Friday, August 23, 2019
Home Fokus Revisi Interkoneksi Bakal Mengubah EBITDA Operator

Revisi Interkoneksi Bakal Mengubah EBITDA Operator

-

Ilustrasi nelphon

Jakarta, Selular.ID – Keputusan Kemenkominfo menunda pelaksanaan revisi tarif interkoneksi (31/8/2016), membuat kondisi industri semakin tidak punya pegangan. Indosat Oredoo dan XL Axiata tetap pada keinginan untuk memberlakukan tarif baru yang turun sebesar rata-rata 26 untuk semua skenario panggilanm yakni Rp 204 per menit. Sementara Telkomsel menyatakan akan tetap membelakukan tarif lama yakni Rp 250, sebelum regulator menjawab surat keberatan yang telah dilayangkan sebelumnya.

Terlepas dari tarik menarik kepentingan yang masih tak jelas ujungnya, penerapan tarif interkoneksi yang turun cukup drastis, dipastikan bakal mengubah EBIDTA operator. Sebagai pemain dominan, tarif baru itu akan memukul kinerja Telkom yang selama bertahun-tahun menikmati keuntungan dari kinerja Telkomsel yang terus mengilap. Hal yang wajar jika Telkom bereaksi cukup keras dengan tidak menerima begitu saja keputusan Menkominfo Rudiantara.

Menurut kajian Bank of America Merrill Lynch yang dipublikasikan pada 15 Agustus 2016, Diprediksi, 5% pergeseran pendapatan dari Telkomsel akan
berdampak pada  turunnya EBITDA Telkom sebesar 7%, dan sebaliknya akan menguntungkan EBITDA Indosat Ooredoo 12% dan XL Axiata sampai 15%.

Seperti diketahui, EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) melaporkan laba perusahaan sebelum dikurangi bunga utang dan pajak terutang yang harus dibayarkan kepada pemerintah. Dengan EBITDA kita bisa membandingkan tingkat keuntungan satu perusahaan dengan perusahaan lain di industri sejenis yang mungkin memiliki berbagai tingkat utang atau kewajiban pajak berbeda.

Dibawah ini adalah perbandingan EBITDA tiga operator yakni Indosat Ooredoo, XL Axiata dan Telkom yang diraih sepanjang 2015.

Merujuk pada laporan keuangan 2015, total pendapatan usaha yang diraih Indosat Ooredoo sebesar Rp 26,7 triliun atau naik 11,1% dibandingkan 2014 sebesar Rp 24,08 triliun. Namun demikian, kerugian masih tetap diderita. Pemicu negatifnya kinerja perusahaan berkode saham ISAT itu adalah kerugian selisih kurs Rp 1,3 triliun lebih besar dibandingkan 2014 sebesar Rp 243,2 miliar. Dengan kinerja seperti itu, EBITDA Indosat Ooredoo tercatat sebesar Rp 11,473 triliun naik 14,4% dibandingkan 2014 sebesar Rp 10 triliun. Marjin EBITDA di 42,9%.

XL Axiata sepanjang 2015 membukukan rugi bersih sebesar Rp 25,33 miliar, turun drastis dari rugi bersih pada 2014 sebesar Rp 803,71 miliar. Total pendapatan XL pada 2015 turun 2,5% menjadi Rp 22,88 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp 23,46 triliun. XL Axiata mencatat margin EBITDA sebesar 37%.

Jika dua kompetitornya itu masih berkubang kerugian, Telkom membukukan kinerja keuangan yang sangat baik. Ditandai dengan pendapatan konsolidasi mencapai Rp 102,47 triliun atau tumbuh 14,2 persen. Ini untuk pertama kalinya pendapatan menembus angka Rp 100 triliun. Revenue jumbo itu mengerek pertumbuhan EBITDA sebesar  12,6 persen menjadi Rp 51,42 triliun dengan marjin EBITDA yang masih superior sebesar 50,2 persen.

Namun kinerja Telkom yang mengilap itu, dalam beberapa tahun ke depan dapat anjlok. Penyebabnya Telkomsel yang menyumbang 80% pendapatan bagi Telkom, diprediksi sulit untuk mencetak pertumbuhan double digit yang telah diraih selama tiga tahun terakhir. Penerapan tarif baru interkoneksi yang lebih rendah membuat Telkomsel rugi banyak, karena terus-terusan membangun BTS recovery cost mereka saat ini sebesar Rp 285. Jauh dihargai pemerintah yang hanya menerapkan Rp 204 per menit.

 

 

 

 

 

 

Latest