Beranda Chatting Blanja.com di Mata Aulia Marinto (Interview Eksklusif)

Blanja.com di Mata Aulia Marinto (Interview Eksklusif)

-

1.Aulia Marinto Belanja.com
Jakarta, Selular.ID – Industri e-commerce di Indonesia diperkirakan akan memiliki masa depan yang cerah, mengingat dalam beberapa tahun ke terakhir perkembangan industri ini terus menanjak. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh salah satu pemain pemain e-commerce kenamaan di dunia, eBay yang akhirnya melirik situs belanja online milik Telkom yang sebelumnya bernama Plasa.com. Melalui kerjasama join venture, Plasa.com akhirnya berganti nama dengan menjadi Blanja.com sejak akhir tahun 2014 lalu.

Dengan sinerginya dengan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), situs Blanja.com kedepannya diprediksi akan semakin bakal makin menanjak di industri e-commerce nasional. Apalagi BUMN perbankan juga akan mendukung di sisi pendanaan dan sistem pembayaran, serta dari sisi logistik Pos Indonesia sendiri akan memiliki peran penting pada eCommerce milik anak perusahaan Telkom ini.

Bagaimana strategi Blanja.com dalam peta persaingannya di Industri e-commerce di Indonesia ke depan? Berikut petikan wawancara Selular bersama CEO Blanja.com Aulia E Marinto.

Bagaimana industri e-commerce Indonesia menurut Anda?
Industri e-commerce Indonesia berkembang pesat di lima tahun terakhir, seiring pertumbuhan elemen-elemen yang mendukung e-commerce. Contohnya adalah akses internet kemudian pengguna smartphone, lalu berkembangnya teknologi yang mendukung layanan berbasis digital ataupun e-commerce, dan keterbukaan dari perdagangan.

Elemen-elemen itu yang membuat industr ini tumbuh. Bahkan sepuluh tahun terakhir sudah ada pemain yang muncul yang kemudian makin marak. Ditandai juga dalam lima tahun terakhir masuknya pendanaan-pendanaan yang kemudian membiayai mereka untuk kemudian tumbuh lebih pesat.

Nah dari situ kita melihat bahwa Indonesia sangat potensial. Mulai dari jumlah populasi, peningkatan middle class, pertumbuhan konsumen, dan pertumbuhan ekonomi yang bagus di region. Itu yang mendorong semua, sehingga kita lihat begitu pesatnya pertumbuhan industri ini. mulai dari ekosistem, baik playernya, pendukungnya, maupun dari mereka yang memberi input agar industri ini semakin besar.

Dengan backbone signifikan, sekarang menjadi timing yang tepat untuk para pemain berkembang?
Semua elemen tadi memicu para player dengan strateginya masing-masing. Lima tahun belakangan di asosiasi saja sudah ada hampir 278 anggota. Belum lagi yang bergabung di bukan asosiasi. Mungkin angkanya bisa ada 1000-an lebih. Terdiri dari player, supporting ecosystem, baik itu marketing, digital marketing, teknologi, logistik, payment, fintech technology, dan software, semua berkembang. Semua itu dan mengembangkan bisnisnya masing-masing dengan model yang mereka pilih.

Secara garis besar, ada tiga model. Pertama, adalah marketplace (open & vertical). Lalu kedua ada retail online (membeli barang dan menjual lagi). Kemudian model classified ad (advertising).

Nah turunan dari tiga model itu nmenghasilkan banyak keragaman, baik skala nasional, mapun provinsi dan daerah-daerah. Bukan cuma di Jakarta aja yang muncul.

Bagaimana volume, target, dan kapitalisasi industri ini seperti apa?
Ada sekitar 80 juta pengguna smartphone/pengguna internet/pengguna sosial media/terkoneksi. Dengan basis itu, kita lihat berapa banyak entrepreneur/pebisnis yang masuk ke arah online. Contohnya di marketplace, berapa banyak seller yang bergabung di market place? Jawabannya belum banyak.

Siapa seller-seller di marketplace? Mereka itu retail, yakni dari manufaktur, distributor, reseller, maupun UKM. Berapa banyak yang di online, jauh lebih banyak yang di offline.

Kalau pertanyaannya volume, maka belum besar. Dari total jumlah UKM 50 juta, yang sudah online paling 1-3 juta. Tidak ada data valid, karena umumnya yang bergerak di e-commerce itu private sector.

