Sunday, July 12, 2020
Home News FinTech Prediksi Pertumbuhan Mobile Payments di Indonesia

Prediksi Pertumbuhan Mobile Payments di Indonesia

-

Fintech
Jakarta, Selular.ID – Tingkat penetrasi smartphone di Asia Pasifik adalah yang tertinggi di dunia. Kebijakan yang konsisten dari pemerintah lokal untuk memajukan dan melahirkan cashless society (masyarakat nirkas) telah memberikan manfaat kepada pasar mobile payments (pembayaran bergerak) di wilayah ini.

Perusahaan konsultan bisnis global, Frost & Sullivan, telah selesai menjalankan sebuah riset yang berjudul “Pembayaran Bergerak: Pendorong Utama untuk Masyarakat Nir-Kas” dan mengungkapkan beberapa temuan.

Mei Lee Quah, Digital Transformation Practice, Frost & Sullivan, mengungkapkan bahwa pasar mobile payments di kawasan Asia Pasifik saat ini dipimpin negara Jepang, Korea Selatan, Australia, Singapura dan China.

Tekanan kebijakan untuk penciptaan masyarakat cashless (nirkas) di seluruh Asia Pasifik akan membantu membentuk pasar sebesar $71.9 miliar (total pembayaran bergerak tidak termasuk Cina dan India) akan bertumbuh mencapai $271.5 miliar pada tahun 2021, dan konsumen aktif akan berlipat ganda mencapai 130 juta pengguna.

Pasar di China sendiri akan bertumbuh mencapai USD$1.4 triliun pada tahun 2021. Dorongan regulasi, standarisasi dan ketersediaan infrastruktur pembayaran yang tersedia dimana-mana dan solusi pembayaran yang komprehensif serta perilaku konsumen lokal berperan dalam menentukan kecepatan transisi sebuah negara untuk mencapai 100% nirkas.

Di Indonesia, Frost & Sullivan memprediksi pertumbuhan signifikan bagi keuntungan pasar sampai dengan 6 kali lipat untuk pembayaran bergerak. Keuntungan total pada tahun 2015 adalah sebesar USD$0.57 miliar dan akan berkembang mencapai USD$3.01 miliar pada tahun 2021. Jumlah pengguna aktif juga diprediksi akan bertambah dari 6,1 juta pengguna aktif pada 2015 akan bertambah melebihi 20,8 juta pengguna aktif di tahun 2021.

Meski mendapat keuntungan dari dorongan kebijakan regulasi, menurut Mei Lee Quah, tingkat penggunaan yang lambat, terutama pada tahap awal disebabkan oleh kurangnya penggunaan ponsel pintar sebagai perangkat akhir. Ini termasuk kurangnya antarmuka pengguna dan standardisasi arus pembayaran, kebutuhan akan fitur keamanan tambahan seperti otentikasi biometrik, resolusi efektif tentang isu privasi data dan, yang terpenting, ponsel pintar yang tidak memiliki kemiripan dengan dompet fisik.

Kehadiran e-wallets secara lokal yang dibangun dengan standar keamanan yang berbeda dengan aplikasi e-wallets global pihak ketiga yang sudah tersedia menambah kebingungan lebih lanjut. Usaha yang lebih harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen untuk memperlancar pertumbuhan pembayaran bergerak.

Latest