Monday, December 9, 2019
Home Fokus MVNO Awal Bencana Industri Selular Indonesia

MVNO Awal Bencana Industri Selular Indonesia

-

Garuda Sugardo​Jakarta, Selular.ID – Pemerintah akan segera melakukan perubahan terbatas terhadap dua peraturan pemerintah di bidang telekomunikasi, yaitu PP Nomor 52/2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi dan PP Nomor 53/2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit.

Kedua draf revisi PP yang merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi saat ini berada di bawah komando Menteri koordinator Perekonomian Republik Indonesia.

Pokok perubahan terhadap dua PP tersebut adalah untuk mengatur masalah backbone network (jaringan) sharing dan akses (spektrum) jaringan antar operator. Pengaturan masalah sharing antar operator ini harus didasarkan pada azas fairness dengan dasar perhitungan investasi yang jelas. Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, mengatakan perubahan ditujukan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur telekomunikasi.

Kebijakan bebagi jaringan ini sendiri saat ini masih terbatas pada penggunaan bersama radio access network (RAN). Kerjasama Indosat Ooredoo dengan XL Axiata menjadi proyek network sharing LTE pertama di Indonesia.

Network sharing yang dilakukan oleh XL Axiata-Indosat Ooredoo masih menggunakan skema Multi Operator Radio Access Network (MORAN). Dalam praktik, sebenarnya ada lima model network sharing: CME Sharing, MORAN, multi operator core network (MOCN), Roaming, dan mobile virtual network operator (MVNO).

Garuda Sugardo, praktisi sekaligus pemerhati dunia telekomunikasi menganggap bila network sharing ini membuka peluang penerapan sistem Mobile Virtual Network Operator (MVNO) inilah awal dari bencana industri seluler Indonesia.

“Bayangkan, bila operator yang hanya membangun di Jawa tiba-tiba bisa digunakan di Ternate, itu namanya “cengli di elu, kagak cuan di gue”, kata Garuda. Namun demikian selama PP tersebut masih bersifat anjuran menurut Garuda boleh-boleh saja.

Beberapa MVNO asing dikatakan Garuda telah sowan dan melakukan survei pasar di Indonesia dan yang akan mereka jual adalah konsep penjaraharan pasar secara terselubung. “Apakah Anda rela, bila datang ke SPBU merah putih tetapi di sana berdiri dispenser berwarna beda dan menjual bahan bakar berlabel Eropa padahal isinya bensin Pertamina? Dalam seluler itulah MVNO,” jelasnya.

Memang para pemain MVNO ini hadir secara virtual hanya bermodal PC dan laptop, menawarkan produk selular dengan kemasan dan promosi yang “wah”, padahal yang dijual adalah produk seluler kita juga. Alih-alih mengurangi jumlah operator, MVNO justru akan menumbuhsuburkan kehadiran operator asing kelas ruko. Bisa-bisa operator seluler Indonesia yang sudah K.O hidup lagi atas nama NVNO.

Latest