Kemudian berapa banyak transaksi yang terjadi? Juga belum banyak. Di situlah potensi. Oleh sebab itu, kompetisi di arena e-commerce belum bisa dikatakan sengit. Belum bisa dikatakan market sudah buble. Belum bisa dikatakan saya akan kalah ama si A dan si B.

Indonesia populasi 250 juta jiwa dengan pertumbuhan ekonomi bagus, pemilik kartu kredit (bankable) mungkin sekitar 150 juta orang, memang yang 100 juta unbankable.

Di sisi logistic, ada yang bilang kalau pesan online, mungkin barang tidak sampai. Saya tidak buy in dengan kondisi itu. Kenapa? Karena toh di negara lain yang e-commerce-nya tumbuh, hal itu bisa terjadi. Apalagi demografi Indonesia bukan satu tanah melainkan kepulauan, pasti menjadi challenge untuk siapa pun yang bermain di online, maka logistic menjadi issue. Di situlah, justru peluangnya sangat besar.

Sementara di sektor payment, saat ini memang e-commerce menjual barang-barang consumer dan fisik. Tapi juga bertumbuh barang-barang online yang non-fisik seperti jasa, restoran, dll. Itu bertumbuh secara nasional maupun regional. Jadi kalau kita lihat overall, maka Indonesia memiliki amunisi besar di digital ekonominya, dari semua aspek. Dan itulah yang dikejar semua orang. Maka wajar bila masing2 punya strategi dan ingin bersaing. Itulah dinamika pasar.

Kenapa Blanja.com pilih model marketplace?
Blanja.com kan anak usaha Telkom yang menjalin joint venture dengan e-Bay. Memang suatu pilihan. tapi kami melihat model marketplace pertumbuhannya bisa unlimited. Karena yang dibangun marketplace adalah ekosistem. Kita tidak memilih barang apa yang akan kita jual, siapa yang jual, atau juga buyer mana yang kita tuju.

Kita membangun ekosistem dengan cara kolaborasi, yang menjadi kekuatan dari sebuah marketplace. Itulah kenapa dia akan tumbuh unlimited. Itu sebabnya di dunia ini, yang besar adalah marketplace. Bukan berarti yang retail online tidak besar, itu hanya masalah skala saja. Contoh nyata Alibaba, tidak akan ada retail online yang bisa mencapai itu. Karena memang secara model, tidak bisa mencapai itu.

Nah Blanja.com memilih marketplace karena kami tahu Indonesia itu potensinya besar sekali. Dan kami bukan pemain yang ingin hadir hanya 5 tahun lalu menghilang. Ini adalah komitmen jangka panjang dari Blanja.com.

Kapan Blanja.com hadir resmi di market?

Official hadir 8 Desember 2014. Yang pertama kami lakukan pada tahun pertama 2015 dan 2016 adalah membangun fondasi. Seperti yang saya utarakan tadi, marketplace adalah ekosistem. Fondasinya setidaknya ada 4 platform: payment, logistic, talent dan seller.

Nah blanja.com memilih strategi pada 2015 adalah disamping memperkenalkan diri ke pasar, kami fokus membangun fondasi yang 4 tadi. Kemudian di 2016 perlahan kami lakukan aktivitas marketing. Di sisi lain fondasi tadi tetap kami persiapkan untuk menampung animo yang datang, baik itu mitra seller, maupun pembeli.

Jadi bagi kami market ini belum kompetisi. Walaupun ada teman di pasar yang sudah besar, tapi menurut kami itu belum menjadi kompetisi. Karena Indonesia masih sangat besar potensinya. Dua tahun ini, Blanja.com mencapai performansi yang kita harapkan. Saat ini kami mulai membangun langkah berikutnya.

Bagaimana performansi kuartal ketiga 2016?
Model marketplace itu performansinya bisa dilihat dari GMV. Kalau dibandingkan tahun lalu, kita bertumbuh. Jumlah GMV kita hampir tiga kali lipat dari tahun lalu. Nah tahun ini kami harap bisa capai angka 100 juta dilar. Itu membuktikan bahwa kita dipercaya pasar. Untuk tahun depan kita targetkan angka lebih lagi. Sedang kami godok target itu. Jadi target secara memperlihatkan ke publik, ini merupakan wujud hasil kerja keras kami. Dari official launch sampai hari ini.

