Selular.ID – Operator telekomunikasi China bergerak cepat dalam memonetisasi layanan AI yang kini tengah berkembang pesat.
Mereka berlomba-lomba menjadikan kecerdasan buatan (AI) sebagai utilitas pasar massal berikutnya di negara itu dengan menjual token, unit kecil konsumsi komputasi yang mendukung model AI.
Langkah strategis tersebut menunjukkan tanda bahwa operator berusaha mengubah diri mereka dari sekedar penyedia bandwidth menjadi perantara layanan AI.
Operator telekomunikasi milik negara, China Telecom, mengumumkan pada Minggu (17/5) serangkaian paket token uji coba, menawarkan paket penggunaan AI bulanan kepada konsumen mulai dari 9,9 yuan ($1,37) untuk 10 juta token.
Paket baru China Telecom mencakup pengguna konsumen dan perusahaan. Usaha kecil dan pengembang dapat membeli paket perusahaan dengan hingga 150 juta token bulanan seharga 39,9 yuan.
Paket-paket tersebut menyerupai paket data selular, kecuali komoditas yang diukur adalah komputasi AI, bukan lalu lintas internet.
Manuver China Telecom merespon pesaing terdekat China Mobile. Operator ini juga telah meluncurkan layanan token universal di Shanghai untuk skenario konsumen dan perkantoran, memungkinkan pengguna untuk mengakses berbagai platform AI di bawah satu akun dan membayar melalui tagihan telepon.
Baca Juga:
- Rivalitas Model AI: Tencent Hunyuan Image 3.0 Kalahkan Nano Banana Milik Google
- Chip AI China Kian Perkasa, Amerika Mulai Ditinggal
China Mobile bermitra dengan Tencent Holdings untuk memperkenalkan platform ruang kerja berbasis AI yang menargetkan konsumen dan usaha kecil.
Layanan ini menawarkan 400.000 token seharga 1 yuan, dengan pengguna dapat beralih antar model AI di bawah struktur harga yang seragam.
Wang Peng, seorang peneliti dari Akademi Ilmu Sosial di Beijing, mengatakan bahwa operator telekomunikasi China kini beralih dari menjual koneksi ke menjual layanan AI.
“Mereka sekarang bersaing untuk membangun platform terintegrasi yang menggabungkan daya komputasi, model AI, agen cerdas, dan gerbang layanan.”
“Tidak seperti perusahaan rintisan AI, operator telekomunikasi tidak selalu bersaing dalam hal harga token terendah. Keunggulan mereka terletak pada infrastruktur nasional, jaringan cloud yang didukung pemerintah, dan layanan keamanan siber,” papar Wang.
Xu Zhixin, Direktur pada Divisi Penelitian Perangkat Lunak Tim Tanggap Darurat Siber Sistem Kontrol Industri China, mengatakan bahwa ekspansi cloud tidak dapat dihindari bagi operator.
“Pada intinya, ini masih merupakan pasokan berbasis sumber daya. Operator telekomunikasi China tidak hanya mencoba menjadi ‘penjual beliung’ di era AI”, kata Xu.
Operator telekomunikasi menanamkan diri mereka secara mendalam ke dalam tumpukan infrastruktur AI China. Untuk mewujudkan model tersebut, China Mobile sedang membangun ekosistem AI tertutup, menggabungkan model AI di satu sisi dan menghubungkannya dengan perangkat dan aplikasi di sisi lain.
Platform Mobile Model Management (MoMA) yang baru diluncurkan tidak hanya menghubungkan model bahasa besar internal China Mobile, tetapi juga lebih dari 300 model AI utama, termasuk DeepSeek, Qwen, Doubao, dan GLM.
Menggunakan apa yang disebut perusahaan sebagai sistem manajemen token terpusat, MoMA secara dinamis mengarahkan permintaan pengguna ke model yang berbeda tergantung pada permintaan.
Langkah ini membantu mengurangi biaya per token lebih dari 30 persen sekaligus mengurangi penggunaan sumber daya komputasi lebih dari 50 persen, menurut perusahaan.
Data terbaru dari NDA (National Data Administration) menunjukkan bahwa konsumsi token harian telah melampaui 140 triliun pada Maret lalu.
Peningkatan lebih dari 1.000 kali lipat dari 100 miliar yang tercatat pada awal tahun 2024 dan lebih dari 40 persen lebih tinggi dari 100 triliun yang tercatat pada akhir tahun lalu.
“Lonjakan ini menandakan bahwa industri AI China berkembang pesat dan berevolusi dari fungsi obrolan dasar menjadi sistem yang lebih canggih yang mampu mengambil keputusan dan menjalankan tugas,” kata Liu Liehong, Kepala NDA.




