PHK Sejumlah Karyawan, Telisik Jejak JD.ID di Pasar E-Commerce Indonesia

JD ID store

Selular.ID – Pemain e-commerce asal China, JD.ID, terpaksa melakukan PHK terhadap sejumlah karyawannya. JD.ID tidak sendirian dalam mengambil kebijakan yang tidak popular itu.

Tercatat sejumlah start up lainnya juga memangkas sebagian karyawan, seperti LinkAja, Zenius, Fabelio, dan TaniHub. Semua berkilah karena terdapat perubahan strategi demi survive-nya perusahaan,

JD.ID pun mengatakan bahwa keputusan untuk melakukan PHK karyawannya adalah upaya penyesuaian bisnis dan restrukturisasi perusahaan.

Director of General Management JD.ID Jenie Simon mengatakan improvisasi dan pengambilan keputusan PHK ini dilakukan agar JD.ID dapat terus beradaptasi dan selaras dengan dinamika pasar dan tren industri di Indonesia.

Upaya improvisasi yang JD.ID tempuh antara lain dengan melakukan peninjauan, penyesuaian, hingga inovasi atas strategi bisnis dan usaha.

Baca Juga: 5 Kode Promo Shopee Hari Rabu 1 Juni 2022, Nikmati di Hari Libur

“JD.ID juga melakukan pengambilan keputusan seperti tindakan restrukturisasi, yang mana di dalamnya terdapat juga pengurangan jumlah karyawan,” kata Jenie Simon, dalam keterangan tertulis, Kamis (26/5/2022).

Sehubungan dengan pengambilan keputusan ini, JD.ID mengatakan akan patuh dan tunduk terhadap regulasi ketenagakerjaan sesuai dengan peraturan pemerintah. Jenie mengatakan JD.ID akan memperlakukan dan memberikan hak karyawan, sebagaimana diatur dalam regulasi tersebut.

Keputusan untuk mengurangi karyawan merupakan babak baru dari strategi JD.ID bertahan di industri e-commerce Indonesia yang terkenal sangat kompetitif.

Berbagai laporan, menyebutkan JD.ID belum menjadi situs e-commerce terpopuler di Indonesia. Menurut laporan riset dari “The State of E-Commerce App Marketing 2022”, Indonesia menjadi salah satu negara dengan angka belanja digital terbesar di urutan nomor tiga setelah Brazil dan India.

Laporan itu juga mengungkapkan, terdapat lima e-commerce paling popular di Tanah Air. Posisi puncak diduduki oleh Tokopedia. Disusul Shopee, Bukalapak, Lazada, dan BliBli.

Baca Juga: Ini 3 Brand Smartphone Terlaris JD 11.11

Jika kita telisik, JD.ID punya rekam jejak yang cukup panjang di Indonesia. Kehadirannya juga bersamaan dengan Shopee, yaitu 2015.

Sebagai kepanjangan tangan JD.COM, e-commerce terbesar kedua di China, JD.ID pertama kali beroperasi di Indonesia pada 26 Oktober 2015.

Sejak menawarkan layanan ke masyarakat Indonesia, statistik JD.ID terus mengalami tren positif dengan signifikan, baik dalam jumlah pengunjung maupun transaksi.

Seperti halnya JD.Com, kehadiran JD.ID di Indonesia didukung juga oleh jasa logistik yang efisien dan cepat. Khusus untuk wilayah Jabodetabek, JD.ID memberikan layanan pengiriman satu hari “Beli sekarang, besok tiba”.

JD.ID juga berupaya menjangkau pasar ritel Indonesia yang masih didominasi toko luring berbekal strategi online to offline (O2O).

Baca Juga: Cara Transfer Saldo DANA ke ShopeePay Secara Mudah dan Praktis

Chief Financial Officer (CFO) JD.ID Sandy Permadi menjelaskan jika strategi O2O dilakukan tidak terbatas pada masa pandemi saat ini saja.

Terlebih, potensi pasar ritel luring Indonesia dinilai masih menjadi mayoritas dibandingkan dengan daring.

“Saat ini baru sekitar 10-15 persen transaksi ritel dilakukan secara online. Berarti masih ada 85 persen offline retailers untuk didaringkan,” kata Sandy, seperti dikutip dari laman Bisnis.com, Selasa (21/9/2021).

Sandy menambahkan jika JD.ID nantinya akan berperan sebagai platform teknologi dan logistiknya. Perusahaan akan terus mengembangkan eksistensi toko luring dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga: Super App Terbaik di Asia Tenggara, Ini Nomor Satu Berdasarkan Survei

Namun kerasnya persaingan, membuat pertumbuhan JD.ID belum sepenuhnya menggembirakan. Perusahaan terpaksa melakukan efisiensi agar bisa bertahan dan memenangkan pasar. Alhasil, langkah PHK terhadap sebagian karyawan terpaksa ditempuh oleh JD.ID.