Selular.ID – Setelah Samsung yang telah memperkenalkan smartphone lipatnya beberapa bulan lalu, kini giliran Huawei dan Apple.
Dua vendor yang identik dengan perangkat premium itu, akan bersaing sengit di pasar ponsel lipat yang sama-sama akan diluncurkan pada September 2026.
Meskipun persaingan ini menarik bagi konsumen, hal tersebut pada akhirnya juga akan mendorong permintaan komponen di pasar perangkat lipat.
Untuk diketahui, ponsel lipat membutuhkan komponen khusus yang mampu menangani faktor risiko eksternal secara efisien tanpa menimbulkan kekhawatiran mengenai daya tahan perangkat.
Saat ini, komponen seperti UTG (Ultra-Thin Glass), engsel, dan sistem pendingin menjadi sorotan utama dalam perangkat lipat.
Komponen-komponen ini memastikan perangkat memiliki ketahanan yang memadai terhadap berbagai risiko yang sering dikhawatirkan pengguna.
Seiring dengan rencana Apple dan Huawei untuk meningkatkan persaingan di pasar ponsel lipat bulan depan, besar kemungkinan pertarungan ini akan memacu permintaan di seluruh rantai pasok ponsel pintar lipat.
Dengan kata lain, ponsel lipat dari Apple dan Huawei akan mendorong permintaan yang kuat terhadap panel layar UTG, engsel, sirkuit cetak fleksibel (flexible printed circuits), dan bahkan komponen termal.
Panel layar UTG adalah lapisan kaca fleksibel khusus yang digunakan sebagai pelindung layar pada ponsel pintar dan perangkat lipat.
Ketebalannya berkisar antara 30 hingga 100 mikrometer, bahkan lebih tipis daripada sehelai rambut manusia.
Namun, proses penguatan kimiawi menjadikannya pilihan ideal bagi produsen ponsel lipat karena kaca ini dapat ditekuk berulang kali tanpa pecah.
Karena posisinya berada di dalam panel layar utama, kaca ini berfungsi sebagai lapisan pelindung sekaligus peredam guncangan.
Berbeda dengan film plastik atau polimida lama, UTG memberikan sensasi sentuhan yang nyata, ketahanan terhadap goresan, dan kejernihan optik layaknya kaca asli.
UTG cukup kaku untuk mempertahankan permukaan yang lebih halus saat ditekuk, sehingga meminimalkan bekas lipatan tengah yang mencolok yang umum ditemukan pada layar lipat berbahan plastik.
Merek-merek seperti Samsung merancang lapisan UTG mereka dengan kombinasi perlakuan kimia dan termal agar mampu bertahan hingga ratusan ribu kali lipatan.
Selain UTG, engsel merupakan komponen mekanis utama atau “tulang punggung” ponsel lipat yang memungkinkan kedua bagian layar dan bodi dapat ditekuk dengan mulus.
Tak kalah vital adalah sistem manajemen pendingin mencakup komponen canggih yang mampu mengalirkan panas melintasi engsel yang bergerak, tanpa mengalami kerusakan atau keausan akibat proses pelipatan yang berulang.
Saat ini, Huawei dan Apple memiliki akses ke beberapa komponen ponsel lipat terbaik.
Menarik untuk melihat sejauh mana persaingan ponsel lipat mendatang ini akan meningkatkan permintaan terhadap komponen-komponen tersebut.
Baca Juga: Gegara Lisensi Paten WiFi, HP Bersilang Pendapat dengan Huawei

Pasar Ponsel Lipat Tumbuh Signifikan
Memasuki pertengahan 2026, pasar smartphone lipat mulai menemukan momentumnya. Hal itu tercermin dari kajian tiga lembaga riset pasar terkemuka: IDC, Omdia, dan Counterpoint.
Dalam prakiraan hingga 2030, Omdia memprediksi pertumbuhan berkelanjutan, dengan jumlah perangkat yang dikirim setiap tahun diperkirakan mencapai 45 juta unit pada saat itu.
