Seperti Indonesia dan Finlandia, Proyek Data Center India Diprotes Warga, Pasokan Air Jadi Kekhawatiran Utama

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Gambar borgol melingkari logo Google pada sebuah poster kampanye, sementara poster lainnya memperingatkan bahwa orang “tidak bisa meminum data”.

Kampanye tersebut dilakukan sejumlah aktivis lingkungan, di tengah meningkatnya penentangan terhadap rencana pembangunan fasilitas raksasa AI milik raksasa teknologi itu di India.

Dilansir dari laman Techxplore, saat ini alat berat ekskavator telah mulai beroperasi, membersihkan hutan dan lahan pertanian di pesisir tenggara untuk proyek pembangunan pusat data terbesar Google di luar Amerika Serikat yang menelan biaya 15 miliar dolar AS.

Proyek yang berlokasi di Visakhapatnam—sebuah kota pelabuhan di negara bagian Andhra Pradesh yang kerap disebut Vizag—ini dijagokan oleh India sebagai pilar utama ambisi teknologinya.

Namun, banyak warga khawatir pusat data tersebut—salah satu dari beberapa lokasi teknologi baru berskala besar di Vizag—akan membebani sumber daya air dan listrik, merusak lingkungan, serta hanya memberikan sedikit lapangan kerja sebagai imbalannya.

Seorang petani bernama Chandala Sadamma mengatakan kepada AFP bahwa saat melihat bekas lahan gundul tanah merah di tempat pohon mangga dan jambu mete miliknya pernah tumbuh, “Saya merasa ingin menangis.”

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Ia menerima bayaran lebih dari 82.000 dolar AS untuk lahan seluas dua ekar (0,8 hektare) tersebut, namun transaksi itu menyisakan rasa pahit.

“Ada perusahaan yang datang dan, tanpa menunjukkan rasa hormat, mereka mengambil lahan tersebut dan kami menerimanya,” ujar pria berusia 50 tahun itu.

Vizag merupakan titik pendaratan bagi kabel internet bawah laut yang menghubungkan negara tersebut dengan Singapura; oleh karena itu, bagi India, lokasi seluas 600 ekar (243 hektare)—yang setara dengan lebih dari 340 lapangan sepak bola—ini sangatlah ideal.

Investasi “Pusat AI” ini merupakan “komitmen jangka panjang selama beberapa dekade” yang disertai dengan “kewajiban untuk menjadi tetangga yang baik,” kata Alexander Smith, kepala infrastruktur dan energi Google untuk wilayah Asia-Pasifik.

“Kondisi daerah aliran sungai, jaringan listrik, dan masyarakat di sekitar fasilitas kami harus menjadi lebih baik dengan kehadiran kami di sini.”

Pemerintah Andhra Pradesh menyampaikan kepada AFP bahwa selain kompensasi finansial, perumahan baru juga sedang dibangun dan diserahkan kepada warga yang sebelumnya tinggal di lokasi tersebut.

Baca Juga: Deretan Data Center AI Raksasa di Indonesia, Investasi Tembus Rp80 Triliun

Aktivis Lingkungan Tuntut Moratorium

Pemerintah dan perusahaan teknologi di seluruh dunia menggelontorkan dana triliunan dolar untuk pusat data—bangunan berbentuk kotak yang dipenuhi rak-rak server komputer yang menjalankan berbagai aplikasi dan perangkat AI.

Namun, perkembangan ini memicu reaksi keras di banyak negara; otoritas Finlandia baru-baru ini memerintahkan penghentian pembangunan dua lokasi pusat data Google sembari menunggu dilakukannya penilaian lingkungan yang diwajibkan.

Di Indonesia, otoritas setempat, khususnya pemda Jawa Barat, baru-baru ini telah menghentikan sementara pembangunan data center milik BDx.

Hanya berlokasi sekitar lima kilometer dari waduk Jatiluhur, pembangunan data center merangkap kampus AI tersebut dikhawatirkan memicu persoalan lingkungan, terurama berkurangnya ketersediaan air bagi masyarakat dan kawasan pertanian yang selama ini bergantung pada waduk Jatiluhur .

Para aktivis di Andhra Pradesh juga menuntut diberlakukannya moratorium pembangunan pusat data baru di seluruh negara bagian tersebut hingga evaluasi independen mengenai dampak lingkungan dan sosial dipublikasikan.

