Selular.ID -

Gurita Konglomerat di Balik Penjual iPhone 18, dari Aguan hingga Hartono

BACA JUGA

Selular.ID – Bisnis penjualan iPhone 18 di Indonesia bukan sekadar persaingan antartoko gadget yang selama ini kita kenal.

Di balik jaringan distributor dan reseller resmi Apple seperti iBox, Digimap, dan Hello Store, terdapat kelompok bisnis besar yang memiliki hubungan dengan sejumlah konglomerat Indonesia, mulai dari Sugianto Kusuma alias Aguan, keluarga Hartono pemilik Grup Djarum, hingga pemegang saham pengendali Mitra Adiperkasa (MAP).

Kehadiran generasi terbaru iPhone menjadi momentum bagi jaringan ritel tersebut untuk memperkuat penjualan smartphone premium. Apalagi, produk Apple memiliki basis konsumen loyal dan ekosistem perangkat yang luas.

Menariknya, sejumlah pemain utama bisnis ritel Apple di Indonesia memiliki struktur kepemilikan yang terhubung dengan kelompok usaha besar di sektor properti, perbankan, perdagangan, hingga ekonomi digital.

Nama Aguan dan keluarga Hartono bahkan kerap dikaitkan dengan kelompok konglomerat yang populer disebut Sembilan Naga. Namun, istilah tersebut merupakan julukan informal, bukan kategori resmi kepemilikan perusahaan.

Aguan dan Rebecca Halim di Balik Gurita Bisnis Erajaya

Salah satu pemain terbesar dalam distribusi dan penjualan produk Apple di Indonesia adalah PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA).

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Perusahaan ini menaungi ekosistem bisnis ritel teknologi melalui Erajaya Digital, termasuk jaringan iBox, Erafone, dan Urban Republic.

Di balik Erajaya terdapat hubungan kepemilikan dengan keluarga konglomerat Sugianto Kusuma atau Aguan, pengusaha yang juga dikenal melalui bisnis properti.

Berdasarkan informasi dalam prospektus penawaran saham perdana Erajaya, Aguan tercatat memiliki keterkaitan kepemilikan melalui PT Catur Kusuma Abadi Sejahtera.

Sementara itu, Rebecca Halim, istri Aguan, tercatat sebagai penerima manfaat akhir atau ultimate beneficial owner (UBO) dari PT Erajaya Swasembada Tbk dan PT Sinar Eka Selaras Tbk.

Berdasarkan data kepemilikan saham per 27 Februari 2026, PT Eralink International menjadi pemegang saham terbesar Erajaya dengan porsi sekitar 55,17%.

Rebecca memiliki hubungan pengendalian tidak langsung melalui perusahaan tersebut, meskipun tidak tercatat memiliki saham langsung di atas 1% pada kedua emiten.

Kekuatan Erajaya dalam bisnis Apple terletak pada jaringan distribusi, gerai fisik, kanal penjualan online, serta layanan purnajual yang menjangkau berbagai kota di Indonesia.

Dengan jaringan iBox yang luas, Erajaya menjadi salah satu kelompok usaha yang berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya permintaan iPhone generasi terbaru.

Baca juga:

Keluarga Hartono dan Grup Djarum Kuasai Ekosistem Blibli

Selain Erajaya, bisnis penjualan produk Apple juga melibatkan kelompok usaha milik keluarga Hartono melalui PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), perusahaan pengelola Blibli.

Blibli merupakan bagian dari ekosistem bisnis Grup Djarum yang dikembangkan keluarga Hartono, salah satu keluarga konglomerat terbesar di Indonesia.

Dalam struktur kepemilikannya, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono tercatat sebagai pemilik manfaat akhir PT Global Digital Niaga Tbk.

Berdasarkan laporan tahunan perusahaan 2024, pemegang saham pengendali Blibli adalah PT Global Investama Andalan dengan kepemilikan sebesar 77,03% pada akhir tahun tersebut.

