Beranda News Hadang Pusaran Hoaks ‘Melumat’ Vaksin Covid-19  

Hadang Pusaran Hoaks ‘Melumat’ Vaksin Covid-19  

-

Jakarta, Selular.ID – Sepanjang tahun ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah mencatat lebih dari 2.000 topik hoaks mengenai Covid-19 disebarkan melalui berbagai platform media sosial.

Penanganan hoaks menurut Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho memang diakui berantakan, dan kini sebagaian hoaks yang mengarah ke vaksin mulai bermunculan dan akan berdampak lebih serius kedepan.

“Intergritas vaksin harus kita jaga, karena ini adalah fase penting. Kalau gagal dalam adopsi vaksin penanganan covid-19 kita tidak akan jelas lagi, dan akan berdampak lebih serius secara ekonomi atau bahkan keamanan bangsa. Jadi itu sebenarnya kekawatiran kita betapa pentingnya menjaga kredebilitas vaksin. Karena problem mendasar banyak masyarakat yang kini terlanjur percaya hoaks covid-19, jika dibiarkan hoaks vaksin juga bisa demikian nasipnya,” kata Septiaji, kepada Selular.ID, Kamis (10/12).

Baca juga: Distribusi Vaksin Covid-19 Akan Memanfaatkan Big Data  

Sebelumnya gelombang pertama vaksin virus covid-19 buatan perusahaan farmasi asal China Sinovac telah tiba di Indonesia pada Minggu (6/12) sekitar pukul 21.30 WIB. Dalam gelombang pertama ini, dilaporkan ada 1,2 juta dosis vaksin virus corona siap suntik, yang menurut rencana akan dilakukan pada awal tahun 2021.

Guna menangkal hoaks seputar vaksin covid-19 ini, pemeritah menunjuk lima juru bicara vaksin, yang menurut Dedy Permadi, Jubir Kementerian Kominfo, akan menjadi sumber informasi untuk menjaga kredibilitas dan kepercayaan terhadap proses vaksinasi yang sedang dan akan berlangsung.

Adapun lima Jubir Vaksin Covid-19 antara lain Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, Jubir dari Satgas Penanganan Covid-19 Reisa Broto Asmoro, Jubir dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi yang juga merupakan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Jubir dari BPOM Lucia Rizka Andalusia, serta Jubir dari PT Biofarma Bambang Heriyanto.

Sumber informasi yang terpusat ini diharapkan akan memecah kebingungan terhadap inforamsi serta pernyataan yang simpang siur terhadap vaksin covid-19. Namun menurut Septiaji jika dibilang efektif upaya ini belum terlihat, namun upaya untuk semakin serius memutus upaya hoaks beredar dibutuhkan pandangan yang komperhensif guna menguatkan efektifitasnya.

Baca juga: Facebook Akan Hapus Hoaks tentang Vaksin Covid-19

“Akar permasalahanya, diawali literasi digital masyarakat yang belum merata, dan memang ini problem jangka panjang kita Bersama. Pusaran hoaks covid-19, sekarang kita berada dititik memiliki kubu, diskusi kelompok yang berlandaskan teori konspirasi dan lain-lainya. Ini sesuatu yang tidak mudah, sejak awal pandemi ini seharusnya pemerintah kompak menghadapi, tapi sayangnya tidak demikian. Masyarakat kini terbelah ada yang memang mengikuti protokol yang diberikan pemerintah, para expert ada juga masyarakat yang anti, lebih percaya pada teori, romor dan lain sebagainya,” paparnya.

Sehingga tidak mengherankan, pada kurun waktu Januari-November 2020, Mafindo menemukan sebanyak 712 hoaks seputar covid-19, dan hoaks seputar vaksin jumlahnya semakin meningkat sejak Juli 2020.

baca juga: Youtube, Facebook dan Twitter Kolaborasi untuk Tangani Konten Anti Vaksin Covid-19

“jadi saya berharap untuk menjaga intergritas inforamsi vaksin, 5 juru bicara ini merangkul kelompok masyarakat seperti tokoh agama misalnya, untuk juga menyampaikan jadi membangun jejaring, karena tak dipungkiri masyarakat kita kan berbasis ketokohan, saya rasa itu lebih efektif dan bisa lebih didengar oleh masyarakat,” katanya.

Dan tidak hanya 5 jubir itu saja, Septiaji memilai level peresiden pun harus mengerakan, guna meredam gelombang masyarakat yang tida percaya terhadap vaksin. Blokir informasi dan masifnya peredaran hoaks di platform sosial sudah dan terus terjadi.

“Yang sulit lagi hokas seputar covid-19/vaksin ini beredar di ranah privat, bukan sosial seperti di group pesan singkat. Pemerintah tidak bisa masuk kesana, dugaan kita hokas seputar covid-19 itu bisa semakin banyak kita temukan,” tandasnya.

Artikel Terbaru