Tuesday, June 2, 2020
Home News Perang Tarif Data, Indonesia Jangan Tiru India

Perang Tarif Data, Indonesia Jangan Tiru India

-

Reliance JioJakarta, Selular.ID – Dengan jumlah mencapai sembilan, kompetisi antar operator di Indonesia terbilang paling keras di dunia. Alhasil, untuk menarik minat pengguna beralih ke jaringannya, sejumlah operator di terpaksa menerapkan tarif data yang disinyalir sudah berada di bawah harga produksi.

Dalam jangka pendek, tarif murah mampu mengerek jumlah pelanggan secara signifikan. Sayangnya, peningkatan trafik yang melonjak drastis tidak sepadan dengan revenue yang didapat. Alhasil, praktek jual rugi ini akan mengancam kondisi keuangan operator. Bukan tak mungkin, operator bisa collapse dan ujungnya konsumen yang dirugikan.

Menanggapi praktek jual murah, khususnya tarif data yang belakangan ini mulai marak, Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah, menegaskan bahwa praktek banting harga tidak menguntungkan. Selain memangkas margin keuntungan bahkan bisa saja rugi, penerapan tarif data murah juga akan menimbulkan efek domino. Operator lain akan ikut-ikutan untuk menerapkan harga yang sama bahkan lebih murah, karena tak ingin market share-nya tergerus.

Menurut Ririek, industri bisa sustain, jika operator mampu menjaga kualitas layanan di titik tertentu dengan tarif yang rasional. Untuk kembali sehat terpenting adalah di harga layanan tidak boleh serendah sekarang.

“Persaingan idealnya bukan lagi di harga. Saat ini operator terjebak dalam persaingan yang terbilang paling basic. Mestinya persaingan sudah bergeser ke kualitas layanan atau keaneka ragaman layanan, sehingga bisa mendorong pertumbuhan industri. Dan dalam jangka panjang sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita”, tegas Ririek.

Ririek menegaskan, praktek tarif data murah sebaiknya harus segera diakhiri.
Jika terus berlanjut, Indonesia akan terjebak seperti India. Seperti diketahui, praktek tarif murah sudah menjadi ciri khas di negeri dengan jumlah penduduk terbesar kedua di dunia itu. Layaknya benang kusut, operator di sana terus mengalami distorsi.

Kehadiran operator baru membuat tarif yang dipatok operator di sana semakin turun tajam. Sehingga mengancam kelangsungan usaha
operator.

Menderita Kerugian

Kekhwatiran Ririek terhadap industri selular di Indonesia memang beralasan. Pasalnya, dalam banyak hal Indonesia mirip dengan India. Jumlah operator yang berlebih membuat ruang pertumbuhan semakin menyempit. Alhasil, perang harga tak terelakkan.

Berdasarkan catatan Selular, tahun lalu, sebuah operator seluler baru bernama Reliance Jio muncul dengan memberikan promo besar-besaran yaitu layanan jaringan seluler 4G gratis selama berbulan-bulan. Untuk bisa merebut pangsa pasar, Reliance Jio disokong dana sebesar US$ 20 miliar atau setara Rp 266 triliun dari pria terkaya India, Mukesh Ambani.

Hal tersebut membuat tiga operator besar India (Bharti, Vodafone dan Idea Cellular) terpaksa harus memangkas harga dan menerima laba yang lebih rendah, dan memicu gelombang konsolidasi di sektor ini.

Akibat kondisi ini, Idea Cellular, operator selular terbesar ketiga di India, mengalami kerugian dalam Q4 fiskal sebesar INR4,3 miliar ($ 66,5 juta) pada kuartal 2017 dari laba INR3.55 miliar pada Q4 2016 fiskal. Keseluruhan pendapatan turun 14 persen menjadi INR81,3 miliar.

Dalam laporan pendapatannya, Idea Cellular mengatakan bahwa industri telekomunikasi di India sedang mengalami situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya pada paruh kedua tahun ini karena promosi data mobile yang digembor-gemborkan oleh Reliance Jio.

“Sepanjang Oktober 2016 sampai April 2017 dapat digambarkan sebagai periode ‘diskontinuitas telekom’, yang mengubah secara permanen parameter-parameter bisnis mobilitas. Untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, industri mobilitas India yang maju sedang tren menuju penurunan pendapatan tahunan sekitar 2 persen dalam FY17 vs FY16,” tulis keterangan resmi Idea Cellular.

Idea kehilangan 6,4 juta pelanggan data mobile selama kuartal terakhir, setelah kehilangan 5,5 juta pada Q3 fiskal, dengan basis data mobile mobile-nya turun menjadi 42,2 juta pada akhir Maret. Rata-rata penggunaan data seluler meningkat 36 persen menjadi 957MB. Data ARPU tetap datar di Q4 pada INR110.

TERBARU

Triasmitra Menangkan Kasus Perusakan Kabel Fiber Optik Bawah Laut

Jakarta, Selular.ID – PT Ketrosden Triasmitra (Triasmitra) berhasil memenangkan kasus pengrusakan sistem komunikasi khususnya...

Dorong Vendor Tingkatkan Produksi, India Melonggarkan Kebijakan Ponsel

Jakarta, Selular.ID - India membuat langkah besar menuju insentif dan memperluas produksi lokal dari...

Ponsel 5G ZTE Axon 11 SE Diumumkan

Jakarta, Selular.ID - Sesuai jadwal, ZTE mengumumkan ponsel 5G terbaru di negara asalnya Cina....

Latest