Selular.ID – Hypernet Technologies resmi meluncurkan TokenKu.ai, platform yang menawarkan akses ke lebih dari 120 model AI global melalui satu pintu.
Solusi baru perusahaan di bawah naungan XLSMART tersebut membidik kebutuhan perusahaan yang ingin mengadopsi kecerdasan buatan tanpa direpotkan banyak akun, tagihan kartu kredit dalam mata uang asing, hingga pengelolaan biaya AI yang semakin kompleks.
TokenKu.ai diperkenalkan Hypernet Technologies di Jakarta, Minggu (13/9/2026).
Platform ini mengusung konsep “Satu Gateway untuk Semua Model AI” dengan sistem kendali terpusat untuk kebutuhan perusahaan.
Baca juga:
- Google Gulirkan Fitur Efek Kamera Berbasis AI di Aplikasi Google Messages
- Persaingan Smartphone Premium Huawei Mate XT 2 Tantang Dominasi Seri iPhone
Kehadirannya menjadi menarik ketika pemanfaatan AI di lingkungan kerja terus meningkat.
Mengacu data yang disertakan Hypernet, Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 dari PwC menyebut 96% pekerja Indonesia yang menggunakan AI generatif setiap hari merasa lebih produktif.
Studi Unlocking Indonesia’s AI Potential 2026 dari Strand Partners untuk Amazon Web Services juga menyebut 75% bisnis Indonesia yang mengadopsi AI memperoleh peningkatan produktivitas terukur, bahkan mencapai 84% pada perusahaan yang menerapkan agentic AI.
Karyawan Pakai AI Sendiri Jadi Masalah Baru
Di balik peningkatan produktivitas tersebut, perusahaan menghadapi persoalan Bring Your Own AI (BYOAI).
Istilah ini merujuk pada penggunaan layanan AI secara mandiri oleh karyawan tanpa strategi maupun tata kelola resmi perusahaan.
Jika dibiarkan, perusahaan berpotensi kesulitan mengontrol penggunaan AI sekaligus pengeluarannya.
Konsumsi token dari berbagai layanan bisa tidak terpantau, sedangkan bagian keuangan harus merekonsiliasi banyak pembayaran kartu kredit dalam mata uang asing.
“Banyak perusahaan masih kesulitan dalam merancang kerangka kerja AI. Maka dari itu, TokenKu.ai siap membantu organisasi mengatasi kompleksitas tersebut melalui filosofi ‘Satu Gateway untuk Semua Model AI’,” ujar Sudianto Oei, CEO Hypernet Technologies.
Menurutnya, perusahaan dapat mengontrol akses, tata kelola dan biaya operasional AI sehingga tim internal bisa lebih fokus memanfaatkan teknologi tersebut untuk pertumbuhan bisnis.
120 Model AI dalam Satu Portal
Salah satu senjata utama TokenKu.ai adalah kemampuannya menggabungkan lebih dari 120 model AI dari sejumlah perusahaan teknologi global, termasuk OpenAI, Anthropic, Google dan Meta, dalam satu marketplace.
Artinya, perusahaan tidak perlu membuat dan mengelola banyak akun, bernegosiasi lisensi secara individual maupun memiliki kontrak terpisah dengan banyak penyedia AI.
Dari sisi pengawasan, manajemen bisa melihat konsumsi token secara real time berdasarkan individu, divisi maupun model AI yang digunakan.
Perusahaan juga dapat membuat virtual API key dan menentukan budget cap atau batas pengeluaran bulanan.
Fitur tersebut menjadi penting ketika pemakaian AI berkembang dari sekadar eksperimen menjadi bagian dari aktivitas operasional perusahaan.
Tak Perlu Pusing Tagihan AI Pakai Dolar
Hypernet juga mencoba menyelesaikan persoalan administrasi pembayaran layanan AI global.
Seluruh penggunaan dapat dikonsolidasikan menjadi satu invoice resmi lengkap dengan faktur pajak dan pembayaran dalam rupiah.
Pilihan pembayarannya meliputi top up wallet maupun bundling dengan paket managed service Hypernet Technologies.
Pada tahap awal, TokenKu.ai akan menyasar sektor yang membutuhkan kepatuhan data dan efisiensi operasional tinggi, yaitu Telekomunikasi, Media & Teknologi (TMT), jasa keuangan, dan ritel.
Jangkauannya kemudian akan diperluas secara bertahap ke industri lain.
Peluncuran TokenKu.ai sekaligus memperlihatkan arah bisnis Hypernet setelah menjadi bagian dari XLSMART.
Perusahaan tidak lagi hanya menawarkan konektivitas dan infrastruktur TI, tetapi mulai masuk lebih jauh ke ekosistem pengelolaan AI untuk korporasi.
Dengan lebih dari 120 model AI dalam satu portal, TokenKu.ai pada dasarnya ingin mengubah persoalan perusahaan dari “AI mana yang harus digunakan” menjadi “bagaimana seluruh AI tersebut dapat digunakan dengan aman, terukur dan terkendali.”
Untuk perusahaan yang mulai menghadapi ledakan penggunaan AI oleh karyawannya, persoalan tata kelola tersebut bisa menjadi sama pentingnya dengan kemampuan model AI itu sendiri.