Kalau soal jumlah visitor dan transaksi saya kira angka itu tidak signifikan dibandingkan teman kami yang sudah besar. Kami tidak malu mengatakan itu karena memang kami masih baru. Namun melihat apa yang kami punya dan strategi, kita mampu untuk bertarung dan menjadi pemenang di depan.

Dengan persaingan ratusan pemain, apa kelebihan Blanja.com?
Blnaja.com memiliki unique value proposition. Pertama, kami dimiliki oleh Telkom Group yang memayungi operator terbesar di Indonesia, Telkomsel. Dan itu merupakan aset dari Blanja.com yang bisa kami leverage. Dimana suatu hari kita berharap sebuah sinergi yang solid dengan Telkomsel agar masyarakat gampang mengenali Blanja.com dan melakukan transaksi melalui mobile.

Yang kedua adalah e-Bay sebagai pemain internasional yang memberikan expertise di teknologi dan pengalaman yang sudah puluhan tahun berkecimpung di industri ini. Karena industry e-commerce sangat dinamis dan membutuhkan knowledge yang dalam. Dua hal itu yang kemudian diramu dengan strategi lain maka kami meyakini kami mampu untuk bersaing dan menjadi pemenang ke depan.

Alhamdulillah baru-baru ini kami ditunjuk sebagai platform e-commerce BUMN, dimana ini merupakan kelanjutan dari rancangan pemerintah dalam membangun digital economy melalui pemberdayaan UKM. Sehingga produk-produk BUMN dan mitra-mitra binaan BUMN yang jumlahnya jutaan itu akan bisa listing dan menembus pasar indonesia, dan kelak akan kami bawa ke pasar internasional.

Itu merupakan langkah besar dan strategis bagi Blanja.com karena ini bukan perjalanan satu tahun, melainkan bagaiamana kita membawa UKM-UKM dan produk-produk Indonesia ke Blanja.com sehingga kelak siapa pun yang ingin mendapatkan produk UKM berkualitas dari Indonesia dia akan bisa melihat dan membelinya langsung di Blanja.com.

Juga ada beberapa hal lain yang kami persiapkan. Dalam kurun waktu tidak lama lagi kami akan siap dengan mobile application di Android dan iOS, yang akan mempermudah orang untuk berbelanja di Blanja.com.

Soal kemanan, kami juga meningkatkan security bagaimana platform bisa menjadi aman dan nyaman bagi pelanggan. Kami juga melakukan banyak action terkait dengan peningkatan customer dan user experience. Sehingga dengan kombinasi itu semua, kami yakin dalam berkompetisi dengan konteks menjadi pemenang di e-commerce dalam lima atau sepuluh tahun mendatang.

Pengembangan teknologi hal yang mutlak?
Improvement yang kita lakukan ada di tiga aspek: platform, logistik dan payment. Dua terakhir memang tidak dalam kendali kita, tapi kita selalu berkolaborasi dengan teman-teman yang menyediakan solusi itu. Itu selalu kita improve. Sementara platform, berbagai menu, berbagai fitur, berbagia tweak di dalamnya, yang membuat orang menjadi lebih nyaman, itu kita lakukan in daily basis. Terus menemukan dan terus melakukan improvement setiap hari.

Jadi ini bukan sesuatu yang oke, kita sudah satu set, dan selesai. Karena e-commerce itu bisa dikatakan kecil, bisa juga besar. Nah marketplace adalah model yang paling kompleks, dibandingkan model –model yang lain. Kami lakukan itu sebagai komitmen kami untuk menghadirkan layanan yang aman berbelanja di Blanja.com, dan nyaman serta mudah.

Di sisi lain, kami juga harus menarik lebih banyak mitra untuk bergabung dan menjadi penjual di Blanja.com. Nah inisiatif tadi dengan e-commerce BUMN adalah wujud dari kami mengimplementasikan visi dan misi Blanja.com yang salah satunya adalah untuk membantu perekonomian Indonesia melalui pemberdayaan UKM. Melalui inisiatif itu, dibangunlah suatu proses untuk menemukan UKM berkualitas, diajarkan mereka mengenai quality control terhadap suatu produk sebelum masuk di Blanja.com dan menembus pasar lokal dan kelak pasar internasional.

