Selular.ID -

Krisis Air Mengancam Data Center AI, 25% Berada di Wilayah Rawan

BACA JUGA

Selular.ID – Pesatnya pembangunan data center untuk mendukung kecerdasan buatan (AI) ternyata menyimpan ancaman lingkungan yang serius.

Studi terbaru mengungkap sekitar 25% pusat data di seluruh dunia berada di wilayah yang mengalami kekurangan pasokan air setidaknya selama satu bulan dalam setahun.

Kondisi tersebut diperkirakan semakin memburuk akibat perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan air untuk mendinginkan server yang menopang layanan AI.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Science & Technology itu memetakan 9.347 data center di berbagai negara.

Baca juga:

Tim peneliti yang dipimpin Carnegie Institution for Science, Amerika Serikat, menemukan bahwa sekitar seperempat fasilitas tersebut berada di wilayah dengan permintaan air yang melebihi ketersediaan pasokan setempat.

Temuan ini menjadi peringatan bagi industri teknologi yang tengah berlomba membangun infrastruktur komputasi AI dalam skala besar.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Sebanyak 33% Data Center Terancam Krisis Air

Berdasarkan pemodelan iklim, jumlah lokasi data center yang mengalami tekanan air berpotensi meningkat dari 25% menjadi 33% dalam sepuluh tahun mendatang.

Proyeksi tersebut menggunakan skenario kenaikan suhu rata-rata global sebesar 3 derajat Celsius dibandingkan tingkat pada 1900.

Artinya, sekitar sepertiga lokasi pusat data yang dipetakan berpotensi menghadapi masalah ketersediaan air apabila kondisi iklim berkembang sesuai skenario tersebut.

Ilmuwan lingkungan Carnegie Institution for Science, Lorenzo Rosa, mengingatkan bahwa pembangunan data center tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan air masyarakat sekitar.

“Fasilitas-fasilitas ini tidak dibangun di wilayah yang kosong. Fasilitas tersebut berdiri di atas sumber pasokan air bagi kota dan lahan pertanian,” ujar Rosa, dikutip dari Science Alert, Sabtu (24/10/2026).

Menurutnya, persaingan penggunaan air dapat meningkat ketika kebutuhan pendinginan pusat data terus bertambah.

Satu Data Center Bisa Habiskan Air Setara 50.000 Orang

Besarnya konsumsi air menjadi salah satu persoalan utama dalam pengoperasian pusat data modern.

Fasilitas data center berukuran besar bahkan dapat menggunakan air dalam sehari setara kebutuhan sebuah kota berpenduduk 50.000 orang.

Air tersebut terutama digunakan untuk menjaga suhu server dan perangkat komputasi agar tetap stabil selama beroperasi.

Kebutuhan pendinginan semakin penting seiring meningkatnya penggunaan server berkinerja tinggi untuk menjalankan model AI.

Berbeda dengan pasokan listrik yang dapat disalurkan melalui jaringan antardaerah, kebutuhan air umumnya bergantung pada sumber lokal.

Data center dapat memanfaatkan air dari sungai, danau, maupun akuifer atau lapisan penyimpan air tanah.

Masalahnya, ketersediaan air dari sumber-sumber tersebut dapat berubah mengikuti musim dan kondisi iklim.

Jika konsumsi meningkat ketika pasokan menurun, pusat data berpotensi menghadapi persaingan penggunaan air dengan masyarakat dan sektor pertanian.

Ratusan Data Center Sudah Alami Kekurangan Air Parah

Studi tersebut juga menemukan bahwa 41% data center berada di lokasi yang harus bersaing dengan kebutuhan air perkotaan dan pemerintah daerah.

Sementara itu, pada 28% lokasi pusat data, sektor pertanian menjadi pengguna air utama.

Kondisi lebih serius ditemukan pada 523 fasilitas atau sedikit lebih dari 5% total data center yang diteliti.

Ratusan fasilitas tersebut berada di wilayah yang mengalami kesenjangan pasokan air selama sedikitnya sembilan bulan dalam setahun.

Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap sumber daya air bukan sekadar ancaman masa depan, melainkan sudah terjadi di sejumlah lokasi.

Peneliti juga mengingatkan bahwa data center memiliki kemampuan finansial untuk mengamankan pasokan air.

Akibatnya, masyarakat dan sektor pertanian yang menggunakan sumber air sama berpotensi menghadapi risiko lebih besar ketika ketersediaan air semakin terbatas.

Raksasa Teknologi Didesak Transparan Soal Penggunaan Air

Selain persoalan konsumsi, penelitian ini menyoroti minimnya transparansi mengenai penggunaan air oleh industri data center.

Selama ini, konsumsi listrik pusat data relatif lebih mudah dipantau karena tercatat dalam sistem pengukuran energi.

Sebaliknya, penggunaan air sering kali tidak dilaporkan secara konsisten.

“Jejak penggunaan energi data center telah diukur secara terperinci karena konsumsi listrik dicatat dan dilaporkan. Kelangkaan air diukur secara lokal, dengan metode yang tidak konsisten, dan sering kali tidak diukur sama sekali,” jelas Rosa.

Menurutnya, keterbatasan informasi tersebut menjadi alasan utama tim peneliti melakukan pemetaan global.

Para peneliti mendorong pemerintah dan regulator menetapkan aturan pelaporan konsumsi air yang lebih transparan.

Dengan demikian, dampak pembangunan pusat data terhadap ketersediaan air masyarakat dapat dipantau sebelum menimbulkan persoalan yang lebih besar.

Data Center AI Harus Cari Teknologi Pendingin Alternatif

Peneliti menilai industri data center perlu mengurangi ketergantungan terhadap sumber air tawar.

Salah satu alternatifnya adalah menggunakan air limbah yang telah diolah untuk kebutuhan pendinginan.

Pilihan lainnya mencakup pemanfaatan air laut yang telah melalui proses pengolahan serta pengembangan teknologi pendinginan yang lebih efisien.

Namun, penerapan teknologi tersebut tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan energi, biaya, dan kondisi lingkungan setempat.

Pemilihan lokasi pembangunan juga menjadi faktor penting karena setiap wilayah memiliki ketersediaan air yang berbeda.

Bagi Indonesia, temuan ini relevan di tengah meningkatnya investasi data center dan kebutuhan infrastruktur AI.

Pengembangan pusat data tidak cukup hanya mempertimbangkan pasokan listrik, konektivitas internet, dan ketersediaan lahan.

Daya dukung sumber air setempat juga perlu menjadi bagian dari perencanaan investasi.

Dengan 25% data center dunia sudah berada di wilayah yang mengalami tekanan air, industri teknologi menghadapi tantangan baru: memperluas kapasitas komputasi AI tanpa memperburuk krisis air bagi masyarakat.

Peneliti menegaskan bahwa keberlanjutan operasional pusat data dalam jangka panjang membutuhkan keputusan lokasi dan tata kelola yang mempertimbangkan keterbatasan sumber daya air.

Tanpa pengelolaan yang tepat, ledakan investasi data center AI berisiko menciptakan persoalan lingkungan baru di tengah upaya dunia mempercepat transformasi digital.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU