Selular.ID – Persaingan penjualan iPhone 18 dan produk Apple di Indonesia tidak hanya berlangsung di antara jaringan toko iBox, Erafone, Digimap, Digiplus, dan hello Store.
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), persaingan juga menarik perhatian melalui kinerja keuangan dan pergerakan saham tiga kelompok ritel besar, yakni ERAA, MAPI, dan BELI.
Menjelang penjualan iPhone 18 Pro Series pada Jumat (16/10/2026), ketiga emiten tersebut memiliki kondisi keuangan yang berbeda.
PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) sama-sama membukukan keuntungan sepanjang 2025 hingga semester I 2026.
Baca juga:
- Adu Banyak Gerai Penjual iPhone 18, iBox, Digimap hingga Erafone Siapa Terbesar?
- Gurita Konglomerat di Balik Penjual iPhone 18, dari Aguan hingga Hartono
Sebaliknya, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), perusahaan pengelola ekosistem Blibli dan hello Store, masih mencatatkan kerugian meskipun pendapatannya terus meningkat.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, MAPI mencatat laba bersih Rp2,7 triliun sepanjang 2025, sedangkan ERAA meraih sekitar Rp1,2 triliun. BELI membukukan rugi konsolidasian Rp2,30 triliun pada periode yang sama.
Perbandingan Keuntungan ERAA, MAPI, dan BELI
Berikut perbandingan kinerja keuangan ketiga emiten berdasarkan laporan tahun buku 2025 dan semester I 2026.
| Emiten | Pendapatan 2025 | Laba/rugi 2025 | Laba/rugi semester I 2026 |
|---|---|---|---|
| ERAA – Erajaya | Rp76,61 triliun | Laba Rp1,20 triliun | Laba Rp784,02 miliar |
| MAPI – Mitra Adiperkasa | Rp43,1 triliun | Laba Rp2,7 triliun | Laba sekitar Rp1,5 triliun |
| BELI – Blibli | Rp22,36 triliun | Rugi Rp2,30 triliun | Masih rugi |
Angka dibulatkan. Data berasal dari laporan perusahaan dan publikasi keuangan. Angka laba/rugi merupakan kinerja grup secara keseluruhan, bukan keuntungan khusus penjualan iPhone atau produk Apple.
Dari tabel tersebut terlihat bahwa ERAA memiliki pendapatan terbesar, tetapi MAPI menghasilkan laba lebih tinggi.
Perbedaan ini mencerminkan karakter bisnis masing-masing perusahaan. Erajaya memiliki eksposur besar pada penjualan perangkat elektronik, sedangkan MAP mengoperasikan portofolio ritel yang lebih beragam, mulai dari produk fesyen, olahraga, makanan dan minuman, hingga teknologi.
Sementara itu, Blibli masih berada dalam tahap memperbaiki profitabilitas melalui pertumbuhan bisnis e-commerce dan ekspansi jaringan ritel fisik.
ERAA: Penjualan Rp76,61 Triliun, Laba Tumbuh 15,8%
PT Erajaya Swasembada Tbk menjadi salah satu pemain utama penjualan perangkat Apple di Indonesia melalui jaringan iBox dan Erafone.
Sepanjang 2025, ERAA membukukan penjualan Rp76,61 triliun, meningkat 17,4% dibandingkan tahun sebelumnya.
Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai sekitar Rp1,20 triliun, tumbuh 15,8% secara tahunan.
Kinerja positif berlanjut pada semester I 2026. Penjualan ERAA mencapai Rp42,90 triliun, meningkat 22,39% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, laba bersih naik 37,96% menjadi Rp784,02 miliar dari sebelumnya Rp568,30 miliar.
Dari total penjualan semester I 2026, segmen telepon seluler dan tablet menyumbang Rp32,45 triliun, memperlihatkan besarnya kontribusi bisnis perangkat komunikasi terhadap pendapatan perseroan.
MAPI: Laba Rp2,7 Triliun, Digimap dan Digiplus Jadi Andalan
PT Mitra Adiperkasa Tbk atau MAP mengoperasikan jaringan Digimap dan Digiplus sebagai bagian dari portofolio bisnis teknologi.
Sepanjang 2025, MAPI membukukan pendapatan Rp43,1 triliun, meningkat 13,9% dibandingkan tahun sebelumnya.
Laba bersih mencapai Rp2,7 triliun, tumbuh 26,6% secara tahunan.
Memasuki semester I 2026, pendapatan MAPI meningkat 23,4% menjadi Rp24,2 triliun. Laba bersih periode tersebut mencapai sekitar Rp1,5 triliun, naik 26,9%.
Khusus kuartal II 2026, MAP mencatat laba bersih Rp690 miliar, meningkat 19,4% dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya.
