Jakarta, Selular.ID – Dengan begitu banyaknya pemain, pertarungan antar vendor smartphone di Tanah Air tak akan pernah surut. Semua berusaha memperebutkan sebanyak-banyaknya market share sebagai salah satu indikator dalam memenangkan persaingan. Sayangnya upaya merebut ceruk pasar seringkali tak sejalan dengan target yang sudah dicanangkan.

Salah satu vendor yang kini terlihat kedodoran dalam upaya mempertahankan pangsa pasar yang sudah diraih adalah Lenovo Group. Brand asal China itu terbilang sudah cukup lama absen memperkenalkan produk baru.

Tak tanggung-tanggung, aktifitas pemasaran dan publikasi terakhir yang dilakukan di depan awak media adalah pada akhir tahun lalu. Di depan awak media, saat itu perusahaan berencana memperkenalkan varian G Series di kuartal pertama 2018.

Baca juga: Ada Apa Dengan Lenovo Motorola?

Namun, hingga sepanjang semester pertama 2018, tak ada satu pun produk baru yang diluncurkan secara resmi ke pasar oleh Lenovo Group. Termasuk varian G Series yang dijanjikan itu. Hal ini sangat berbeda dengan para pesaing, yang rata-rata sudah meluncurkan rata-rata empat hingga enam seri smartphone terbaru.

Sepinya aktifitas publikasi Lenovo berbanding terbalik dengan para pesaingnya. Bahkan merek-merek baru yang masih terbilang seumur jagung, seperti Honor dan Gionee, terlihat agresif dengan menggelontorkan banyak produk di berbagai segmen.

Honor diketahui telah resmi memperkenalkan Honor 9 Lite, Honor 7X, Honor 7A, dan Honor 7s. Perusahaan juga bersiap memperkenalkan varian terbaru, yakni Honor 10 pada akhir Juli 2018.

Begitu pun dengan Gionee. Vendor yang menunjuk Cinta Laura sebagai brand ambassador ini, diketahui sudah menjajakan sejumlah varian, seperti F205, M7 Power, S11 Lite, X1, P8M, S10 Lite, dan yang teranyar Gionee F205.
Tak adanya produk baru dan sepinya aktifitas pemasaran, tentu sangat disayangkan. Karena hal itu bisa berdampak negatif terhadap brand awareness Lenovo yang sebelumnya sudah terbangun cukup baik.

Di sisi lain, konsumen yang sudah loyal dengan smartphone Lenovo tentu akan kecewa karena produk yang dijanjikan tak juga nongol di pasar. Sehingga banyak yang memutuskan untuk berpindah ke “lain hati”.

Baca juga: 2017 Bukan Tahun Terbaik Lenovo

Faktanya, market share Lenovo Group kini sudah terjun bebas. Lenovo tak lagi berada dalam posisi lima besar merek smartphone di Indonesia. Berdasarkan laporan IDC per kuartal ketiga 2017, lima besar merek teratas adalah Samsung, Oppo, Advan, Vivo dan Xiaomi.

Sementara pada kuartal keempat 2017, terdapat sedikit perubahan. Tiga besar teratas masih tetap, namun posisi empat dan lima terjadi pergeseran. Asus kembali masuk dan Vivo tergelincir ke posisi lima. Xiaomi, vendor asal China yang sarat dengan kontroversi, bahkan tak lagi menghuni peringkat lima.

Padahal, sepanjang 2015 dan 2016, pencapaian Lenovo terlihat cukup istimewa. Riset IDC mengungkapkan, Lenovo mampu mengamankan posisi di lima besar produsen smartphone selama dua periode itu berturut-turut. Ini adalah pencapaian yang terbilang membanggakan, mengingat brand ini sebelumnya lebih dikenal sebagai produsen PC dan note book, bukan smartphone.

Sukses tersebut bahkan menjadi penyemangat bagi manajemen Lenovo untuk terus mengejar posisi puncak yang masih dikuasai oleh Samsung. Tak urung Augustin Becquet, Executive Director of Asean, Lenovo Mobile Business Group and Motorola Mobility, bertekad untuk menjadikan Lenovo sebagai pemain kunci di Indonesia.

