Selular.ID -

51% Konsumen Indonesia Batal Belanja Online, Gara-Gara Metode Pembayaran!

BACA JUGA

Selular.ID – Lebih dari separuh konsumen Indonesia ternyata pernah membatalkan transaksi belanja online hanya karena metode pembayaran yang mereka inginkan tidak tersedia.

Temuan ini menjadi peringatan bagi pelaku e-commerce dan toko online untuk menyediakan pilihan pembayaran digital yang lebih beragam.

Berdasarkan Xendit Ecommerce Payments Momentum Report 2026, sebanyak 51% responden Indonesia mengaku membatalkan pembelian online dalam tiga bulan terakhir akibat keterbatasan metode pembayaran.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi di antara enam negara Asia Tenggara yang disurvei, jauh melampaui Malaysia yang mencatat persentase 31%.

Laporan yang dirilis Xendit bersama perusahaan intelijen pasar e-commerce Cube pada Kamis (15/10/2026) ini melibatkan 6.000 konsumen di enam negara, termasuk 1.000 responden dari Indonesia.

Dompet Digital Jadi Andalan Konsumen Indonesia

Presiden Xendit, Nazim Ali, mengatakan perilaku pembayaran masyarakat Indonesia mengalami perubahan signifikan seiring meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

“Konsumen Indonesia kini semakin meninggalkan pembayaran tunai. Pertanyaannya, apakah pelaku usaha mampu mengimbangi perubahan ini dengan menyediakan pilihan pembayaran yang sesuai?” ujar Nazim.

Menurutnya, ketersediaan metode pembayaran menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan transaksi online.

Baca juga:

Laporan Xendit menunjukkan 70% responden Indonesia menggunakan dompet digital untuk setidaknya separuh transaksi belanja online mereka.

Persentase tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan lima negara Asia Tenggara lainnya dalam survei.

Secara keseluruhan, dompet digital digunakan dalam sekitar 60% pembelian yang dilakukan responden Indonesia.

Beberapa layanan yang menjadi pemain utama adalah DANA, GoPay, OVO, dan ShopeePay.

Menariknya, laporan tersebut menyebut tidak ada satu merek dompet digital yang mendominasi pasar secara mutlak.

Transaksi QRIS Melonjak 142%

Selain dompet digital, penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menunjukkan pertumbuhan pesat.

Data transaksi pada platform Xendit memperlihatkan pembayaran QRIS meningkat 142% sepanjang Januari 2025 hingga April 2026.

Pertumbuhan tersebut jauh melampaui transaksi kartu kredit yang meningkat 83% dalam periode yang sama.

Sementara itu, transfer bank diperkirakan digunakan dalam 52% dari total pembelian responden survei.

Peningkatan penggunaan QRIS memperlihatkan semakin kuatnya preferensi konsumen terhadap metode pembayaran digital yang praktis dan dapat diproses secara real-time.

Xendit juga menyoroti perkembangan pembayaran QRIS lintas negara melalui integrasi dengan PromptPay di Thailand dan DuitNow di Malaysia.

Menurut laporan tersebut, jaringan pembayaran real-time di Asia Tenggara diperkirakan semakin terintegrasi secara regional pada 2027.

Pembayaran COD Mulai Ditinggalkan

Di tengah meningkatnya transaksi digital, metode pembayaran tunai saat barang diterima atau cash on delivery (COD) mulai kehilangan popularitas.

Sebanyak 40% responden Indonesia mengaku kini lebih jarang menggunakan COD dibandingkan setahun sebelumnya.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Thailand yang mencapai 45%.

Meski demikian, COD belum sepenuhnya ditinggalkan konsumen.

Laporan Xendit menunjukkan metode tersebut masih digunakan dalam sekitar 40% pembelian responden, meskipun kontribusinya terhadap total nilai transaksi e-commerce relatif lebih rendah.

Temuan lainnya menunjukkan bahwa diskon dan cashback menjadi alasan utama konsumen Asia Tenggara beralih menggunakan metode pembayaran tertentu.

Insentif promosi tersebut bahkan dinilai lebih berpengaruh dibandingkan kecepatan pengembalian dana maupun faktor keamanan pembayaran.

AI Mulai Mengubah Kebiasaan Belanja Online

Laporan Xendit juga menemukan perubahan perilaku konsumen dalam mencari dan membandingkan produk sebelum melakukan pembelian.

Di Asia Tenggara, sebanyak 53% konsumen menggunakan kecerdasan buatan generatif atau generative AI untuk menemukan produk.

Sementara itu, 78% konsumen memanfaatkan AI generatif untuk mencari informasi dan membandingkan produk sebelum membeli.

Persentase tersebut melampaui penggunaan mesin pencari sebesar 74% dan situs ulasan produk sebesar 72%.

Temuan ini menunjukkan bahwa AI mulai memainkan peran penting dalam perjalanan belanja konsumen, mulai dari pencarian produk hingga pengambilan keputusan pembelian.

E-commerce Terancam Kehilangan Penjualan

Perubahan perilaku pembayaran terjadi ketika industri e-commerce Asia Tenggara kembali menunjukkan pertumbuhan.

Menurut laporan Xendit, penjualan melalui Shopee, Lazada, dan TikTok Shop meningkat sekitar 33% pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, pertumbuhan transaksi tersebut juga menghadirkan tantangan bagi pelaku usaha.

Konsumen kini memiliki preferensi pembayaran yang semakin beragam, sehingga keterbatasan pilihan pembayaran berpotensi membuat transaksi gagal diselesaikan.

Nazim menegaskan bahwa pelaku usaha perlu memahami perkembangan metode pembayaran, bukan sekadar menyediakan banyak pilihan.

“Kuncinya bukan sekadar menyediakan berbagai metode pembayaran, tetapi juga memahami tren penggunaan dan pertumbuhan metode pembayaran, serta peluang bisnis yang mengiringinya,” jelas Nazim.

Bagi pelaku e-commerce dan UMKM digital di Indonesia, temuan ini menjadi sinyal penting bahwa pengalaman pembayaran merupakan bagian dari strategi mempertahankan pelanggan.

Dengan 51% konsumen pernah membatalkan belanja online akibat metode pembayaran yang tidak tersedia, penyediaan QRIS, dompet digital, transfer bank, dan metode pembayaran lain yang relevan dapat membantu mengurangi risiko kehilangan transaksi.

Persaingan bisnis digital pun kini tidak hanya ditentukan oleh harga produk dan promosi, tetapi juga kemudahan konsumen menyelesaikan pembayaran.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU