Jumat, 1 Maret 2024

Alasan Ini Bisa Bikin Operator Langsung Lompat ke Teknologi 6G

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Meski telah memasuki masa komersialisasi pada 2019, adopsi 5G terbilang lambat. Investasi yang mahal, spectrum yang belum tersedia, dan use case/ekosistem yang belum terbentuk, membuat banyak operator di dunia yang menahan diri.

Alih-alih mengembangkan 5G, operator saat ini lebih fokus mengembangkan 4G. Pertimbangan utama, tentu saja potensi revenue yang masih sangat luas, demi mengembalikan investasi yang sudah digelontorkan.

Dengan 5G yang seolah berjalan di tempat, Juniper Research menjadi salah satu pihak pertama yang memprediksi angka awal 6G, memperkirakan teknologi tersebut akan mencapai 290 juta koneksi secara global dalam waktu dua tahun setelah perkiraan peluncuran pada 2029, dengan asumsi potensi masalah teknis telah diatasi.

Perusahaan menandai tantangan yang diperkirakan terjadi pada pembangkitan jaringan termasuk masalah interferensi yang timbul dari penggunaan spektrum frekuensi tinggi.

Untuk meminimalkan hal ini, hal ini merupakan kekhawatiran paling mendesak bagi operator yang menggunakan 6G.

Dibandingkan dengan jaringan 5G saat ini, 6G diperkirakan menawarkan throughput 100 kali lebih besar. Namun teknologinya masih dalam tahap pengembangan, dengan standar yang belum ditentukan dan banyak operator yang bahkan belum meluncurkan 5G mandiri.

Baca Juga: 5G Belum Merata, Pemerintah Justru Wacanakan 6G

Juniper Research mencatat bahwa operator perlu berinvestasi pada teknologi permukaan cerdas yang dapat dikonfigurasi ulang (Reconfigurable Intelligent Surfaces /RIS) untuk mengurangi interferensi yang disebabkan oleh benda-benda besar.

Hal ini diklaim akan bekerja dengan “secara sengaja memantulkan dan membiaskan sinyal seluler 6G untuk memungkinkan paket data bergerak di sekitar hambatan fisik”.

Analis riset Alex Webb mengatakan bahwa cakupan awal 6G akan terjadi di wilayah geografis yang paling padat penduduknya untuk melayani sebanyak mungkin pengguna.

“Teknologi RIS akan menjadi kunci dalam menyediakan layanan 6G yang berharga bagi konsumen dan pelanggan perusahaan dalam beberapa tahun pertama pengoperasian jaringan”, ujar Alex.

Ketika Juniper Research memperkirakan 6G akan mencapai 290 juta koneksi, GSMA Intelligence memperkirakan dalam laporan ekonomi selular tahun 2023 bahwa 5G akan melampaui 5 miliar koneksi.

Baca Juga: Indonesia ketinggalan!, Chip Semikonduktor untuk 6G dan 7G sudah hadir diluar!

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

INDEPTH STORIES

BERITA TERBARU