Selular.ID – Lonjakan kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI) membuat konsumsi listrik data center semakin besar.
Menjawab tantangan tersebut, ZTE meluncurkan teknologi pusat data terbaru, ZXEDC M8000 Intelligent Computing Micro-Module, yang diklaim mampu meningkatkan efisiensi energi sekaligus mendukung server AI dengan kebutuhan daya sangat tinggi.
Solusi tersebut diperkenalkan dalam ajang Data Center World Asia di Singapura, Kamis (22/10/2026).
ZTE merancang M8000 sebagai infrastruktur Artificial Intelligence Data Center (AIDC) generasi baru yang menggabungkan sistem pendingin udara dan cairan (air-liquid cooling) dengan distribusi listrik 800V High Voltage Direct Current (HVDC).
Teknologi ini dikembangkan untuk menjawab tantangan industri data center, mulai dari meningkatnya kepadatan server AI, kebutuhan daya yang semakin besar, hingga tingginya biaya operasional.
Server AI Makin Rakus Listrik
Pesatnya perkembangan AI mendorong operator data center meningkatkan kapasitas komputasi dalam waktu relatif singkat.
Namun, server AI membutuhkan pasokan listrik dan sistem pendinginan yang jauh lebih kompleks dibandingkan infrastruktur komputasi konvensional.
ZTE menyebut M8000 dirancang untuk mendukung kebutuhan daya sebesar 20–60 kilowatt (kW) per rak, dengan kapasitas puncak mencapai 250 kW per rak.
Kapasitas tersebut memungkinkan pengoperasian server AI berkepadatan tinggi yang membutuhkan pasokan energi besar.
Baca juga:
- XLSmart dan ZTE Uji AI Agent untuk Autonomous Network Level 4
- ZTE Global Summit 2026 Dorong Jaringan Berbasis AI di ASEAN
M8000 menggunakan desain modular prafabrikasi, sehingga berbagai komponen utama dapat disiapkan sejak dari pabrik sebelum dipasang di lokasi.
Pendekatan tersebut bertujuan mempercepat pembangunan pusat data sekaligus mempermudah ekspansi kapasitas.
Teknologi Pendingin Diklaim Pangkas Konsumsi Energi
Salah satu keunggulan utama ZXEDC M8000 terletak pada sistem pendinginan hibrida yang menggabungkan teknologi pendingin udara dan cairan.
Sistem tersebut memungkinkan operator menyesuaikan penggunaan kedua metode pendinginan berdasarkan kebutuhan server.
ZTE mengklaim teknologi ini mampu mencapai nilai Power Usage Effectiveness (PUE) hingga 1,15.
PUE merupakan indikator efisiensi energi pusat data. Semakin mendekati angka 1, semakin kecil energi tambahan yang digunakan di luar kebutuhan perangkat komputasi.
Selain itu, penggunaan distribusi daya 800V HVDC dan smart busbar diklaim mampu menghasilkan efisiensi penyaluran listrik hingga 98%.
ZTE juga mengintegrasikan algoritma AI untuk mengendalikan suhu dan distribusi pendinginan secara otomatis.
Optimalisasi tersebut diklaim dapat memangkas konsumsi energi pendinginan lebih dari 10%.
Dengan demikian, operator data center berpeluang menekan biaya listrik yang menjadi salah satu komponen terbesar dalam pengoperasian infrastruktur komputasi AI.
Bisa Beralih dari Pendingin Udara ke Cairan
M8000 mengintegrasikan berbagai komponen dalam satu sistem, termasuk rak server, unit distribusi cairan pendingin atau Cooling Distribution Unit (CDU), jaringan perpipaan, distribusi listrik, dan pemantauan infrastruktur.
ZTE juga merancang sistem agar operator dapat beralih dari pendingin udara menuju pendingin cair langsung di lokasi tanpa harus mengganti keseluruhan infrastruktur.
Fleksibilitas tersebut menjadi penting karena perkembangan server AI terus mendorong kebutuhan pendinginan yang lebih tinggi.
Perusahaan mengklaim satu arsitektur M8000 dapat mendukung peningkatan perangkat keras IT hingga tiga generasi.
Artinya, operator dapat memperbesar kapasitas komputasi tanpa harus melakukan renovasi besar setiap kali terjadi peningkatan kebutuhan server.
Dari sisi keamanan, ZTE menyatakan M8000 telah memperoleh sertifikasi anti-kebocoran tingkat sistem dari UL.
Perlindungan tersebut mencakup unit pendingin, rak, server, hingga perangkat jaringan yang menggunakan pendingin cair.
Ratusan Modul Sudah Beroperasi di Tiongkok
ZTE mengungkapkan bahwa teknologi M8000 telah digunakan dalam proyek pusat komputasi AI berskala besar di Tiongkok.
Pada 2025, perusahaan memenangkan tender pengadaan 666 modul IT untuk proyek pusat komputasi milik perusahaan internet di kawasan Delta Sungai Yangtze.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 345 unit M8000 IT POD disebut telah beroperasi.
ZTE juga mengklaim sistem prafabrikasi memungkinkan pengiriman modul ke lokasi proyek hanya dalam waktu sekitar satu bulan sejak penerbitan surat pesanan.
Kecepatan tersebut menjadi salah satu keunggulan bagi perusahaan yang membutuhkan pembangunan infrastruktur AI dalam waktu singkat.
Persaingan Data Center AI Semakin Ketat
Kehadiran ZXEDC M8000 menunjukkan bahwa persaingan industri data center tidak lagi hanya berfokus pada kapasitas penyimpanan dan komputasi.
Efisiensi listrik, teknologi pendinginan, kecepatan pembangunan, serta kemampuan mendukung server AI kini menjadi faktor penting dalam pengembangan pusat data generasi berikutnya.
Bagi pasar Asia Pasifik, termasuk Indonesia, teknologi semacam ini relevan seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur untuk mendukung layanan cloud dan kecerdasan buatan.
Namun, ZTE belum mengumumkan proyek penggunaan M8000 secara khusus di Indonesia.
Dengan dukungan daya hingga 250 kW per rak, PUE yang diklaim mencapai 1,15, dan efisiensi distribusi listrik hingga 98%, ZTE berupaya menawarkan solusi bagi industri data center yang menghadapi lonjakan kebutuhan komputasi AI tanpa harus membiarkan konsumsi energi terus membengkak.
Meski demikian, pencapaian efisiensi aktual tetap bergantung pada konfigurasi perangkat, beban kerja, serta kondisi operasional masing-masing pusat data.


