Selular.ID – PT Telkom Indonesia menyesuaikan alokasi investasi infrastruktur telekomunikasi yang berbasis dolar AS guna menghadapi lonjakan nilai mata uang tersebut dan ketidakpastian ekonomi makro.
Pasalnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat cenderung melemah selama beberapa pekan ini.
Langkah strategis ini diambil Telkom, demi menjaga kelancaran bisnis perusahaan di tengah tantangan global.
Penyesuaian anggaran ini menjadi fokus utama karena pengadaan infrastruktur sektor telekomunikasi sangat bergantung pada mata uang asing.
Kendati demikian, manajemen memastikan bahwa permintaan pasar terhadap layanan internet terus mengalami pertumbuhan yang konsisten.
Baca juga:
- Danantara Minta Hanya Sisakan 19 Anak Usaha Telkom dari 67
- Dirut Telkom Sebut Bisnis Mobile Sudah Mentok, Bocorkan Lahan yang Akan Digarap
“Karena mungkin investasi kita dalam dollar, ada beberapa yang mungkin hari kami sesuaikan,” kata Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, belum lama ini (20/5/2026).
“Tapi sebetulnya dari sisi market dan kebutuhan pelanggan, internet itu tumbuh terus, baik itu B2B atau B2C itu tumbuh terus. No doubt,” sambungnya.
Sektor telekomunikasi dinilai tetap kokoh karena perannya telah bergeser menjadi kebutuhan primer masyarakat.
Guna meningkatkan kelincahan dan profitabilitas, perusahaan menerapkan strategi TLKM 30 yang bertumpu pada empat pilar utama.
Pilar tersebut mencakup perbaikan tata kelola, perampingan anak usaha, optimalisasi nilai bisnis melalui InfraNexia, serta integrasi operasional yang sebelumnya tumpang tindih.
Sudah Hadapi Berbagai Krisis
Saat ini, segmen konsumen (B2C) melalui Telkomsel mendominasi 70 persen bisnis dengan penetrasi mencapai 100 persen, sementara fixed broadband masih memiliki ruang pertumbuhan sebesar 20 persen.
Sisa 30 persen bisnis ditopang oleh segmen korporasi (B2B) Infra, B2B ICT, dan pasar internasional.
Perusahaan menargetkan komposisi kontribusi pendapatan antara segmen konsumen dan segmen bisnis lainnya dapat berjalan seimbang pada tahun 2030.
“Segmen B2B Infra dan internasional sudah memperlihatkan pertumbuhan yang luar biasa. Untuk yang B2B ICT ini sekarang lagi dimasak supaya ke depannya bisa menjadi source of growth yang baru,” pungkas Dian.
Pengembangan segmen B2B ICT saat ini dilakukan melalui anak usaha seperti Telkomsigma, Infomedia, dan Nutech.
Sementara itu, lini bisnis internasional digerakkan melalui Telin untuk menyasar pasar yang lebih luas.
Di sisi lain, Direktur Strategic Business Development & Portfolio PT Telkom, Seno Soemadji menenangkan para investor, baik investor besar maupun investor ritel untuk tetap percaya kepada perseroan.
Menurutnya, Telkom semenjak melantai di Bursa Efek Indonesia sejak 14 November 1995 sudah menghadapi berbagai krisis.
“Kita telah melewati berbagai krisis dan selalu akan memikirkan solusi supaya perseroan tetap selalu bertumbuh setiap tahun,” ungkapnya.




