Beranda News Market Update AS Berencana Tingkatkan Larangan Ekspor Teknologi ke China

AS Berencana Tingkatkan Larangan Ekspor Teknologi ke China

-

Jakarta, Selular.ID – Alih-alih mengurangi ketegangan akibat perang dagang yang telah terjadi selama kekuasaan Donald Trump, pemerintahan Joe Biden justru tengah mempertimbangkan untuk menambahkan “pembatasan baru yang ditargetkan” pada ekspor teknologi sensitif tertentu ke China bekerja sama dengan sekutu.

Pernyataan itu disampaikan seorang pejabat senior Gedung Putih pada Rabu (10/2/2021), menjelang panggilan telepon pertama Joe Biden dengan pemimpin China Xi Jinping.

AS juga tidak akan bergerak untuk mencabut tarif perdagangan China yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump sebelum melakukan “konsultasi dan peninjauan intensif” dengan sekutunya, pejabat itu mengatakan kepada wartawan selama pengarahan.

“Tarif tersebut kami pertahankan saat melakukan peninjauan karena kami tidak akan bertindak tergesa-gesa,” ujarnya seperti dilaporkan Reuters.

“Kritik utama Presiden Biden terhadap strategi Trump di sini bukanlah karena dia tidak bersikap keras terhadap China dalam perdagangan, tetapi dia melakukannya sendiri, sambil juga melawan sekutu kita.”

Pejabat itu mengatakan belum ada keputusan yang dibuat tentang apakah akan menaikkan tarif dan bahwa akan ada area “kontinuitas” dengan kebijakan Trump.

“Salah satunya adalah memastikan bahwa kami tidak memasok teknologi yang sangat sensitif yang dapat memajukan kemampuan militer China. Kami akan menahannya, ”katanya, seraya menambahkan pemerintah akan melihat pembatasan baru yang ditargetkan pada ekspor teknologi ke China dengan berkonsultasi dengan sekutu AS.

Pejabat itu mengatakan bahwa Biden akan segera bekerja dengan Partai Republik untuk meningkatkan investasi publik di sektor teknologi yang penting bagi keunggulan ekonomi Amerika Serikat, termasuk semikonduktor, bioteknologi dan kecerdasan buatan.

Dalam pembicaraan telepon dengan Xi, Biden “menggarisbawahi keprihatinan mendasarnya tentang praktik ekonomi Beijing yang memaksa dan tidak adil, tindakan keras di Hong Kong, pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang, dan tindakan yang semakin tegas di wilayah tersebut, termasuk terhadap Taiwan,” kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan.

Perang dagang khususnya di sektor teknologi terus memuncak antara AS dan China. Untuk membatasi penguasaan pasar perusahaan-perusahaan asal China, AS memasukkan pemain kunci seperti Huawei dan ZTE. Sejak 2018, kedua vendor telekomunikasi itu tidak lagi leluasa berbisnis dengan perusahaan-perusahaan asal AS. 

Bahkan hanya sepekan sebelum lengser dari kursi kepresidenan AS, Donald Trump memberikan kado perpisahan yang menyesakkan bagi Xiaomi. Sesuai perintah eksekutif yang ditandatanganinya pada November 2020, vendor smartphone terbesar ketiga di dunia itu, menjadi pemain industri terbaru dari China yang menghadapi peningkatan pembatasan dari pemerintah AS. 

Selain Xiaomi, perusahaan China lainnya yang masuk dalam daftar hitam adalah Micro-Fabrication Equipment, Luokong Technology, Beijing Zhongguancun Development Investment Center, GOWIN Semiconductor, Grand China Air Company, Global Tone Communication Technology, China National Aviation Holding, dan Commercial Aircraft Corporation of China.

Dengan pembatasan itu, Xiaomi bergabung dengan Huawei, ZTE, pembuat chip SMIC, dan tiga operator telekomunikasi China (China Mobile, China Unicom, China Telecom) dalam daftar hitam AS. Dari banyaknya perusahaan China yang masuk ke dalam daftar itu, Huawei menjadi target utama. Departemen Perdagangan membatasi akses vendor yang berbasis di Shenzen itu, ke pemasok teknologi AS karena alasan keamanan nasional. Alhasil, Huawei tidak mendapat dukungan dari Google dan kehilangan pasokan chips dari TSMC. 

Artikel Terbaru