17 April 2013 13:00
Popularitas WhatsApp terus meroket semenjak diluncurkan pada tahun 2009. Pada konferensi All Things D (16/4), D: Dive Into Mobile, CEO WhatsApp Jan Koum menyatakan bahwa aplikasi smartphonenya bahkan lebih populer daripada Twitter sekarang. Saat ini WhatsApp memiliki lebih dari 200 juta pengguna aktif bulanan, yang mengirim dan menerima lebih dari 20 miliar pesan setiap hari. Secara total, WhatsApp memroses sekitar 12 miliar pesan keluar dan 8 miliar pesan masuk setiap hari. Menjadikannya aplikasi smartphone independen tunggal yang paling banyak digunakan di hampir setiap negara di dunia.
Keberhasilan itu menarik perhatian sejumlah perusahaan internet besar. Dalam enam bulan terakhir saja, aplikasi ini dikabarkan menjadi target akuisisi oleh Facebook dan Google. Namun WhatsApp telah resmi membantah akan adanya pembicaraan tentang hal itu dengan kedua perusahaan raksasa itu.
Bagaimana rasanya berada di puncak pasar aplikasi messaging? Lalu bagaimana perusahaan bisa mengubah popularitas menjadi pendapatan dengan biaya langganan 99-sen-per-tahun, tanpa iklan?
Sederhana, ujar Koum. Bangun platform maka pendapatan akan mengalir. “Kami melihat dunia masa depan dengan miliaran ponsel,” tutur Koum. “Setelah itu terjadi, maka akan mudah menghasilkan uang. Semakin banyak orang yang bergabung dengan revolusi smartphone dan juga kian berlipat individu yang membeli barang melalui ponsel mereka.”
Jadi kenapa tidak bergantung pada iklan untuk pendapatan sementara itu? Tidak ada kesempatan untuk itu terjadi, ucap Koum, mengutip filosofi WhatsApp yang anti-iklan.
“Kami memiliki sebuah manifesto menentang iklan,” lanjut Koum. “Kami bangga dengan itu. Siapa yang suka iklan? Kita sudah dibombardir iklan begitu banyak dalam kehidupan sehari-hari dan kami merasa bahwa smartphone bukan tempat untuk itu. Handphone begitu erat dengan kehidupan kita. Menempatkan iklan di perangkat seperti itu adalah ide buruk. Anda tidak ingin diganggu iklan ketika chatting dengan orang yang Anda cintai.”
Dalam pengamatan Koum, ada banyak bisnis yang sukses tanpa menggunakan iklan, seperti gas dan air. “Kami ingin menjadi salah satu dari mereka. Strategi monetisasi kami sederhana. Satu dolar setahun. Jika kita melakukan sesuatu selain itu, hanya akan menghalangi jalan. Kami ingin produk yang hebat dan pengalaman pengguna yang luar biasa.”
WhatsApp memang sangat popular di antara aplikasi messaging untuk pengguna smartphone. Ia juga berperan sebagai “orang baik” dengan meluncurkan aplikasi untuk perangkat BlackBerry 10, yakni OS dengan basis pengguna sedikit. Sementara aplikasi sosial lain seperti Instagram, tidak mau membebani dirinya ke platform kecil karena “tidak ada benefit nyata”. Dengan kesuksesan besar ini, wajar bila rumor bertebaran mengatakan kalau dua perusahaan besar mengincar untuk membeli aplikasi messaging lintas-platform ini. (Khoirunnisa)

 

Sumber : http://allthingsd.com (16/4/2013)