Manajemen MAP sebelumnya juga menyebut peluncuran iPhone 17 pada Oktober 2025 turut mendukung percepatan permintaan konsumen pada kuartal IV tahun tersebut.
BELI: Penjualan Naik, tetapi Masih Merugi
Berbeda dengan ERAA dan MAPI, PT Global Digital Niaga Tbk masih menghadapi tantangan untuk mencapai keuntungan bersih.
Perusahaan yang mengelola Blibli dan memiliki jaringan hello Store tersebut mencatat pendapatan Rp22,36 triliun sepanjang 2025, meningkat 34% dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, BELI masih membukukan rugi tahun berjalan konsolidasian Rp2,30 triliun. Angka tersebut membaik dibandingkan kerugian Rp2,53 triliun pada 2024.
Pertumbuhan bisnis terutama ditopang meningkatnya volume penjualan smartphone secara omnichannel serta ekspansi toko fisik.
Pada akhir 2025, Blibli mengoperasikan 265 toko elektronik konsumen, terdiri atas 141 toko merek tunggal dan 124 toko multibrand.
Dengan demikian, meskipun bisnis penjualan perangkat elektronik terus berkembang, BELI masih harus memperkuat efisiensi operasional untuk mencapai profitabilitas yang berkelanjutan.
Harga Saham ERAA, MAPI, dan BELI pada 15 Oktober 2026
Selain membandingkan keuntungan, pergerakan saham ketiga perusahaan juga menarik dicermati menjelang penjualan iPhone 18 Pro Series.
Berdasarkan data historis perdagangan yang diperbarui pada Kamis (15/10/2026), berikut perbandingan harga saham ketiga emiten.
| Saham | 14 Oktober | 15 Oktober | Perubahan |
|---|---|---|---|
| ERAA | Rp625 | Rp615 | -1,60% |
| MAPI | Rp1.565 | Rp1.500 | -4,15% |
| BELI | Rp314 | Rp318 | +1,27% |
Harga per lembar saham dalam rupiah, berdasarkan data perdagangan 15 Oktober 2026 yang ditampilkan Stock Analysis.
Harga nominal per saham, bukan ukuran nilai perusahaan.
Saham MAPI tercatat memiliki harga nominal tertinggi di antara ketiganya, yakni Rp1.500 per lembar, meskipun mengalami penurunan 4,15% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Saham ERAA berada di level Rp615 atau melemah 1,60%. Sebaliknya, BELI menguat 1,27% menjadi Rp318 per lembar.
Meski demikian, harga nominal saham yang lebih tinggi tidak otomatis menunjukkan perusahaan lebih bernilai atau lebih menguntungkan.
Penilaian tersebut juga membutuhkan perbandingan kapitalisasi pasar, jumlah saham beredar, laba, dan valuasi.
MAPA atau MAPI, Mana yang Membawahi Digimap?
Dalam membandingkan emiten penjual produk Apple, terdapat perbedaan penting antara saham MAPI dan MAPA.
Digimap dan Digiplus merupakan bagian dari PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), bukan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA).
MAPA lebih berfokus pada bisnis ritel produk olahraga dan gaya hidup aktif, sedangkan Digimap serta Digiplus berada dalam portofolio bisnis teknologi MAP Group. Karena itu, MAPI menjadi pembanding yang lebih relevan untuk jaringan Digimap dan Digiplus.
Penjualan iPhone 18 Bisa Dongkrak Kinerja Kuartal IV?
Peluncuran iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max berpotensi menjadi momentum penjualan penting bagi ERAA, MAPI, dan BELI pada kuartal IV 2026.
Bagi ERAA, penjualan iPhone melalui iBox dan Erafone dapat memperkuat kontribusi segmen smartphone yang sudah mendominasi pendapatan perusahaan.
Sementara MAPI memiliki peluang meningkatkan penjualan melalui Digimap dan Digiplus, melengkapi bisnis ritelnya yang telah menghasilkan laba triliunan rupiah.
Di sisi lain, BELI dapat memanfaatkan jaringan hello Store dan platform Blibli untuk memperluas penjualan produk Apple sekaligus meningkatkan kontribusi bisnis toko fisik.
Namun, penjualan iPhone 18 yang tinggi belum tentu langsung menghasilkan kenaikan laba bersih dengan besaran yang sama.
Margin keuntungan, biaya promosi, cicilan, persediaan, dan biaya operasional tetap menentukan hasil akhir.
Hingga laporan keuangan semester I 2026, MAPI mencatat laba terbesar, ERAA unggul dari sisi pendapatan, sedangkan BELI masih berupaya menekan kerugian.
Persaingan ketiga emiten dalam memperebutkan pasar iPhone 18 baru akan terlihat lebih jelas setelah mereka mengumumkan kinerja keuangan kuartal IV dan tahun penuh 2026.


