Selular.ID – Gelombang penolakan pembangunan data center mulai menjadi ancaman baru bagi ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) global.
Dari Amerika Serikat, Eropa hingga Asia, proyek bernilai puluhan miliar dolar menghadapi penundaan, pembatasan bahkan pembatalan akibat resistensi masyarakat dan aturan pemerintah yang semakin ketat.
Besarnya investasi yang terdampak tidak sedikit. Di Eropa, sekitar US$42 miliar atau lebih dari Rp752 triliun investasi data center dilaporkan terkena penundaan atau pembatalan akibat penolakan publik.
Sementara di Amerika Serikat, nilai proyek data center yang menghadapi persoalan serupa mencapai sekitar US$77 miliar.
Puluhan Data Center Ditolak
Tekanan terhadap pembangunan data center terlihat semakin kuat di Eropa.
Lebih dari 70 proyek data center dilaporkan ditolak atau mendapatkan pembatasan hanya dalam periode Januari hingga April 2026. Jumlah tersebut bahkan sudah melampaui total kasus sepanjang 2025.
Persoalannya bukan sekadar lokasi pembangunan. Masyarakat mulai mempertanyakan besarnya konsumsi listrik dan air data center, kebutuhan lahan, dampaknya terhadap harga energi, hingga seberapa besar lapangan pekerjaan dan manfaat ekonomi yang benar-benar diterima daerah sekitar.
Associate Professor HEC Paris, Olivier Darmouni, memperingatkan situasi tersebut bisa menjadi titik kritis bagi industri data center.
“Ini bisa menjadi ‘jerami terakhir yang mematahkan punggung unta’,” ujar Darmouni.
Baca juga:
- BDx Disetop di Jawa Barat, Alarm Kepastian Investasi Data Center Indonesia?
- Data Center BDx 640 MW Disetop, Air Jatiluhur Jadi Sorotan: Seberapa Besar Kebutuhan Air dan Listriknya?
Negara Mulai Perketat Data Center
Sejumlah pemerintah juga mulai mengambil sikap lebih hati-hati terhadap ekspansi pusat data.
Skotlandia menunda persetujuan pembangunan data center hyperscale. Denmark menempatkan proyek data center di antrean belakang dalam memperoleh akses jaringan listrik.
Sementara Spanyol mengusulkan kewajiban agar 80% kebutuhan listrik data center berasal dari energi terbarukan.
Kondisi tersebut memperlihatkan paradoks dalam ledakan investasi AI. Di satu sisi, pemerintah berlomba membangun ekosistem AI dan membutuhkan kapasitas komputasi dalam jumlah sangat besar.
Namun di sisi lain, kebutuhan energi, air, dan lahan dari infrastruktur tersebut mulai berhadapan langsung dengan kepentingan masyarakat.
Penolakan Merembet ke Asia
Resistensi tidak hanya terjadi di negara Barat. Di distrik Geumcheon, Seoul, Korea Selatan, warga meminta pembangunan data center di dekat permukiman dihentikan.
Pemerintah setempat bahkan berencana mewajibkan persetujuan mayoritas masyarakat dalam radius 200 meter dari lokasi proyek.
Situasi itu menjadi tantangan karena Korea Selatan justru menjadikan data center AI sebagai salah satu investasi strategis untuk memperkuat industri AI dan semikonduktor.
Bagi investor, penolakan masyarakat berarti munculnya risiko tambahan berupa pembengkakan biaya hingga molornya pembangunan.
Managing Director Alvarez & Marsal, Asya Walters, menilai kemampuan masyarakat menggagalkan sebuah proyek data center bernilai US$10 miliar merupakan risiko investasi yang sangat besar.
Ledakan AI Hadapi Tembok Baru
Selama beberapa tahun terakhir, kebutuhan data center melonjak seiring semakin masifnya pengembangan AI generatif.
Infrastruktur komputasi dalam skala besar menjadi tulang punggung untuk menjalankan dan mengembangkan model AI.
Namun ekspansi tersebut kini membuat keberadaan data center semakin terlihat oleh masyarakat.
CEO Verne, Dominic Ward, mengatakan industri data center sebelumnya hampir tidak menjadi perhatian publik.
“Dulu kami sama sekali tidak dikenal sebagai bagian dari perekonomian. Kami hanya sebuah kotak hitam. Sekarang kami menjadi salah satu lapisan fundamental yang menggerakkan perekonomian,” ujarnya.
Perubahan tersebut sekaligus membawa konsekuensi. Semakin strategis data center bagi ekonomi digital, semakin besar pula tuntutan masyarakat agar perusahaan menjelaskan dampak lingkungan, kebutuhan sumber daya, dan manfaat ekonominya.
Gelombang penolakan ini akhirnya menjadi pekerjaan rumah baru bagi booming investasi AI. Modal besar dan kebutuhan komputasi saja tidak lagi cukup untuk memastikan sebuah proyek dapat dibangun.
Tanpa dukungan masyarakat, pasokan energi dan air yang berkelanjutan, serta manfaat ekonomi yang dapat dirasakan daerah sekitar, proyek data center bernilai miliaran dolar sekalipun kini berpotensi berhenti sebelum server pertamanya beroperasi.


