Saturday, August 24, 2019
Home News Feature 2G Disayang, 2G (Jangan) Dibuang

2G Disayang, 2G (Jangan) Dibuang

-

2G 5GJakarta, Selular.ID – Sejak pertama diluncurkan secara komersial sesuai standar GSM oleh operator telekomunikasi Radiolinja (sekarang bagian dari Elisa) pada 1991 di Finlandia, jaringan 2G kemudian menyebar ke seluruh dunia. Meluasnya 2G menjadi penanda kemajuan industri selular, sekaligus mendorong terjadinya revolusi digital lebih dari tiga dekade kemudian.

Namun, seiring dengan implementasi 4G dan kelak 5G, sejumlah operator di berbagai belahan dunia, mulai merampingkan operasi dengan dengan menghentikan layanan 2G.

Pada awal Juli 2017, Taiwan bergabung dalam daftar pasar negara berkembang di mana operator selular menghentikan layanan 2G mereka.

The China Post melaporkan bahwa, meskipun tersisa 90.000 pelanggan (0,3 persen dari 31 juta koneksi mobile), tiga operator setempat, yakni Chunghwa Telecom, Taiwan Mobile dan Far EasTone, telah resmi menghentikan layanan di jaringan 2G mereka, kecuali untuk panggilan darurat.

Pada Desember 2016, operator selular terbesar Australia Telstra menutup jaringan 2G, yang beroperasi lebih dari 23 tahun. Sebelumnya, pesaing terdekat Optus (dimiliki oleh Singtel) lebih dulu berhenti menawarkan layanan 2G pada awal April. Sementara Vodafone Australia berencana untuk menghentikan jaringan GSM warisannya pada akhir 2017.

Tiga operator selular di Singapura, SingTel, StarHub dan M2, juga telah menutup jaringan 2G mereka pada pertengahan April 2017, setelah proses peralihan yang terbilang singkat, tiga minggu saja.

NTT Docomo Jepang adalah operator pertama yang mematikan 2G pada 2011. Para pemain Jepang lainnya dengan cepat mengikuti pemimpin pasar. Meski begitu, SoftBank, operator terbesar ketiga di negeri sakura itu, masih mempertahankan 3 juta pengguna telepon genggam pribadi atau PHS (2G) sejak mengakuisisi Willcom pada 2010.

Operator di Korea Selatan pun menyusul langkah yang dilakukan operator Jepang, setelah meluncurkan LTE. Korea Telecom (KT), operator terbesar kedua, memimpin pada awal 2012.

Pada Q1 2017 LG Uplus, pemain peringkat ketiga Korea Selatan, diam-diam memindahkan pengguna 3G terakhir ke 4G. LG Uplus adalah satu dari sedikit operator di dunia yang memiliki 100 persen pelanggannya di jaringan LTE.

Diketahui, pengguna 3G mewakili 17 persen dari total pelanggan selular di Korea Selatan, dengan 4G menyumbang 82 persen total koneksi.

Siapa Berikutnya?

Melihat postur pelanggan di seluruh Asia Pasifik, terutama 4G yang jumlahnya terus meningkat pesat, Thailand dipastikan berada di puncak kandidat. Dengan hanya 1,3 juta pelanggan 2G atau 1,4 persen dari 95 juta koneksi mobile, operator di negeri Gajah Putih itu berpeluang menutup layanan 2G lebih cepat.

Menurut catatan GSMA Intelligence, pemimpin pasar Thailand, AIS mengakuisisi pengguna 2G terakhirnya ke jaringan lain (termasuk saingan terdekat Dtac) tahun lalu setelah spektrum 900MHz diluncurkan untuk 4G. Dtac diketahui memiliki sekitar 800.000 pengguna 2G. Sedangkan TOT, operator milik negara, mempunyai hampir 500.000 pengguna 2G.

Selandia Baru masih memiliki 900.000 pelanggan 2G, 17 persen dari total koneksi. Sementara pemain nomor dua Spark (sebelumnya Telecom New Zealand) berhenti menawarkan layanan 2G pada akhir 2012, Vodafone dan 2degrees masing-masing memiliki hampir setengah juta pengguna 2G.

Hong Kong menghitung sekitar 3 juta pengguna 2G (23 persen dari total koneksi), setengahnya ada di China Mobile Hong Kong, yang tidak memiliki jaringan 3G. Hampir satu dari enam pelanggan CSL, yang merupakan pemimpin pasar di Hong Kong berada di 2G.

Di China, pasar ponsel terbesar di dunia, 2G masih memiliki umur panjang meski serapan 4G terbilang sangat cepat. Pengguna 2G menyumbang 20 persen koneksi mobile, dibandingkan 15 persen untuk 3G.

Kesenjangan itu bahkan lebih luas lagi di China Mobile, yang memiliki hampir 4 kali lipat 2G sebagai pelanggan 3G (289 juta dan 74 juta). GSMA memprediksi pelanggan 2G di China masih akan menyumbang 15 persen dari total koneksi pada akhir 2019.

Namun pada saat itu, basis pengguna 3G diproyeksikan turun menjadi hanya 2,5 persen dari totalnya. Jadi hanya ada sedikit keraguan bahwa jaringan 2G akan berjalan lama setelah jaringan 3G dimatikan.

Sementara India menghitung 844 juta pengguna 2G (72 persen dari total). Negeri Hindustan ini memiliki 195 juta pelanggan 3G (17 persen dari total) dan 130 juta pelanggan 4G (11 persen).

Bagaimana Dengan Indonesia?

Di Tanah Air, perdebatan apakah layanan 2G masih layak digunakan atau sebaiknya dimatikan, sejatinya sudah mengemuka sejak awal 2017. Tak tanggung-tanggung, usulan agar teknologi selular generasi kedua itu, tak lagi digunakan operator Indonesia, disuarakan langsung oleh Menkominfo Rudiantara.

Menteri yang akrab dipanggil Chief RA itu, mengatakan korban dari hadirnya 4G di Indonesia adalah 2G. Ia bahkan meminta layanan 2G dihapus demi kelancaran dan efisiensi industri teknologi.

“Perlu diingat ya, bukan saya anti jaringan 2G. Tapi saya lebih kearah pro efisiensi industri telekomunikasi di Indonesia”, kata Rudiantara dalam sebuah forum di Jakarta (25/04/2017).

Sejalan dengan imbauan dari Rudiantara, Tri Hutchsinson Vice President Director Tri Hutchsinson Indonesia (Tri), Danny Buldansyah mengatakan perusahaan berniat mematikan jaringan 2G mereka. Rencana tersebut akan mulai dilakukan pada 2017.

“Kita akan jadi yang pertama mematikan 2G, karena penggunanya di jaringan kami sudah sangat sedikit,” ujarnya di sela-sela peluncuran Enjoy Tri, di Jakarta (24/1/2017).

Saat ini total pengguna Tri tercatat 56,8 juta orang. Dari total pengguna tersebut, hanya sekitar 10 persen saja yang masih memakai jaringan 2G. Sementara sisanya sudah menggunakan smartphone yang dapat terhubung ke 3G atau 4G.

Berbeda dengan Tri, tiga operator besar masing-masing Indosat Ooredoo, XL Axiata dan Telkomsel, berkukuh untuk tetap mengoperasikan layanan 2G. Alih-alih mematikan 2G, the big three kemungkinan lebih memilih menutup 3G.

Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini mengatakan bahwa mempertahankan 2G jauh lebih baik daripada 3G. Kelak 2G hanya dikhususkan untuk basic service, yakni pesan dan telepon saja, sedangkan data dialihkan ke 4G.

Menurutnya, 3G adalah teknologi yang ‘banci’ sekaligus ‘nanggung’. Karena 3G sendiri memiliki kualitas suara telepon yang buruk dan kecepatan yang kurang afdol. Apalagi ketika 5G telah dikomersilkan, 3G dipastikan makin tidak berguna.

Senada dengan Dian, CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli mengatakan bahwa 3G tidak lebih baik untuk layanan suara ketimbang 2G. Alex yang akan paripurna dari Indosat Ooredoo pada akhir Oktober 2017, menyarankan kepada pemerintah untuk lebih baik mematikan 3G jika tujuan akhirnya berupa efisiensi.

Seperti halnya XL dan Indosat Ooredoo, Telkomsel juga tak ingin terburu-buru meninggalkan 2G. Apalagi mayoritas pelanggannya adalah 2G (65% dari 187 pelanggan per September 2017).

Untuk mencari tahu lebih banyak sikap Telkomsel dalam polemik 2G, belum lama ini saya menanyakan langsung kepada Dirut Telkomsel Ririek Adriansyah.

Ririek tak menampik bahwa tren ke depan layanan data akan menjadi revenue stream baru. Layanan dasar seperti voice dan SMS memang akan terus menurun. Namun tidak sepenuhnya akan hilang.

“Di negara-negara yang sudah established sekali pun, voice masih dipertahankan. Bahkan di beberapa negara lebih memilih mematikan 3G dibandingkan 2G. Jadi mereka lebih memilih 2G dan 4G. Teknologi 3G lebih susah di-manage karena mudah shrinking”, ujar Ririek.

Ririek menyebutkan, tren penghentian layanan di sejumlah negara tidak bisa dijadikan ukuran untuk mematikan 2G. Di Singapura misalnya, penetrasi smartphone tinggi namun wilayahnya tidak terlalu luas.

“Kecuali ada yang ingin kasih smartphone gratis. Kalau pun mencari pembanding harus setara. Kondisi geografis, perilaku masyarakat, profile pengguna ponsel nya seperti apa. Bahkan di Jakarta saja masih banyak pengguna 2G. Penetrasi pengguna smartphone di Ibu Kota belum 100%. Paling tinggi baru 80%”, papar Ririek.

Alih-alih memperdebatkan 2G atau 3G, pihaknya lebih mempercepat upaya transformasi yang tengah dijalankan Telkomsel. Yakni, dari telco company ke digital telco company sesuai dengan trend dan pergeseran pengguna yang lebih banyak memanfaatkan layanan data, dalam menunjang aktifitas komunikasi sehari-hari.

Latest