Belanja Iklan Digital Akan Lampaui Konvensional

IMG_20171016_160153
Jakarta, Selular.ID – Belanja iklan digital diprediksi akan melampaui belanja iklan konvensional (TV dan print) dalam empat tahun mendatang.

Hal itu diungkap oleh Jayesh Easwaramony, VP & GM, Asia Pacific, Middle East and Africa, InMobi. Jayesh mengungkapkan bahwa dibutuhkan penetrasi smartphone dan kreator konten yang banyak untuk merealisasikannya.

“Di Indonesia, TV masih sangat popular (untuk pengiklan) karena jangkauannya yang luas. Sementara penetrasi smartphone masih sekitar 110 juta pengguna. Mungkin akan butuh waktu 3 atau 4 tahun lagi untuk bisa sampai angka 200 juta pengguna. Serta, konten juga butuh tumbuh. Makanya butuh waktu empat tahun untuk iklan digital melampaui iklan TV,” kata Jayesh usai memaparkan presentasinya di MMA Forum di Jakarta (12/10/2017).

Prediksi serupa diamini oleh
Harris Wijaya, VP Digital Advertising and Analytics Telkomsel. Di sela-sela MMA Forum pekan lalu, Harris mengatakan bahwa perusahaannya telah melakukan riset internal.

“Berdasarkan riset yang pernah kami lakukan, untuk tahun 2018, potensi pasar digital ad ada sekitar Rp 20-an triliun. Tapi itu untuk semua. Saat ini kita ada di angka Rp5-6 triliun. Tapi mostly ada di display,” papar Harris.

Menariknya, lanjut Harris, iklan TV memang masih besar, tapi pertumbuhannya melandai cenderung menurun. Untuk iklan digital terutama di mobile dan khususnya display (gambar dan video) itu pertumbuhannya naik. Di Telkomsel sendiri pertumbuhannya stabil di angka lebih dari 50 persen dalam tiga tahun terakhir.

Dalam 2 atau 3 tahun mendatang, Jayesh memprediksi potensi nilai iklan digital Indonesia akan mencapai USD1 miliar atau setara Rp13,5 triliun.

“China adalah negara dengan belanja iklan digital tertinggi di dunia. Sudah lebih dari 50 persen. Di Indonesia, TV masih memegang 70-80 persen dari total belanja iklan di Indonesia, digital sekitar 15 persen. Mayoritas iklan video. Tahun 2021 Indonesia mungkin bisa seperti China,” pungkas Jayesh.