“Kehadiran kembali Motorola sejak akhir 2016, menunjukkan Indonesia adalah pasar yang sangat strategis. Kami fokus untuk terus menghadirkan produk yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Pada akhirnya dalam beberapa tahun ke depan, target kami bisa mencapai tiga besar di Indonesia”, papar Augustin, saat lunch break dengan awak media, pasca peluncuran varian teratas, Moto Z2 Play di Bangkok, Rabu (5/7/2017)..

Brand Jadul

Tak dapat dipungkiri, kegagalan Lenovo mempertahankan pangsa pasar yang sudah diraih secara susah payah, salah satunya karena terburu-burunya perusahaan dalam pemanfaatan brand.

Kita ketahui, pasca akusisi terhadap Motorola pada 2015, Lenovo Group sebelumnya masih menggunakan strategi dual brand untuk menjangkau konsumen yang berbeda.

Produk-produk Lenovo dikhususkan untuk pasar menengah bawah, sedangkan Motorola untuk kelas menengah atas. Strategi itu sebenarnya cukup efektif dalam memperbesar volume penjualan.

Namun dalam perkembangannya, terdapat perubahan strategi yang diusung Lenovo Group. Selain lebih banyak membidik segmen menengah (mid end), perusahaan lebih cenderung memperkuat pasar dengan strategi single brand, yakni Motorola.

Meski merek Lenovo masih popular di kalangan konsumen, namun perusahaan melihat brand Motorola sudah sangat ikonik. Dengan kembali mempopulerkan Motorola, masyarakat Indonesia dapat menikmati smartphone yang lebih dari sekedar price performance.

Faktanya, keputusan menggunakan merek Motorola tak sepenuhnya mampu mengatrol posisi Lenovo Motorola Group. Harus diakui, dengan awareness yang terbilang masih kuat, kebanyakan pembeli memilih Motorola karena sudah mengenal brand ini sebelumnya.

Namun tumbuhnya generasi milenial, menjadikan merek Motorola, menjadi terkesan jadul. Hanya cocok untuk segmen tua-tua. Segmen yang tentu saja akan terus menyusut di makan jaman.

Hal yang sama juga berlaku untuk merek-merek lawas lain yang mencoba bangkit, seperti Nokia, Alcatel, Philips, bahkan Blackberry yang hingga kini masih harus berjuang untuk memperoleh konsumen di kalangan muda.

Baca juga: Brand-Brand Lawas Masih Harus Bekerja Ekstra Keras

Di sisi lain, agresifitas vendor-vendor baru justru terbilang mencengangkan. Pasalnya, demi memperoleh market share, pemain-pemain seperti Oppo dan Vivo tak segan menggelontorkan dana promosi yang gila-gilaan. Lengkap dengan penggunaan brand ambassador, ribuan armada promotor, serta insentif menarik bagi toko yang menjadi mitra penjualan.

Harus diakui, pasar kini sudah berubah drastis. Merek-merek baru dengan cepat mengisi ceruk pasar dengan positioningnya yang semakin kuat menancap di benak konsumen.

Itulah pertempuran yang terjadi saat ini di medan persaingan smartphone. Untuk bisa memenangkan persaingan, vendor dituntut menciptakan beragam inovasi teknologi yang dibarengi dengan kreatifitas pemasaran, sehingga terciptanya reputasi merek di benak konsumen.

Dengan kondisi tersebut, ketimbang menggunakan Motorola, selayaknya merek Lenovo lebih dikedepankan kembali oleh manajemen Lenovo Group. Bagaimana pun, persepsi konsumen Indonesia terhadap merek Lenovo masih jauh lebih baik jika dibandingkan merek Motorola yang sudah dikesan jadul.

Mungkin merek Motorola sangat kuat di Eropa atau di kawasan Amerika Utara. Namun, seperti halnya konsumen di wilayah Asia Pasifik, karakteristik konsumen Indonesia cenderung lebih memilih Lenovo ketimbang Motorola.

So, tak ada salahnya jika manajemen Lenovo Group kembali memanfaatkan Lenovo sebagai merek smartphone. Sesuatu yang sejatinya sudah teruji ketimbang menggunakan Motorola yang malah dikesan jadul oleh kalangan milenial. Padahal kelompok muda ini adalah konsumen potensial sekaligus pasar terbesar di masa datang.