF, Redaksi Selular.ID juga meminta tanggapan dari Spire Research and Consulting dan INDEF.

Spire Research and Consulting

“Kami tetap pada hasil temuan kami. Karena ini terkait dengan temuan kami langsung di lapangan,” ucap Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, Jeffrey Bahar melalui pesan singkat kepada Selular.ID.

Disampaikan Jeffrey, metode riset yang digunakan ada 3 yakni melalui internal dan external source Spire (company contact, industry source, etc).

“Metode ini digunakan untuk mendapatkan informasi yang kami gunakan dalam melakukan estimasi data fraud %, face to face qualitative research kepada driver Gojek dan Grab untuk mencari tahu pengalaman driver dan cara-cara fraud yang lazim dilakukan, serta quantitative survey kepada penumpang untuk mencari tahu alasan dan kebiasaan seputar penggunaan transportasi online,” tandas Jeffrey.

Jeffrey mengatakan bahwa tingkat fraud untuk kedua aplikasi menurun dibandingkan 2017 karena keduanya aktif melakukan perbaikan untuk hal ini.

“Dibandingkan 2018, di tahun 2017 tingkat fraud Grab juga lebih rendah dari Gojek,” terang Jeffrey.

INDEF

Hal serupa juga disampaikan oleh Berly Martawardaya, Direktur Program INDEF.

“INDEF melakukan survey ke lebih dari 300 driver motor dan lebih dari 300 driver mobil. Metode yang kami gunakan melalui survey lapangan purposive non random,” imbuh Berly.

Diungkapkan Berly, selisih tingkat fraud dari Gojek dan Grab selama 2017 dan 2018 tipis.

“Kami harus cek lagi datanya untuk mengetahui jumlah selisihnya. Survey baru diselenggarakan sekali sehingga tidak ada pembanding lintas tahun,” imbuh Berly.

Untuk menguji kevalidan hasil riset kedua lembaga tersebut, Redaksi Selular.ID meminta tanggapan dari lembaga riset juga yakni Frontier.

Frontier

“Melihat hasil riset dua lembaga tadi hasilnya cukup berbeda jauh. Artinya error masih cukup besar. Error ini bisa dipengaruhi oleh jumlah sampel, atau cara pengambilan sampel yang berbeda dari dua lembaga tersebut. Tetapi kalau melihat hasilnya, bisa disimpulkan Gojek lebih tinggi dari grab untuk tingkat fraudnya,” pungkas Research Director Frontier Group, Apipudin.

Dari tanggapan ketiga lembaga riset tersebut, jelas menunjukan bahwa tingkat kecurangan Gojek lebih banyak dibandingkan Grab. Redaksi Selular.ID juga menanyakan progress penanganan fraud yang dilakukan Grab dan Gojek.

Grab dan Gojek pun sudah memaparkan pencapaiannya dalam menangani kasus fraud. Hasilnya, terbukti Grab lebih sedikit terjadi fraud daripada Gojek selama 2017 dan 2018.

Latest