Selular.ID – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) makin cepat.
Namun, di balik layanan yang terasa praktis, ada beban besar terhadap listrik, air, dan lahan.
Dilansir Anadolu Agency, dikutip Minggu, 5 Juli, laporan Universitas PBB pada Jumat memperingatkan pusat data yang menopang AI diproyeksikan mengonsumsi 945 terawatt-jam listrik pada 2030.
Terawatt-jam atau TWh adalah satuan untuk menghitung konsumsi listrik dalam skala besar.
Baca juga:
- AI Melaju Pesat, Tapi Perusahaan Indonesia Masih Kesulitan Pantau Operasional TI
- PBB Didesak Buat Regulasi Penggunaan AI Global yang Bertanggung Jawab
Laporan yang disusun UN University Institute for Water, Environment and Health atau UNU-INWEH menyebut dampak lingkungan AI selama ini “secara sistematis salah diukur”.
Sebab, banyak penilaian lebih banyak berfokus pada emisi karbon, tetapi kurang memperhitungkan jejak air dan lahan.
Jejak air merujuk pada jumlah air yang dipakai langsung atau tidak langsung untuk menopang suatu aktivitas.
Dalam laporan itu, jejak air dipakai untuk menunjukkan tekanan AI terhadap sumber daya air.
Pada 2030, jejak air pusat data terkait AI diperkirakan dapat mencapai 9,3 triliun liter.
Angka itu setara dengan kebutuhan dasar air domestik tahunan 1,3 miliar orang di Afrika Sub-Sahara.
Jejak lahan menggambarkan luas area yang dibutuhkan untuk menopang infrastruktur terkait AI.
Laporan tersebut memperkirakan jejak lahan pusat data terkait AI dapat melampaui 14.500 kilometer persegi, hampir dua kali luas kawasan metropolitan Jakarta atau Jabodetabek.
“Laporan ini bukan serangan terhadap kecerdasan buatan,” kata Direktur UNU-INWEH Kaveh Madani.
Ia menyerukan penggunaan AI secara bertanggung jawab dan langkah lebih cepat untuk menangani dampak yang tidak diinginkan dari teknologi tersebut.
Konsumsi Listrik Pusat Data Setara Satu Negara
Anadolu melaporkan, pusat data global mengonsumsi sekitar 448 TWh listrik pada 2025.
Jika dianggap sebagai sebuah negara, pusat data akan berada di peringkat ke-11 sebagai konsumen listrik terbesar di dunia.
Laporan itu juga mengingatkan bahwa rendah karbon tidak selalu berarti rendah air atau rendah lahan.
Sebagian transisi energi memang dapat menurunkan emisi, tetapi pada saat yang sama bisa menambah tekanan terhadap sumber daya air dan tanah.
Sorotan laporan tersebut tidak hanya tertuju pada proses pelatihan model AI besar.
Menurut laporan itu, perdebatan publik terlalu banyak membahas energi untuk melatih model AI. Padahal, konsumsi energi terbesar justru berasal dari inferensi.
Inferensi adalah proses ketika model AI yang sudah digunakan menjawab perintah atau prompt dari pengguna.
Proses ini disebut menyumbang 80 persen hingga 90 persen dari total konsumsi energi AI.
ChatGPT saja diperkirakan memproses sekitar 2,5 miliar prompt per hari. Kebutuhan listriknya diperkirakan sekitar 383 gigawatt-jam atau GWh per tahun.
Beban lingkungan AI juga berbeda-beda tergantung tugasnya.
Gambar yang dibuat AI secara umum membutuhkan energi sekitar 1.450 kali lebih besar dibandingkan klasifikasi teks dasar.
Video pendek yang dibuat AI bahkan dapat mengonsumsi listrik setara dengan 200.000 kali klasifikasi spam.
Laporan itu menyerukan ekosistem AI yang lebih bertanggung jawab.
Caranya melalui transparansi, efisiensi sejak tahap desain, keadilan lingkungan, tanggung jawab sepanjang siklus hidup, kerja sama global, dan penggunaan yang berkelanjutan.