Bahkan dengan adanya peningkatan yang diproyeksikan, kategori ini kemungkinan besar masih akan mencakup kurang dari 3% dari total pasar keseluruhan.
Omdia menyatakan bahwa format ini akan tetap menjadi segmen “khusus premium” meskipun terjadi pertumbuhan jangka panjang.
Proyeksi Omdia untuk tahun tersebut secara garis besar sejalan dengan penilaian Counterpoint Research yang dirilis pada Juli 2026.
Lembaga riset pasar yang berbasis di Hong Kong itu, memprediksi kenaikan pasar smartphone laya lipat, hingga 21% sepanjang tahun ini.
Begitu pun dengan data terbaru dari IDC memperkirakan tingkat pertumbuhan di atas 12,5% dengan volume hampir 23 juta unit.
Seperti halnya Omdia, salah satu faktor pendorong permintaan yang disorot oleh Counterpoint adalah peluncuran perangkat dengan layar lebih lebar yang mampu memberikan pengalaman layaknya tablet.
Di sisi lain, Counterpoint dan IDC juga menyoroti perkiraan masuknya Apple ke pasar ini, yang dipastikan akan mendorong pertumbuhan, sekaligus perubahan peta pasar yang selama ini dikuasai oleh Samsung.
Omdia memprediksi bahwa “desain lipat tipe buku berformat lebar yang sedang berkembang” akan menopang pertumbuhan di masa depan.
Di sisi lain, Omdia menilai model clamshell terus melemah setelah mencatatkan penurunan pengiriman sebesar 47% secara tahunan pada semester pertama 2026.
“Huawei memelopori desain format lebar baru ini melalui Pura X Max (yang tampak pada gambar) pada Mei 2026, disusul oleh Samsung Galaxy Z Fold 8,” ujar analis utama Omdia, Zaker Li.
Dengan vendor-vendor terkemuka lainnya yang dijadwalkan meluncurkan produk serupa dalam beberapa bulan mendatang, imbuh Zaker, kategori baru ini mendorong gelombang pertumbuhan baru di pasar ponsel pintar lipat.
Analisis dari Counterpoint dan IDC menaruh harapan pada perkiraan bahwa Apple akan memasuki pasar ini pada suatu waktu di 2026, meskipun kepastian hal tersebut masih harus dinantikan.
Banyak kalangan menilai, Apple diperkirakan akan merilis iPhone lipat pertamanya — yang kabarnya akan diberi nama iPhone Fold atau iPhone Ultra — pada September 2026 bersamaan dengan jajaran iPhone 18 Pro, dengan perkiraan harga awal sekitar $1.999.
Kehadiran iPhone Fold dipastikan mendongkrak pasar smartphone layar lipat. Proyeksi peningkatan sebesar 21% dari Counterpoint tersebut memperhitungkan kemungkinan Apple meraih pangsa pasar sebesar 25% pada akhir tahun ini.
Dengan proyeksi yang terbilang cerah, meski industi smartphone global tengah menghadapi tantangan tak ringan imbas kelangkaan chip, Liz Lee, Direktur Asosiasi Counterpoint, menyatakan bahwa tahun ini akan “menandai fase baru bagi (pertumbuhan) pasar ponsel pintar lipat”.
Singkatnya, saat ini pasar ponsel pintar lipat global tengah terlibat dalam persaingan sengit yang melibatkan berbagai pihak.
Samsung mempertahankan statusnya sebagai pelopor melalui seri Galaxy Z Fold 8 yang lebih luas, Huawei memimpin pengiriman global untuk model bergaya buku berkat desain yang agresif.
Sedangkan sebagai challenger, Apple bersiap untuk terjun ke ranah ponsel lipat yang telah lama dinantikan. Raksasa teknologi yang berbasis di Cupertino, California, tak hanya memberi kejutan namun bakal menggoyang dominasi para pemain lama.


