spot_img
BerandaNewsTelcoMerger Operator Seluler, Pengamat: Tidak Ada Potensi Monopoli, Persaingan Usaha Akan Tetap...

Merger Operator Seluler, Pengamat: Tidak Ada Potensi Monopoli, Persaingan Usaha Akan Tetap Sehat

-

Jakarta, Selular.ID – Merger Indosat Ooredoo dan Tri Indonesia menjadi game changer dan referensi operator untuk melakukan merger. Smartfren dan XL Axiata pun digadang-gadang bakal menjadi kandidat kuat operator yang bakal melakukan upaya merger selanjutnya.

Kendati demikian, hasil merger dua perusahaan telekomunikasi menjadi sangat besar baik dari penguasaan frekuensi, gabungan pelanggan, hingga modal yang membuat perusahaan telekomunikasi bergerak lebih luwes untuk memacu laju bisnisnya kedepan.

Merespon hal tersebut, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi kepada Selular menjelaskan jika konsolidasi secara pasar sesungguhnya tidak ada potensi monopoli, “sehingga persaingan usaha akan tetap sehat pasca operator telekomunikasi merger,” terang Heru, Selasa (12/10).

Secara khasiat merger untuk perusahaan telekomunikasi pun sudah seharusnya dilangsungkan. Secara bisnis, banyak operator dalam kondisi berdarah-darah saat ini.

“Kalaupun dalam beberapa tahun terakhir ada operator yang berubah dari kondisi rugi ke laba, itu bisa terjadi karena operator telekomunikasi menjual asetnya yang berupa menara telekomunikasi, data center dan mengubah teknologi yang tadinya dimiliki menjadi manage service,” lanjutnya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Selular.ID (@selularid)

“Untuk merger Smartfren dan XL Axiata keduanya sebenarnya saling membutuhkan. Meski memang yang sangat butuh itu adalah Smartfren yang selama ini berdarah-darah dari bisnis seluler ini,” tutur Heru.

Sebagai catatan, Smartfren alami penurunan kerugian pada kuartal II-2021. Pada laporan keuangan per 30 Juni 2021, perusahaan mencatatkan rugi sebesar Rp451,90 miliar atau turun 63,02 persen dibanding 30 Juni 2020 sebesar Rp1,22 triliun.

Baca juga :  Huawei Cari Partner Untuk Pengembangan 5G

Smartfren di masa tersebut mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp4,95 triliun atau naik 15,05 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,30 triliun dengan rugi per saham dasar Rp1,32.

Adapun pendapatan bersumber dari jasa telekomunikasi (data dan non data), jasa interkoneksi, dan lain-lain. Data menjadi penyumbang pendapatan tertinggi sebesar Rp4,57 triliun atau lebih tinggi dari sebelumnya Rp3,95 triliun.

Sementara XL Axiata pada Q2 meraih pendapatan sebesar 8 persen menjadi Rp 6,73 triliun, meningkat dibandingkan kuartal pertama tahun ini (QoQ).

Baca juga :  Tren Merger Operator Seluler, Mastel: Pemerintah Perlu Bersiap Hadapi Era Industri yang Terkonsolidasi

Selain itu, EBITDA juga tumbuh 8 persen QoQ, dengan marjin lebih dari 50 persen. Pada kuartal kedua ini, XL Axiata juga mencetak laba bersih sebesar Rp395 miliar atau naik 23 persen QoQ, sekaligus berkontribusi pada total laba bersih semester pertama tahun ini sebesar Rp716 miliar.

Sekedar tambahan pula merger Indosat Ooredoo dan Tri Indonesia kini sedang berada ditahap evaluasi kementerian Telekomunikasi dan Informasi. Hal ini guna menjaga aspek perlindungan konsumen, penyelenggaraan telekomunikasi, dan optimalisasi penggunaan spektrum frekuensi radio sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

spot_img

Artikel Terbaru