Sabtu, 2 Maret 2024

Inilah 6 Perusahaan Teratas di Industri Satelit Orbit Rendah Bumi

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Dipicu oleh Starlink milik orang terkaya  di dunia Elon Musk, peluncuran satelit Orbit Rendah Bumi atau Low Earth Orbit (LEO) meningkat drastis sejak beberapa tahun terakhir.

Satelit dengan berbagai ukuran dan berat ini, diluncurkan di orbit dekat bumi untuk berbagai tujuan. Mulai dari pemantauan, observasi, komunikasi, hingga navigasi.

Meningkatnya permintaan akan konektivitas internet berkecepatan tinggi dan pengenalan 4G, 5G, dan teknologi canggih lainnya diperkirakan akan mendorong peluncuran satelit LEO di tahun-tahun mendatang.

Pertumbuhan analisis observasi bumi untuk proyeksi hasil panen, kemungkinan akan membantu ekspansi industri.

Selain itu, meningkatnya investasi pemerintah pada teknologi antariksa dan program eksplorasi antariksa diperkirakan akan memberikan peluang pertumbuhan yang besar bagi para pelaku industri.

Misalnya, daftar infrastruktur strategis baru yang diusung oleh pemerintah China, mencakup Internet Satelit pada April 2020.

Namun, pandemi virus corona baru-baru ini telah menghambat pertumbuhan pasar. Program peluncuran satelit yang tertunda atau dibatalkan telah mempengaruhi permintaan satelit LEO.

Baca Juga: Satelit Internet Starlink Terancam Gagal Masuk Indonesia Karena Ulah Elon Musk

Penutupan fasilitas manufaktur dan gangguan rantai pasokan telah menghambat prospek pertumbuhan industri ini.

Meskipun demikian, pelonggaran lockdown di berbagai negara membantu memulihkan permintaan satelit tersebut. Dimulainya kembali program peluncuran satelit pada akhir 2022 diproyeksikan akan membantu ekspansi industri.

Berdasarkan Business Research Insights, kue bisnis satelit LEO global diperkirakan akan mencapai USD 8.586,3 juta pada 2027.

Meningkatnya adopsi jaringan 5G melalui konstelasi satelit LEO diperkirakan akan mendukung perkembangan industri di tahun-tahun mendatang.

Berikut ini adalah enam perusahaan terkemuka di industri satelit LEO.

Satelit Orbit

  1. SpaceX

Didirikan oleh milyarder Elon Musk pada 2002, SpaceX yang berbasis di Hawthorne, California, adalah perusahaan komunikasi satelit, penyedia peluncuran luar angkasa, dan produsen pesawat ruang angkasa.

SpaceX memproduksi satelit komunikasi Starlink, pesawat ruang angkasa awak, Cargo Dragon, beberapa mesin roket, dan kendaraan peluncuran berat Falcon.

Tercatat, SpaceX telah meluncurkan lebih dari 2.400 satelit kecil sejak Mei 2022, menjadikan konstelasi satelit terbesar di jagat raya.

Meski merupakan perusahaan penyedia LEO terbesar di dunia, sejatinya kinerja Starlink tidak cukup mentereng. Masih perlu waktu bagi Starlink untuk mendongkrak kinerja.

Menurut laporan The Wall Streel Journal, pada akhir 2022, pendapatan Starlink hanya mencapai $1,4 miliar. Jumlah tersebut cuma naik dari $222 juta dibandingkan 2021. Sekaligus $11 miliar lebih rendah dari proyeksi awal.

Sebelumnya SpaceX, juga memproyeksikan Starlink akan memiliki 20 juta pelanggan pada akhir 2022. Namun pada akhir tahun lalu, Starlink hanya memiliki lebih dari 1 juta pelanggan aktif.

Walaupun belum terlalu mentereng, namun kinerja Starlink diperkirakan semakin berotot pada tahun-tahun mendatang.

Dilansir dari Bloomberg News, Senin (13/11), SpaceX – diproyeksikan bakal menghasilkan pendapatan sekitar $9 miliar pada akhir tahun ini.

Jumlah itu disumbang dari bisnis peluncuran roket dan penyediaan komunikasi internet Starlink. Proyeksi menunjukkan peningkatan lebih lanjut, dengan penjualan diperkirakan mencapai sekitar $15 miliar pada 2024.

Sumber-sumber yang mengetahui proyeksi ini mengindikasikan bahwa penjualan Starlink siap untuk melampaui pendapatan yang dihasilkan oleh bisnis peluncuran di tahun mendatang.

  1. Boeing

Perusahaan multinasional Amerika ini didirikan pada 1916 dan merupakan salah satu produsen dirgantara global terbesar.

Boeing menjual, memproduksi, dan merancang satelit, rudal, peralatan telekomunikasi, roket, pesawat rotor, dan pesawat terbang.

Perusahaan yang berbasis di Arlington, Virginia, juga menawarkan dukungan produk dan layanan penyewaan. Perusahaan menghasilkan pendapatan sebesar USD 62,29 miliar pada 2021.

  1. Lockheed Martin

Perusahaan Amerika ini didirikan pada Maret 1995 dan berkantor pusat di Washington, AS. Lockheed Martin berspesialisasi dalam keamanan informasi, persenjataan, dirgantara, dan teknologi.

Perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 115.000 orang di seluruh dunia yang terdiri dari hampir 60.000 ilmuwan dan insinyur pada Januari 2022.

Departemen Pertahanan A.S. berkontribusi terhadap hampir setengah penjualan perusahaan. Lockheed Martin juga merupakan kontraktor untuk Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional dan Departemen Energi AS.

Baca Juga: Kominfo Jelaskan Pentingnya Satelit Internet Hadir di Indonesia

  1. Thales Group

Perusahaan multinasional Perancis ini merancang, memproduksi, dan menawarkan layanan untuk industri keamanan, transportasi, pertahanan, dan kedirgantaraan.

Berkantor pusat di Paris, Perancis, Thales didirikan pada bulan Desember 2000. Perusahaan ini memiliki lebih dari 80.000 karyawan.

Pada Juni 2022, satelit komunikasi NILESAT 301 yang dibangun oleh Thales Alenia Space berhasil diluncurkan dari landasan peluncuran Cape Canaveral di Florida.

  1. Northrop Grumman

Didirikan pada 1994 dan berkantor pusat di Virginia, AS, perusahaan teknologi kedirgantaraan dan pertahanan ini merupakan salah satu penyedia teknologi militer dan produsen senjata terbesar di dunia.

Northrop Grumman mengkhususkan diri pada produk-produk seperti sistem peluncuran roket, teknologi informasi satelit dan luar angkasa, sistem rudal dan pertahanan rudal, kendaraan udara tak berawak, pesawat militer, dan lain-lain.

Perusahaan mengembangkan Teleskop Luar Angkasa James Webb, teleskop luar angkasa terbesar di dunia, yang diluncurkan pada Desember 2021 untuk eksplorasi dan pencitraan luar angkasa.

Jumlah program eksplorasi ruang angkasa di beberapa negara meningkat pesat. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi dalam persaingan yang dinamis melakukan akuisisi dan kolaborasi strategis untuk memperkuat prospek pertumbuhan mereka.

Northrop Grumman kini banyak berinvestasi dalam aktivitas penelitian dan pengembangan untuk meluncurkan satelit LEO untuk berbagai penggunaan akhir.

Meningkatnya jumlah peluncuran satelit diperkirakan akan menciptakan peluang pertumbuhan yang menguntungkan di masa depan.

Selain itu, meningkatnya investasi pemerintah pada teknologi antariksa dan program eksplorasi antariksa diperkirakan akan memberikan peluang pertumbuhan yang besar bagi para pelaku industri.

  1. Amazon

Amazon selama ini dikenal sebagai adalah perusahaan terknologi yang berfokus pada e-commerce, komputasi awan, streaming digital, dan kecerdasan buatan.

Bersama dengan Google, Apple, Meta, dan Microsoft, Amazon adalah salah satu dari lima besar raksasa teknologi AS.

Perusahaan yang berbasis di Seatlle, Washington, ini disebut sebagai “salah satu kekuatan ekonomi dan budaya paling berpengaruh di dunia”, serta merek paling berharga di dunia.

Namun dengan kue bisnis yang terus berkembang, Amazon kini juga merupakan pemain teranyar yang terlibat dalam perlombaan di bisnis satelit LEO.

Untuk diketahui, pada awal Oktober lalu Amazon sukses meluncurkan Project Kuiper, satelit pertama perusahaan di orbit rendah bumi (LEO).

Mirip dengan Starlink milik SpaceX, Amazon mengatakan tujuan Project Kuiper adalah untuk menawarkan broadband yang cepat dan terjangkau bagi komunitas yang belum terlayani dan kurang terlayani di seluruh dunia.

Perusahaan milik milyarder Jeff Bezos ini, berencana untuk menyebarkan lebih dari 3.200 satelit selama enam tahun ke depan setelah memperoleh persetujuan dari lembaga komunikasi federal AS (FCC). Prototipe KuiperSat-1 dan KuiperSat-2 adalah langkah pertama perusahaan di bisnis teknologi tinggi ini.

Sukses peluncuran perdana, Amazon berencana meluncurkan satelit LEO pada paruh pertama 2024 dan memulai pengujian beta dengan beberapa pelanggan pada akhir tahun depan.

Untuk bisa bersaing dengan pemain lainnya, Project Kuiper milik Amazon mengumumkan rencana untuk menawarkan kemampuan jaringan pribadi (private network) dalam kemitraan dengan unit lain dalam Amazon, yaitu Amazon Web Services (AWS).

Langkah ini akan memungkinkan pelanggan perusahaan, operator, dan sektor publik untuk memindahkan data ke wilayah cloud mana pun tanpa menyentuh internet publik.

Baca Juga: Pengamat Sebut 3 Catatan Jika Satelit Internet Starlink Masuk Indonesia

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

INDEPTH STORIES

BERITA TERBARU