Melalui ekosistem omnichannel, Blibli menggabungkan penjualan online dengan jaringan toko fisik untuk memperkuat bisnis produk elektronik dan perangkat premium.

Salah satu jaringan yang berada dalam ekosistem tersebut adalah Hello Store atau hello, yang menyediakan berbagai produk Apple bagi konsumen Indonesia.

Blibli juga mengembangkan konsep Apple Shop melalui anak usahanya, PT Global Teknologi Niaga.

Ekosistem ini memungkinkan perusahaan menjangkau pembeli iPhone melalui berbagai saluran, mulai dari marketplace, toko fisik, hingga program pembiayaan dan layanan perlindungan perangkat.

Dengan dukungan kelompok usaha keluarga Hartono, Blibli memiliki peluang memperkuat persaingan di pasar ritel produk Apple, terutama melalui integrasi layanan digital dan jaringan penjualan fisik.

Digimap dan Konglomerasi Ritel Mitra Adiperkasa

Pemain besar lainnya adalah Digimap, jaringan penjualan produk Apple yang berada di bawah kelompok usaha PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) atau MAP Group.

Berbeda dengan Erajaya yang berfokus pada perangkat teknologi, MAP merupakan konglomerasi ritel yang memiliki portofolio luas di sektor fesyen, olahraga, makanan dan minuman, hingga gaya hidup.

MAP dikenal melalui pengelolaan berbagai merek internasional seperti Zara, Starbucks, SOGO, SEIBU, dan sejumlah merek global lainnya.

Dalam bisnis produk Apple, MAP mengembangkan Digimap sebagai jaringan ritel yang menawarkan perangkat iPhone, iPad, Mac, Apple Watch, dan aksesori.

MAP juga memiliki jaringan Digiplus yang memperluas jangkauan penjualan perangkat teknologi.

Salah satu tokoh penting dalam perkembangan MAP adalah Virendra Prakash Sharma atau V.P. Sharma, yang bergabung sejak 1995 dan berperan dalam membangun bisnis perusahaan.

Namun, posisi sebagai tokoh penting manajemen tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai pemilik manfaat akhir atau pengendali saham perusahaan.

Karena itu, kepemilikan MAP perlu dibedakan antara kelompok pemegang saham pengendali, jajaran manajemen, dan pengelola jaringan Digimap.

Bisnis iPhone Jadi Arena Persaingan Konglomerat

Besarnya jaringan ritel yang dimiliki Erajaya, Blibli, dan MAP menunjukkan bahwa penjualan iPhone di Indonesia telah menjadi bagian dari persaingan kelompok usaha besar.

Ketiganya tidak hanya mengandalkan penjualan perangkat, tetapi juga mengembangkan layanan pembiayaan, aksesori, perlindungan perangkat, serta pengalaman belanja konsumen.

Persaingan tersebut semakin penting ketika smartphone premium menjadi salah satu segmen yang menawarkan peluang pendapatan besar bagi perusahaan ritel teknologi.

Namun, keuntungan penjualan iPhone tidak otomatis seluruhnya mengalir kepada pemegang saham pengendali.

Pendapatan dan laba harus memperhitungkan harga pembelian perangkat, biaya operasional, promosi, serta pembagian keuntungan dalam rantai distribusi.

Selain itu, distributor resmi, importir, dan Apple Authorized Reseller memiliki peran bisnis berbeda, meskipun sama-sama terlibat dalam pemasaran produk Apple.

Peluncuran iPhone 18 menjadi kesempatan bagi jaringan-jaringan tersebut untuk memperkuat pangsa pasar dan meningkatkan transaksi menjelang akhir tahun.

Di balik persaingan iBox, Digimap, dan Hello Store, terdapat kekuatan modal, jaringan distribusi, dan strategi bisnis kelompok konglomerasi yang telah lama beroperasi di Indonesia.

Persaingan mereka memperlihatkan bahwa bisnis smartphone premium bukan hanya pertarungan merek perangkat, tetapi juga persaingan ekosistem ritel dan investasi yang menopangnya.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU