spot_img
BerandaNewsFeatureKrisis Pasokan Chip, Siapa Untung Siapa Buntung?

Krisis Pasokan Chip, Siapa Untung Siapa Buntung?

-

Jakarta, Selular.ID – Krisis chip yang telah terjadi sejak setahun terakhir, menambah tekanan pada produsen smartphone. Padahal, pandemi covid-19 belum berakhir. Kondisi itu memaksa para pemain untuk mengatasi pasokan komponen yang terbatas dan diperkirakan baru akan berakhir pada 2023.

Namun ditengah produksi komponen yang menurun, vendor seperti Apple justru keluar sebagai pemenang. Pabrikan asal Cupertino – California itu, mampu memakan pangsa pasar para pesaingny,  karena mampu mengelola krisis chip global lebih baik dibandingkan pembuat ponsel lainnya.

Pengiriman iPhone yang lebih tinggi membantu Apple mendapatkan setidaknya 3% pangsa pasar di smartphone global pada kuartal ketiga, bahkan ketika pengiriman secara keseluruhan menyusut sekitar 6% karena kekurangan chip, menurut data dari perusahaan riset pasar Counterpoint, IDC dan Canalys.

Mengingat seberapa ketat perusahaan teknologi menjaga data penjualan ponsel cerdas, angka pengiriman adalah indikasi terbaik tentang siapa yang disukai pelanggan.

“Kami memprediksi kuartal lainnya untuk Apple dan ekspektasi kami adalah mereka akan mengambil pangsa pengiriman 20% serupa di tahun kalender Q4-2021,” kata analis Counterpoint Tarun Pathak.

Apple telah mengatasi krisis pasokan lebih baik daripada banyak perusahaan lain karena daya belinya yang besar dan perjanjian pasokan jangka panjang dengan vendor chip meskipun produksi iPhone 13 mengalami hambatan karena penutupan pabrik di Asia dan permintaan yang tinggi di paruh kedua tahun ini.

“Kekurangan paling buruk di kelas bawah, jadi Apple kurang terekspos dibandingkan banyak pesaingnya karena sangat condong ke premium,” Ben Stanton, analis di Canalys, mengatakan kepada Reuters.

Pengiriman ponsel yang lebih mahal mendorong pendapatan ke rekor $100 miliar pada kuartal ketiga, menurut Counterpoint.

Kekuatan pasokan perusahaan yang berbasis di Cupertino, California ini ditampilkan di China di mana ia mencatat pertumbuhan penjualan tahunan sebesar 83% pada kuartal terakhir, tetap menjadi salah satu pilihan utama bagi pembelanja besar di ekonomi terbesar kedua di dunia.

Saat Apple meningkatkan pengiriman pada kuartal ketiga, pemimpin pasar Samsung Electronics dan pesaing terdekatnya Xiaomi mengalami penurunan. Pelanggan terpikat oleh potongan harga untuk seri iPhone 12 dan prosesor yang lebih cepat dan kamera yang lebih besar pada perangkat iPhone 13 terbaru.

Canalys melaporkan, Samsung masih menjadi vendor terbesar di Q3 2021, setelah mengirimkan 69,4 juta unit – 21% dari total pengiriman selama periode tersebut. Apple berada di posisi kedua dan mengirimkan 49,2 juta unit. Sementara Xiaomi, pembuat smartphone China, mengirimkan 44 juta unit. Padahal pada Q2-2021, Xiaomi mampu mengirimkan 52,8 juta unit, naik 83% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kinerja Samsung Melorot

Seperti dilaporkan Mobile World Live (29/10), unit selular Samsung mencatat penurunan penjualan dan profitabilitas di Q3-2021 karena kendala pasokan yang berkepanjangan, permintaan yang lebih lemah, dan peningkatan anggaran pemasaran pada lini produk smartphone lipat.

Tercatat, pendapatan IT dan Komunikasi Selular turun 7% menjadi KRW28,4 triliun ($24,3 miliar), dengan laba operasional 24,5% lebih rendah menjadi KRW3,4 triliun, sebagian karena meningkatnya biaya pemasaran.

Berbeda dengan Samsung, Xiaomi sejauh ini belum melaporkan pencapaian sepanjang Q3-2021. Namun pada periode sebelumnya, Xiaomi menyalip Apple sebagai pembuat handset terbesar kedua pada periode April-Juni, dengan 17% dari pasar global, hanya sedikit di belakang Samsung yang 18%, kata perusahaan riset Canalys.

Pendapatan kuartalan dari pasar luar negeri adalah yang tertinggi mencapai 43,6 miliar yuan, naik lebih dari 81% pada tahun ini. Penjualan luar negeri menyumbang hampir setengah dari total pendapatan Xiaomi.

Meski kinerja Xiaomi meningkat signifikan sepanjang Q2-2021, namun vendor yang identik dengan harga murah itu, masih dibayangi persoalan geopolitik karena ancaman sanksi AS bisa kembali dijatuhkan.

Seperti diketahui, di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, AS pernah memasukkan Xiaomi dalam daftar hitam pada akhir 2020. Seperti halnya Huawei dan ZTE, Trump menuduh Xiaomi sebagai perusahaan militer Komunis China. Daftar hitam itu, membuat individu dan perusahaan AS tidak bisa berinvestasi atau membeli saham Xiaomi.

Namun pada 25 Mei 2021, di bawah Presiden Joe Biden, AS mencabut keputusan tersebut. Keputusan tersebut disambut lega oleh Xiaomi. Vendor yang identik dengan warna jingga itu, menegaskan bahwa mereka adalah perusahaan yang transparan, diperdagangkan secara publik dan dikelola secara independen.

Selain persoalan geopopolitik, tantangan lain yang dihadapi Xiaomi adalah persoalan yang sama dihadapi oleh semua pabrikan gadget, yaitu  kekurangan chip di pasar global yang diprediksi masih akan bertahan hingga 2022 mendatang.

“Kenaikan harga semikonduktor merupakan tantangan bagi semua produsen,” kata presiden Xiaomi Wang Xiang dalam panggilan konferensi pada Maret 2021. Minimnya pasokan chip dapat berimbas pada kenaikan harga smartphone.

Meski pasar dilanda kekurangan chip, Xiaomi tetap optimis dapat mengirimkan 200 juta unit smartphone pada akhir 2021. Jumlah pengiriman sebanyak itu, akan mampu mempertahankan Xiaomi sebagai vendor terbesar kedua di dunia.

Artikel Terbaru