Jakarta, Selular.ID – Kerasnya persaingan telah mengubah peta bisnis ponsel. Meski masih menjadi market leader, namun agresifitas vendor-vendor China di berbagai segmen pasar, membuat Samsung kini tak lagi dominan. Imbasnya, pendapatan Samsung dari bisnis ponsel merosot.

Tercatat, sepanjang Q3-2018, bisnis Ponsel Samsung hanya menghasilkan pendapatan sebesar KRW24 triliun (US$ 21,1 miliar), turun 12 persen tahun ke tahun. Ini adalah penurunan berturut-turut dalam tiga kwartal terakhir. Perusahaan mengatakan penurunan itu sebagian besar disebabkan oleh persaingan yang semakin ketat dengan vendor lainnya.

BACA JUGA:
Babak Baru Pertarungan Samsung Vs Xiaomi

VP Mobile Communications Samsung Kyeong Tae Lee, mencatat penjualan perangkat juga dipengaruhi oleh penghentian beberapa model. Sedangkan laba menurun karena “nilai tukar mata uang asing yang tidak menguntungkan” di beberapa wilayah. Di sisi lain, biaya promosi untuk sejumlah varian premium, seperti Galaxy Note 9, juga terus membengkak sehingga menekan pendapatan divisi mobile.

Melihat lebih jauh ke depan, Lee mengatakan diversifikasi line up di segmen premium, akan dilakukan Samsung melalui beragam inovasi, termasuk kompatibilitas 5G dan ponsel lipat yang diprediksi akan menjadi tren pada tahun depan.

BACA JUGA:
Samsung Buka Toko Online Sendiri

Hal itu diyakini akan meningkatkan permintaan sekaligus menempatkan Samsung di posisi terdepan dalam persaingan dengan Apple dan Huawei. Di sisi lain, Samsung akan memasukkan fitur high-end di handset yang lebih rendah, guna menjaga market share.

Meski pendapatan dari bisnis ponsel menunjukkan, namun Divisi Komunikasi dan IT Samsung Samsung menghasilkan laba sebelum pajak sebesar KRW2,2 triliun, naik 1 persen tahun ke tahun.

BACA JUGA:
Canalys Q3 2018: Pasar Smartphone Asia Tenggara Turun, Indonesia Tumbuh

Laba bersih dilaporkan berdasarkan skala perusahaan, termasuk banyak divisi elektronik konsumen dan bisnis lainnya, mencapai KRW13 triliun, naik 20 persen tahun ke tahun.

Berbeda dengan Samsung, vendor terdekat kedua Huawei, justru semakin berotot. Tercatat, sepanjang semester pertama 2018, Huawei membukukan penjualan kotor 325,7 miliar yuan. Meningkat sebesar 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka-angka juga termasuk margin laba operasi 14%.