Xiaomi dan Vivo: Brand yang Paling Babak Belur Karena Kendala Pasokan

Xiaomi dan Vivo: Brand yang Paling Babak Belur Karena Kendala Pasokan

Selular.ID – Meski mulai menggeliat, industri smartphone global masih belum sepenuhnya pulih. Pandemi dan pembatasan produksi komponen utama, terutama chip, membuat vendor smartphone masih harus berakrobat-ria.

Dampak menurunnya pasokan, terlihat jelas di beberapa negara yang menjadi pasar utama, seperti India. Tercatat, pengiriman smartphone di negara itu dipengaruhi oleh kendala pasokan yang berkelanjutan di Q1-2022. Hal ini telah memperlambat pertumbuhan karena banyak vendor berjuang untuk mengamankan komponen untuk model kelas bawah.

Lembaga riset pasar, Canalys melaporkan pengiriman smartphone di pasar India mencapai 38 juta unit, hanya naik 2 persen tahun-ke-tahun.

Baca Juga: Top 5 India: Xiaomi Pimpin Q1, Realme Menang Banyak

Analis Canalys Sanyam Chaurasia menyatakan pasokan komponen tetap menjadi tantangan bagi vendor terkemuka Xiaomi dan Vivo.

Sementara merek lain Realme, Tecno Mobile dan Itel Mobile “berhasil dengan sangat baik dengan pasokan yang solid untuk mengambil pemimpin pasar dan memenuhi permintaan kelas bawah”.

Realme adalah satu-satunya vendor di lima besar yang mencatat pertumbuhan, dengan pengiriman naik 40 persen menjadi 6 juta unit dan pangsa pasar naik dari 12 persen pada Q1 2021 menjadi 18 persen.

Xiaomi masih memegang posisi teratas dengan pangsa 21 persen namun turun dari 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tercatat, dalam periode itu, pengiriman Xiaomi anjlok 24 persen menjadi 8 juta unit. Membuat Xiaomi menjadi brand paling babak belur karena hambatan pasokan komponen.

Kondisi yang sama juga dialami brand asal Korea Selatan, Samsung. Namun dibandingkan Xiaomi, pengiriman Samsung tercatat hanya turun 2 persen menjadi 6,8 juta dan pangsa pasarnya sebesar 18 persen.

Seperti halnya Xioami, kinerja Vivo di India juga tidak menggembirakan. Tercatat, pengiriman Vivo pada Q1-2022, anjlok sebesar 15 persen menjadi 5,7 juta unit. Vendor lain yang juga mengalami penurunan adalah Oppo, sebesar 13 persen menjadi 4,6 juta unit.

Baca Juga: Mantan Bos Xiaomi India Diselidiki Karena Melanggar UU

Chaurasia memperkirakan “menjaga keterjangkauan perangkat” akan menjadi tantangan terbesar vendor sepanjang 2022 karena biaya operasi meningkat.

Salah satu alasannya, adalah harga minyak di India berada pada titik tertinggi sepanjang masa dan inflasi grosir tetap tinggi, mencapai 14,6 persen pada Maret 2022.

“Volatilitas nilai tukar mata uang asing dan biaya operasional yang lebih tinggi karena inflasi, pada gilirannya, akan memberikan tekanan lebih lanjut pada vendor untuk mempertahankan profitabilitas”, pungkas Chaurasia.