Apa tantangan yang berbeda antara dulu Anda di Telkomsel dibandingkan sekarang di Blanja.com?
Saya rasa saya sangat beruntung bisa masuk ke industri yang baru. Karena passion saya sendiri adalah mengembangkan sesuatu. Pengalaman saya dulu pernah mengembangkan produk, lalu mengembangkan layanan, dan sekarang mengembangkan bisnis. Saya nahkodai Blanja.com dari nol sampai berjalan tahun keempat sekarang. I enjoy this.

Kalau sebelumnya, berada di kapal besar bisa terlihat nyaman, tapi saya tidak ingin berada dalam sebuah suasana yang terlalu established. Karena memang passion saya adalah menemukan hal yang baru.

Di Blanja.com selalu ada hal baru, entah itu komplain yang baru, fitur baru, seller baru. Semua itu challenge bagi saya yang membangkitkan adrenalin saya untuk terus maju. Tentu resiko juga akan berbeda, bisa saja semua strategi yang saya tanam tidak berhasil. Tapi Alhamdulillah sejauh ini saya bisa melihat growth, pertumbuhan, antusiasme dari lingkungan yang saya bangun, baik internal mapun ekosistem yang ada di sekitaran Blanja.com. Sehingga saya enjoy.

Semangat itu yang menjadi unlimited steroid. Menjadi energy baru bagi saya dan tim. Saya senang sekali jika di luaran bertumbuh hal-hal baru. Atau kita memiliki apa yang datang dari internal, staff, head, ataupun dari partner-partner.

Anak-anak muda cenderung di industry startup?
Dalam konteks itu, saya yang harus beradaptasi. Karena memang di industri digital, banyak anak-anak muda yang sangat talented, antusias, enerjik, untuk men-deliver things. Dan mereka punya brilliant ideas. Nah saya harus membuat diri saya diterima di frekuensi mereka.

Karena saya datang dari industri yang sudah jadi (Telkomsel) semuanya proper, semua sudah digawangi orang yang expert berpengalaman. Nah di sini mungkin mereka first graduate, mungkin bukan datang dari sekolah tinggi, tapi mereka datang dengan talent, ideas, dengan things, yang sama sekali saya tidak terpikir. Jadi saya harus membuka diri saya, open mind, dengan ide yang terdengar gila, lucu, kenapa gak kita tes aja.

Karena pendekatan membangun bisnis digital ini adalah tiap hari beta, tiap hari baru, hari ini kita bangun, seminggu mungkin sudah kadaluarsa. Karena memang perjalanannya begitu. Itulah yang membangkitkan adrenalin saya untuk terus membangun. Jadi saya yang harus beradaptasi dengan lingkungan itu.

Bagaimana sisi idealisme Blanja.com dalam berkompetisi dengan pemain asing?
Satu hal yang saya pahami adalah e-commerce adalah bisnis yang sangat lokal. Karena ini perdagangan yang dilakukan oleh orang lokal. Tools-nya saja yang menggunakan teknologi dari luar. Tapi bagaimana seller berinteraksi dengan buyer, itu sangat lokal. Bagaimana buyer dikenali oleh Blanja.com itu sangat lokal. Jadi kalau ada yang mengatakan ini akan dikuasai asing. Saya tidak percaya itu. Yang akan menguasai e-commerce Indonesia adalah orang lokal Indonesia.

Tentu saja ada bantuan dan kerjasama dengan experties-experties, tapi bagaimana kita berbicara dengan para UKM di lapangan, tidak mungkin orang asing bisa. Bagaimana kita berbicara dengan buyer yang mungkin di luar kota, hanya orang lokal yang bisa melakukan.

Jadi saya tidak percaya dengan pandangan bahwa kita dikuasai orang asing. No.

Hari ini saja kita lihat siapa yang menguasai e-commerce sekarang, lokal. Artinya mereka yang bergerak, meng-inisiate itu. Ya, memang ada pemain besar yang datang, tapi we can compete. Dan Blanja.com is ready to compete.

Kan belum bertarung beneran. Semua masih mengumpulkan semua amunisi. Jadi saya tidak percaya kalau ada yang mengatakan market ini sudah buble dan sudah jenuh. Malah ini baru permulaan.

Artikel Terbaru