Beranda Persona Sharly Rungkat, Sosok CFO di Industri Fintech Indonesia

Sharly Rungkat, Sosok CFO di Industri Fintech Indonesia

-

Jakarta, Selular.ID – Perempuan merupakan aktor sentral dan penting dalam berbagai lini kehidupan. Tanpa kehadiran perempuan, akan banyak hal dan urusan yang tidak bisa atau sulit diselesaikan secara cepat dan tepat. Tentunya, peran besar perempuan juga bisa ditemukan dalam industri teknologi atau keuangan digital yang menuntut jiwa inovatif dan adaptif.

Sharly Rungkat adalah salah satu Kartini Modern yang saat ini menjabat sebagai Chief Financial Officer Ovo, platform pembayaran digital, rewards dan layanan finansial di Indonesia.

Sharly bertanggung jawab atas strategi, keuangan dan investasi di PT Visionet Internasional (Ovo) dengan pengalaman dan wawasannya yang luas, dimana ia dituntut untuk dapat menyeimbangkan antara inovasi dan investasi strategis.

“Saya sangat bangga melihat perempuan Indonesia sudah bisa memiliki dan membuktikan kapasitas yang seimbang ataupun bahkan melebihi kapabilitas pria di masa sekarang, yang tentunya tidak terlepas dari dukungan masyarakat termasuk laki-laki di sekitarnya,” ujar Sharly.

Sebelum bergabung dengan Ovo, Sharly telah bekerja lebih dari 15 tahun di beberapa perusahaan terkenal, termasuk PwC, The Boston Consulting Group, GroupM, dan Sweet Escape. Sepanjang karirnya, Sharly bekerja pada bidang merger dan akuisisi, strategi, operasi, penjualan, pemasaran, dan layanan pengembangan produk dengan perusahaan global & lokal yang beroperasi di industri TMT (Technology, Media & Telecom), FS (Financial Services) serta Retail & Konsumen.

Sharly memegang gelar pascasarjana dari Babson College setelah menyelesaikan sarjana administrasi bisnis di Universitas Simon Fraser.

“Pada kesempatan ini, bertepatan dengan momen Hari Kartini di Indonesia, Ovo mengajak seluruh masyarakat agar terus mendukung keberadaan dan peran perempuan Indonesia di segala lini kehidupan. Dukungan ini perlu diberikan karena selama ini tercatat masih kurangnya peran perempuan di sejumlah lini atau sektor industri, termasuk teknologi,” ujar Sharly.

Sebagai pelaku industri keuangan digital di Indonesia, Ovo juga menyadari pentingnya peran dan kehadiran perempuan. Karena itu, sejak awal berdiri, Ovo membuka ruang yang luas dan kesempatan sama bagi para perempuan yang hendak berkarir di perusahaan ini.

Bertepatan dengan momen Hari Kartini di Indonesia serta dalam rangka turut mendukung emansipasi perempuan di Indonesia, Jason Thompson, CEO Ovo, menjelaskan bahwa Ovo senantiasa menghargai peranan dan kemampuan perempuan sama seperti laki-laki.

“Dalam mewujudkan misi Ovo untuk melayani dan membuka kesempatan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia melalui layanan tekfin yang inovatif, seluruh karyawan di Ovo memberikan kontribusi penting yang kami hargai tanpa melirik gender,” kata Jason Thompson, CEO Ovo.

Pada industri keuangan digital, kehadiran perempuan memang menjadi penting untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi perusahaan. “Warna” dari sebuah perusahaan pasti akan berbeda jika ada banyak perempuan yang terlibat dan bekerja di dalamnya. Apalagi, berdasarkan riset yang dilakukan Harvard Business School, ditemukan fakta bahwa kehadiran perempuan dan keberagaman gender di sebuah perusahaan akan berpengaruh besar terhadap tinggi/rendahnya produktivitas di suatu tempat.

“Saya berharap, kesetaraan akses dan kesempatan yang diterapkan pada perusahaan kami, dapat dijadikan contoh atau tolak ukur oleh perusahaan atau institusi lainnya bahwa gender tidak menentukan kualitas kerja seseorang, melainkan semangat dan kegigihan mereka dalam berinovasi dan berkreasi. Harapannya, semoga seluruh perempuan di Indonesia dapat lebih berdaya lagi di jenjang profesional,” lanjut Jason.

Riset yang dilakukan BCG Research menunjukkan, per tahun lalu jumlah perempuan yang bekerja di perusahaan sektor teknologi pada kawasan Asia Tenggara hanya setara 32 persen dari total karyawan industri. Kemudian, persentase perempuan yang mengambil fokus teknologi di perguruan tinggi pada kawasan ASEAN hanya setara 39 persen dari total peserta studi.

Di Indonesia, baru ada 22 persen pekerja perempuan di perusahaan-perusahaan teknologi. Kemudian, secara keseluruhan rasio jumlah pekerja perempuan terhadap total angkatan kerja mencapai 32 persen. Kondisi ini harus segera diatasi, karena riset yang sama menyebut bahwa keberadaan perempuan justru bisa meningkatkan inovasi, kelincahan, dan performa keuangan perusahaan.

Terlihat jelas dari komposisi pekerja wanita yang belum seimbang ini tidak ditemukan di Ovo, sebab saat ini ada lebih dari 40 persen wanita menjadi pemangku kebijakan di tataran manajemen perusahaan. Banyak dari mereka juga memegang jabatan penting, seperti misalnya posisi pengembangan bisnis perusahaan.

Kesetaraan gender di Ovo juga tercipta berkat sistem yang dimiliki perusahaan dalam merekrut pekerja baru (fresh graduate). Saat ini, komposisi gender pekerja baru di Ovo terbilang seimbang, dengan 47 persen diantaranya merupakan perempuan dan 53 persen sisanya adalah laki-laki.

Artikel Terbaru