“Amerika Serikat memiliki garis pantai yang sangat panjang. Mereka bisa saja membangunnya di sana,” ujar Gutta Rohith dari kelompok kampanye lokal Human Rights Forum kepada AFP dalam sebuah pertemuan yang dihadiri sekitar 150 orang.

Penentangan terhadap pusat data—termasuk di Amerika Serikat—sering kali menyoroti penggunaan sumber daya air setempat untuk mendinginkan server yang panas.

Google menyatakan akan menggunakan teknologi pendingin udara “canggih” untuk fasilitasnya di India, sementara pemerintah negara bagian tersebut berencana membangun enam pembangkit listrik tenaga nuklir berkapasitas 1,2 gigawatt seiring melonjaknya permintaan energi.

Meski demikian, penggunaan air tetap menjadi kekhawatiran bagi warga, terutama mengingat adanya rencana untuk menjadikan Vizag sebagai pusat teknologi berskala besar (megahub).

“Mereka bilang Google hadir demi peluang pendidikan dan lapangan kerja bagi anak-anak kami,” ujar Gubbala Ramanamma, seorang pemilik toko.

Namun, “kami saja sudah kesulitan menghadapi kelangkaan air,” kata wanita berusia 57 tahun itu sembari berdiri di samping sebuah sumur yang kering.

Harga Tanah Melonjak Tajam

Google menyatakan bahwa pusat datanya akan menghasilkan aktivitas ekonomi lokal senilai $688 juta setiap tahun dan mendukung sekitar 4.200 lapangan kerja selama masa konstruksi, serta menyediakan ratusan pekerjaan khusus setelah beroperasi pada tahun 2028.

Pemerintah Andhra Pradesh juga memperkirakan akan terciptanya “188.000 lapangan kerja langsung dan tidak langsung.”

Akan tetapi, Rohith berpendapat bahwa manfaat ekonomi dari fasilitas yang menyerupai gudang besar tersebut belum tentu akan berdampak langsung hingga ke tingkat masyarakat bawah.

“Kami membutuhkan lapangan kerja massal dan industri padat karya, bukan industri padat modal.”

Google bukan satu-satunya pihak yang terlibat; sebuah usaha patungan antara Reliance Industries, Brookfield, dan Digital Realty sedang menanamkan investasi sebesar $11 miliar untuk pusat data AI lainnya di Vizag.

Harga tanah telah melonjak rata-rata “lebih dari 45%” sejak kota tersebut mengumumkan rencana pembangunannya, ungkap E. Ashok Kumar, ketua cabang Visakhapatnam dari Confederation of Real Estate Developers’ Associations of India.

Sementara itu, seiring dengan pesatnya penggunaan AI, negara dengan populasi terbesar di dunia ini telah meluncurkan berbagai insentif untuk menarik perusahaan teknologi raksasa, termasuk pemotongan pajak.

Meskipun penggunaan internet dan aplikasi yang meluas di negara ini menghasilkan hampir seperlima dari total data digital dunia, India hanya memiliki sekitar 3% dari kapasitas pusat data global, menurut data pemerintah.

Menteri Teknologi Andhra Pradesh, Nara Lokesh, dalam sebuah wawancara dengan AFP pada bulan Februari, mengungkapkan adanya kesepakatan investasi senilai $175 miliar yang mencakup 760 proyek—dan berjanji untuk “melaksanakan proyek-proyek ini dengan kecepatan yang belum pernah disaksikan negara ini sebelumnya.”

Lokesh juga menegaskan bahwa “kebutuhan hunian akan selalu diprioritaskan dibandingkan pusat data,” menurut sebuah pernyataan.

“Kebutuhan air bagi masyarakat kami akan selalu menjadi prioritas utama.”

Aktivis lingkungan asal Visakhapatnam, E.A.S. Sarma—yang merupakan mantan pejabat senior pemerintah yang pernah bertugas di kementerian kelistrikan dan keuangan—telah menyerukan dilakukannya audit air oleh lembaga independen.

“Peradaban pernah musnah akibat kekurangan air,” ia memperingatkan.

Baca Juga: PBB Ungkap Bahaya Data Center AI, Air Bersih 1,3 Miliar Orang Terancam

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU