Saturday, October 19, 2019
Home News Feature Mengulik Jatuh Bangun Telkom di Bisnis Satelit

Mengulik Jatuh Bangun Telkom di Bisnis Satelit

-

IMG-20170830-WA0005Jakarta, Selular.ID – Tiga bulan setelah ditunjuk menjadi Direktur Utama Telkom, Arief Yahya (kini Menteri Pariwisata RI) mendapat kado yang tak mengenakan. Satelit Telkom 3 yang diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, pada Senin (6/8/2012) malam dinyatakan hilang beberapa jam sebelum mencapai orbit.

Badan Antariksa Federal Rusia, Roscosmos, mengungkapkan bahwa Satelit Telkom 3 dan Express MD2 yang diluncurkan menggunakan roket proton dengan pendorong Briz M tidak terdeteksi di orbit transisi. Praktis kedua satelit itu tidak berhasil mencapai orbit yang diperhitungkan.

Sebelum gagal mencapai orbit, peluncuran Telkom 3 mengalami beberapa kali penundaan. Semula satelit telekomunikasi itu akan mengorbit pada pertengahan tahun 2011 lalu diundur dan dijadwalkan kembali pada awal Juni 2012. Namun baru diluncurkan pada 7 Agustus 2012.

Sayangnya, setelah tiga kali mengalami penundaan, peluncuran Telkom 3 malah diluar ekpektasi. Ini adalah kali pertama Telkom gagal mengorbitkan satelit setelah berkiprah di bisnis ini pada 1976.

Kegagalan itu jelas membuat Telkom menelan banyak kerugian. Tentu saja, kerugian terbesar yang dialami Telkom bukan semata finansial, tapi hilangnya kesempatan terbaik (golden opportunity), mengingat bisnis penyewaan transponder sedang naik daun.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat membutuhkan jasa satelit untuk meningkatkan kualitas jaringan komunikasi agar merata ke seluruh pelosok Nusantara. Sayangnya, kebutuhan transponder satelit yang terus meningkat ternyata tak diimbangi dengan pasokan yang mencukupi.

Dari total kebutuhan sekitar 300 transponder, hanya 132 buah yang dapat dipenuhi dari dalam negeri. Sedangkan sisanya terpaksa harus menyewa ke pihak asing.

Tak ingin larut dalam kegagalan, Telkom segera mempersiapkan peluncuran Satelit Telkom 3S yang merupakan pengganti dari Telkom 3. Kali ini beban berat berpindah ke Alex J. Sinaga. Sebagai pengganti Arief Yahya, Alex yang memimpin Telkom sejak Desember 2014, tentu harus memastikan peluncuran satelit Telkom 3S sesuai dengan rencana.

Untuk menghindari potensi kegagalan, Telkom lebih memilih Thales Alenia Space. Perusahaan asal Prancis yang telah berkiprah selama lebih dari 40 tahun di bidang manufaktur teknologi luar angkasa itu, ditunjuk Telkom pada 2014 untuk mendesain, menguji, dan meluncurkan satelit Telkom 3S.

Pada akhirnya, setelah tiga tahun masa persiapan, Telkom sukses meluncurkan satelit Telkom 3S pada Selasa, 14 Februari 2017 pukul 18.39, waktu Guyana, Amerika Selatan atau Rabu pagi WIB, 15 Februari 2017.

Satelit dengan investasi senilai Rp 3 triliun itu diluncurkan seiring target perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada satelit asing. Satelit Telkom 3S juga secara pelan-pelan  akan menggantikan Satelit Telkom 2 yang habis masanya pada 2020. Dari sisi bisnis, memiliki satelit bagi Telkom lebih menguntungkan ketimbang membangun jaringan kabel optik di darat untuk mengembangkan bisnis internet.

Telkom 3S yang akan dipakai hingga 18 tahun ke depan bisa menjangkau seluruh Indonesia dan sebagian Asia Tenggara. Terdiri dari 24C-band transponders, 8 extended C-band transponders dan 10 Ku-band transponder. Seluruh bandwidth yang disediakan Telkom 3S dapat ditangkap merata di seluruh Indonesia dan powernya besar. 

Keberhasilan mengorbitkan Telkom 3S, tentu menjadi kredit tersendiri. Hal ini juga menyelamatkan muka jajaran BOD Telkom yang sebelumnya dihantui kegagalan peluncuran Telkom 3. Selain pujian kepada para punggawa Telkom, Alex Sinaga juga memberikan sanjungan setinggi langit bagi para mitra.

“Untuk Ariane Space dan Thales Alenia Space, fantastis. Beban berat di pundak saya sudah berkurang karena kalian. Terima kasih atas kolaborasinya, terima kasih atas pekerjaan yang fantastis ini. Bagi Telkom Indonesia, satelit Telkom 3S ini merupakan milestone  yang memperkuat komitmen kami untuk membangun digital society di Indonesia” kata Alex beberapa saat setelah suksesnya peluncuran.

Dengan mengorbitnya Telkom 3S, sepanjang 40 tahun kiprahnya di bisnis ini, PT Telkom telah sukses meluncurkan sembilan buah satelit. Masing-masing Palapa A1 (1976), Palapa A2 (1977), Palapa B1 (1983), Palapa B2P (1987), Palapa B2R (1990), Palapa B4 (2005), Telkom 1 (1999), Telkom 2 (2005), dan teranyar Telkom 3S (2017).

Telkom 4

Sukses peluncuran Telkom 3S pun menambah semangat Telkom untuk terus menancapkan dominasi di bisnis satelit yang semakin kompetitif.

Perusahaan telekomunikasi pelat merah itu, bergegas mempercepat pembangunan Satelit Telkom 4 yang yang direncanakan meluncur pada 2018 mendatang. Hingga Agustus 2017 lalu, progres pembangunan sudah mencapai 70 persen.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Direktur Wholesale & International Service Telkom Abdus Somad Arief.

“Progres satelit Telkom 4 sudah mencapai 70 persen. Kami optimistis (pembangunannya) bisa lebih cepat dari jadwal keluar di pabriknya,” ungkap pria yang akrab dipanggil ASA ini.

ASA yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Network & IT Solution Telkom ini, menyebutkan bahwa Satelit Telkom 4 rencananya diluncurkan untuk menggantikan satelit Telkom 1 yang akan berakhir masa orbitnya pada 2020. Satelit Telkom 4 akan diluncurkan di orbit 108 derajat Bujur Timur (BT) dengan masa operasi selama 15 tahun.

Satelit ini akan membawa 60 transponder. Sebanyak 36 transponder akan disewakan untuk kebutuhan dalam negeri, dan sisanya 24 transponder akan disewakan ke pasar India.

Untuk membangun Telkom 4, Telkom telah menunjuk Space Systems Loral (SSL) dan Space X dari Amerika Serikat (AS) sebagai manufaktur dan peluncur satelit.

Telkom 1

Sayangnya ditengah persiapan pembangunan satelit Telkom 4, pada 25 Agustus 2017, publik dikejutkan oleh bermasalahnya satelit Telkom 1. Permasalahan akibat pergeseran pointing antenna berimbas pada terganggunya layanan siaran televisi nasional hingga layanan keuangan dan pengoperasian mesin ATM.

Diketahui, satelit Telkom 1 memiliki 63 pelanggan yang termasuk swasta, pemerintah, dan para penyedia Very Small Aperture Terminal (VSAT). Dua stasiun televisi nasional, ANTV dan Net TV, terganggu siarannya. Ribuan ATM juga mengalami offline dengan rincian 4.700 ATM di BCA, 2.000 ATM Bank Mandiri, 1.500 ATM BNI, dan 300 ATM BRI.

Menkominfo Rudiantara menyebutkan gangguan yang dialami Telkom 1 tersebut akibat usia satelit yang sudah tua.

“Satelit yang mulai bermasalah itu menunjukkan satelitnya sudah uzur. Umurnya kira-kira di atas 15 tahun,” ujar Rudiantara usai rapat dengan Komisi I DPR, di Gedung Nusantara II, Jakarta, Senin (28/8/2017).

Informasi lain yang berkembang menyebutkan bahwa Telkom 1 keluar orbit. Tak sedikit publik yang percaya bahwa satelit itu sudah hancur berkeping-keping, meski hal ini dibantah oleh Telkom.

“Terkait pemberitaan yang menyatakan kondisi Telkom 1 dan adanya obyek di luar angkasa di sekitar posisi Telkom 1 dapat kami sampaikan bahwa kondisi saat ini, melalui Stasiun Pengendali Utama Satelit, Telkom 1 masih dapat menerima command dan mengirim sinyal telemetri satelit,” kata Arif Prabowo Vice President Corprorate Communication Telkom, Kamis (31/8/2017).

Alih-alih menanggapi berbagai isu miring dibalik terjadinya anomali Telkom 1, Telkom lebih memilih untuk fokus pada berbagai upaya mitigasi, terutama mempercepat proses recovery.

Salah satunya adalah melakukan migrasi layanan dan pelanggan transponder Telkom 1 ke Telkom 3s yang memiliki teknologi lebih baik, serta ke satelit lain, sebagai bentuk tanggung jawab dan memastikan layanan dari pelanggannya terus beroperasi.

Proses migrasi layanan telah dilakukan sejak 26 Agustus 2017. Penyediaan dan pengalihan transponder Telkom 1 ke transponder satelit pengganti tuntas dilakukan pada 30 Agustus 2017.

Sedangkan proses repointing antena ground segment dilakukan bertahap, secara bersama-sama baik dengan pelanggan maupun dengan operator penyedia layanan VSAT hingga 10 September 2017.

Untuk mengawal proses recovery berjalan maksimal, Telkom Group membentuk posko crisis center yang beroperasi 7×24 jam. Crisis center merupakan pusat informasi semua proses recovery layanan pelanggan sekaligus sebagai pusat komando untuk merencanakan dan mengeksekusi setiap langkah-langkah yang dianggap perlu bagi percepatan penyelesaian gangguan layanan.

Seluruh jajaran Direksi Telkom mengawal langsung proses recovery dimana seluruh perkembangan akan ter-update.

Di sisi lain, terjadinya anomali mengakibatkan slot orbit 108 derajat Bujur Timur yang sebelumnya ditempati oleh Telkom 1, statusnya secara fisik sudah kosong saat ini.

Alex Sinaga menegaskan secara administrasi internasional, slot orbit itu dimiliki oleh pemerintah Indonesia. Ia pun telah meminta kepada Kominfo, agar slot itu tetap dijatahkan untuk Telkom yang hendak meluncurkan satelit Telkom 4 pada 2018.

“Telkom secara intensif akan bekerjasama dengan kementeriaan Kominfo untuk mengamankan slot orbit 108 BT ke Internasional Telecommunication Union”, kata Alex.

Pulih 100 Persen

Kerja keras dan cepat Telkom pada akhirnya membuahkan hasil yang maksimal. Telkom memastikan bahwa layanan konektivitas pelangan satelit Telkom satu telah pulih 100% sejak minggu (10/9/18).

Hal itu dijelaskan langsung oleh Alex Sinaga dalam press conference yang dilangsungkan di Jakarta, Selasa (12/09/18). Dijelaskan oleh Alex, konektivitas sebanyak 15.019 sites layanan pelanggan yang mengalami gangguan akibat masalah satelit 1. Alex memastikan  11.574 sites layanan ATM maupun 3.44 sites non ATM sudah pulih sesuai komitmen.

Alex menambahkan bahwa Telkom menggunakan tiga solusi service recovery. Selain melakukan reponting antenna ground segment, pihaknya juga memanfaatkan dua teknologi alternatif sebagai solusi temporer untuk mempercepat recovery sejumlah sites.

“Komposisinya sebanyak 18% repointing antenna parabola ground segment 14% menggunakan sistem machine to machine (M2M) dan 5% sisanya memanfaatkan teknologi fiber optik,” tutur Alex.

Meski proses recovery telah rampung, Alex Sinaga menegaskan bahwa Telkom masih melajukan pengawalan ketat terhadap stabilitas jaringan seluruh sites. Telkom masih melanjutkan fungsi crisis center recovery untuk memantau kestabilan kualitas layanan pelanggan pasca pemulihan konektivitas inI.

“Kedepan Telkom akan berkordinasi dengan para pelannggan untuk mengembalikan solusi temporer ke solusi permanen secara bertahap”, pungkas Alex.

Latest