Selular.ID – GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show) 2026 menjadi panggung bagi banyak mobil baru sekaligus memperlihatkan perubahan selera konsumen Indonesia.
Berdasarkan rekap Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) dari sejumlah merek pada Kamis (20/8/2026), kendaraan elektrifikasi mulai mengisi posisi penting dalam daftar model dengan pemesanan terbanyak.
Toyota masih memimpin perolehan SPK dengan 6.175 unit. Penjualan Toyota ditopang oleh model elektrifikasi seperti Innova Zenix Hybrid dan Veloz Hybrid.
Toyota mencatat total 6.175 SPK selama GIIAS 2026 dan menjadi merek dengan pemesanan terbanyak sejauh data yang telah diumumkan. Innova Zenix Hybrid dan Veloz Hybrid menjadi dua model yang ikut menopang pencapaian tersebut.
Posisi berikutnya ditempati BYD yang mengumpulkan lebih dari 4.000 SPK. BYD M6 menjadi salah satu model yang memberikan kontribusi besar terhadap penjualan selama pameran.
Chery berada di posisi ketiga melalui capaian 3.500 SPK. Sekitar separuh pemesanan Chery berasal dari Chery Q, mobil listrik yang bermain di segmen harga lebih terjangkau.
Performa mobil listrik semakin terlihat dari hasil penjualan Wuling. Dari total 3.290 SPK, sebanyak 2.238 unit atau sekitar 68% berasal dari Wuling Aira EV.
Baca Juga: Perang Mobil Listrik di GIIAS 2026, Sejumlah Vendor Fokus Hal Ini
Geely juga mencatat pola serupa. Geely Group mengumpulkan 3.033 SPK, sementara sekitar 70% di antaranya disumbang oleh Geely EX2.
GAC Aion mencatat 2.170 SPK, lalu Aion V menjadi model dengan pemesanan terbanyak sebanyak 1.122 unit. Mitsubishi juga mengumpulkan 3.212 SPK, termasuk kontribusi Xforce Hybrid yang mencapai lebih dari 1.000 unit.
Data tersebut memperlihatkan bahwa mobil listrik dan hybrid mulai menjadi penopang penjualan sejumlah merek di GIIAS 2026. Model elektrifikasi bahkan mampu menyumbang porsi besar dari total SPK beberapa pabrikan.
Persaingan SPK juga terjadi di kelompok merek yang mencatat lebih dari 1.000 unit. Suzuki mengumpulkan 1.336 SPK, diikuti Isuzu sebanyak 1.180 unit dan Changan 1.120 unit.
MG Motor mencatat 1.088 SPK, sedangkan Jetour berada di angka 1.038 SPK. iCar juga berhasil membukukan lebih dari 1.000 SPK selama pameran.
Berikutnya terdapat DFSK dengan 625 SPK, Daihatsu 591 SPK, BAIC 407 SPK, serta GWM yang mengumpulkan lebih dari 350 SPK.
Di sisi lain, meski Toyota meraih SPK tertinggi, mencapai 6.175 unit, terdapat fenomena menarik: pertumbuhannya dalam beberapa tahun terakhir ternyata nyaris stagnan.
Bandingkan 5.947 unit (2.025), 6.202 unit (2024), dan 5.796 unit (2023). Angka itu menunjukkan, permintaan terhadap Toyota naik turun tipis.
Walau tidak ada lonjakan yang signfikan, ternyata apa yang dibeli oleh konsumen berubah drastis. Lihat saja pencapaian Kijang Innova.
Varian SUV paling popular itu, meraih total 2.221 SPK, dengan Innova Zenix Hybrid menyumbang 1.669 unit., setara dengan 75% dari total Innova.
Fakta itu menunjukkan, porsi kendaraan elektrivikasi (xEV) besutan Toyota, ternyata berlipat dua hanya dalam dua tahun terakhir. Dari 27% pada 2024 (sekitar 1.742 unit), menjadi 34% pada 2025. Lalu melompat ke 56% di 2026.
Kesimpulannya, orang Indonesia tetap membeli mobil keluaran Toyota terutama karena loyalitas terhadap mereknya, namun sekarang memilih versi berbeda, yaitu hybrid atau listriknya.
Meski masih mendominasi SPK GIIAS 2026, Toyota wajib berhati-hati. Pasalnya, jika semua merek China digabung, – totalnya mencapai lebih dari 21.000 unit – jumlah itu sudah lebih dari tiga kali lipat raihan Toyota sendirian.
Tak dapat dipungkiri, penetrasi kuat dari merek-merek baru asal China, mulai mengubah wajah industri otomotif Indonesia. Ini adalah trend baru, mengingat selama lebih dari lima dekade pasar mobil nasional dikuasai produsen Jepang.
Keberhasilan merek-merek China, menunjukkan Industri otomotif Indonesia sedang memasuki babak baru dengan meningkatnya popularitas mobil listrik (electric vehicle/EV).
Dengan menembus posisi elit, seperti ditujukan BYD, Jaceoo, dan Cherry, kehadiran merek-merek China bukan hanya sebagai pengisi pasar, tetapi sebagai pemain utama yang berhasil menarik minat konsumen lokal dengan kombinasi harga kompetitif, teknologi modern, dan desain yang menarik.
Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam pola konsumsi kendaraan di Indonesia. Tak lagi didominasi oleh kendaraan berbahan bakar fosil, konsumen mulai melirik alternatif yang lebih ramah lingkungan dan efisien secara energi.
Tak dapat dipungkiri, agresifitas para pabrikan asal China yang menyerbu bagai air bah, membuat Toyota tak lagi nyaman di posisi puncak.
Sejauh ini Toyota masih mengandalkan strategi hybrid sebagai mesin penjualan. Padahal tren pasar telah menunjukkan, mobil listrik semakin diterima masyarakat Indonesia.
Apalagi banyak kalangan menilai teknologi hybrid mungkin hanyalah teknologi transisi.
Alhasil, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, Toyota bisa kehilangan pangsa pasar dominannya di Indonesia jika gagal mempercepat strategi kendaraan listrik (EV) yang terjangkau, sementara para pesaing baru semakin agresif merebut pasar EV yang sedang tumbuh pesat.
Baca Juga: Toyota Manjakan Pemilik EV, Gelontorkan 28 Slot Parkir Eksklusif di Bekasi


