Selular.ID – Pembangunan data center berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara besar-besaran mulai memicu kekhawatiran dunia.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan ancaman krisis air bersih, lonjakan konsumsi listrik, hingga meningkatnya limbah elektronik akibat pesatnya perkembangan teknologi AI.
Konsumsi listrik data center global diperkirakan melonjak hampir dua kali lipat, dari 485 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi 950 TWh pada 2030. Jumlah tersebut diproyeksikan setara sekitar 3% dari kebutuhan listrik dunia.
Lonjakan kebutuhan energi ini didorong investasi besar-besaran pada infrastruktur data center AI yang diperkirakan mencapai US$800 miliar pada 2026.
Namun, pertumbuhan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan lingkungan menopang kebutuhan komputasi yang terus meningkat.
PBB Peringatkan Ancaman Krisis Air Bersih
PBB menyoroti bahwa ekspansi data center AI berpotensi memberikan tekanan besar terhadap sumber daya alam, terutama ketersediaan air bersih, lahan, dan energi.
Berdasarkan proyeksi yang dikaitkan dengan PBB, konsumsi air untuk mendukung perkembangan AI pada akhir dekade ini diperkirakan dapat menyamai kebutuhan dasar air bersih sekitar 1,3 miliar orang setiap tahun.
Tidak hanya itu, kebutuhan lahan untuk pembangunan infrastruktur AI diperkirakan mencapai 14.500 kilometer persegi, atau sekitar dua kali luas kawasan Jabodetabek.
Besarnya konsumsi air berkaitan dengan kebutuhan pendinginan server yang bekerja sepanjang waktu untuk menjalankan berbagai aplikasi berbasis AI.
Baca juga:
- Investasi Data Center RI Tembus Rp300 Triliun, Ancaman Krisis Energi Mengintai
- Samsung Gandeng Telkom, Siapkan Solusi AI dan IoT untuk Perusahaan Indonesia
Semakin tinggi aktivitas komputasi, semakin besar pula panas yang dihasilkan perangkat keras, sehingga membutuhkan sistem pendinginan yang memadai.
Kondisi tersebut berpotensi memperburuk tekanan terhadap pasokan air, terutama di wilayah yang telah menghadapi keterbatasan sumber daya.
Membuat Gambar dan Video AI Bisa Menguras Energi
Persoalan lingkungan akibat AI ternyata tidak hanya muncul saat perusahaan teknologi melatih model kecerdasan buatan.
Penggunaan AI sehari-hari juga menjadi perhatian karena aktivitas pemrosesan permintaan pengguna berlangsung terus-menerus dalam skala sangat besar.
Dalam estimasi yang disampaikan, sekitar 80–90% konsumsi energi pada skenario tertentu berasal dari pemrosesan permintaan harian pengguna AI.
Sebagai gambaran, satu layanan AI dapat menangani hingga 2,5 miliar permintaan setiap hari, mulai dari menjawab pertanyaan hingga menghasilkan gambar dan video.
Pemrosesan gambar AI bahkan disebut dapat membutuhkan energi lebih dari seribu kali lipat dibandingkan pemrosesan teks sederhana dalam perbandingan tertentu.
Sementara itu, pembuatan video berbasis AI berpotensi membutuhkan kapasitas komputasi dan energi yang jauh lebih besar.
Persoalannya, peningkatan efisiensi teknologi belum tentu membuat konsumsi energi secara keseluruhan menurun.
Ketika biaya penggunaan AI semakin murah, jumlah pengguna dan frekuensi pemakaian berpotensi meningkat sehingga kebutuhan energi tetap melonjak.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perkembangan AI yang semakin mudah diakses juga membawa konsekuensi terhadap kebutuhan infrastruktur digital.
Negara Berkembang Terancam Jadi Tempat Pembuangan Limbah AI
Selain listrik dan air, PBB turut menyoroti potensi peningkatan limbah elektronik akibat percepatan pengembangan perangkat keras AI.
Volume limbah elektronik yang berkaitan dengan industri AI diperkirakan dapat mencapai 2,5 juta ton per tahun pada 2030.
Ancaman ini semakin besar karena perusahaan teknologi terus berlomba menghadirkan chip AI generasi terbaru dengan kemampuan komputasi lebih tinggi.
Salah satu contohnya adalah Nvidia yang mengembangkan arsitektur Vera Rubin sekitar dua tahun setelah memperkenalkan Blackwell.
Perkembangan teknologi yang cepat berpotensi memperpendek masa penggunaan perangkat komputasi, terutama ketika perusahaan mengganti server dan akselerator AI untuk meningkatkan efisiensi serta performa.
Akibatnya, perangkat lama dapat menambah volume limbah elektronik apabila tidak digunakan kembali atau didaur ulang dengan benar.
Negara berkembang berisiko menghadapi dampak lebih besar apabila menjadi tujuan pembuangan limbah elektronik tanpa memiliki fasilitas pengolahan yang aman.
Kondisi tersebut juga memperlihatkan ketimpangan dalam industri AI global.
Ketika negara maju seperti Amerika Serikat dan China memimpin pengembangan teknologi AI, sebagian beban lingkungan dari rantai pasok dan pengolahan limbah berpotensi berpindah ke negara lain.
PBB Dorong Data Center AI Lebih Ramah Lingkungan
Meski mengingatkan dampak lingkungan yang serius, PBB tidak menyerukan penghentian pengembangan kecerdasan buatan.
Sebaliknya, pertumbuhan industri AI perlu diarahkan agar tetap memberikan manfaat ekonomi dan teknologi tanpa melampaui kemampuan lingkungan menyediakan sumber daya.
Pemerintah didorong memperhitungkan kebutuhan listrik, air, dan lahan sebelum menyetujui pembangunan data center baru.
Sementara itu, perusahaan teknologi perlu mengembangkan sistem komputasi yang lebih hemat energi, meningkatkan efisiensi pendinginan, serta memperpanjang masa penggunaan perangkat keras.
Pengguna juga dapat berkontribusi dengan memanfaatkan layanan AI secara lebih efisien, khususnya untuk aktivitas pembuatan konten yang membutuhkan komputasi tinggi.
Bagi Indonesia, peringatan tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya investasi pembangunan data center untuk mendukung ekonomi digital dan pengembangan AI nasional.
Pembangunan infrastruktur digital perlu berjalan seiring dengan kesiapan pasokan listrik, pengelolaan sumber daya air, serta pengembangan energi bersih.
Tanpa perencanaan yang matang, perlombaan membangun data center AI berisiko menimbulkan tekanan lingkungan yang semakin besar.
Karena itu, keberhasilan pengembangan AI tidak cukup hanya diukur dari kecanggihan teknologi dan besarnya kapasitas komputasi, tetapi juga dari kemampuan industri menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.


