Beranda News Telco Outlook DIGITAL TELCO OUTLOOK 2021: Setelah IMEI, What’s Next?

DIGITAL TELCO OUTLOOK 2021: Setelah IMEI, What’s Next?

-

Jakarta, Selular.ID  – Per 15 September 2020, aturan menyangkut IMEI resmi diterapkan oleh pemerintah. Dengan melibatkan seluruh operator selular, beleid IMEI diharapkan dapat menekan peredaran ponsel BM yang merugikan negara triliunan rupiah setiap tahun, karena raibnya pendapatan dari pajak.

Selain persoalan pajak, pemerintah mengklaim aturan IMEI dilakukan dalam rangka perlindungan konsumen sekaligus kepastian hukum kepada operator dalam menghubungkan perangkat yang sah ke jaringan telekomunikasi.

Diharapkan regulasi validasi IMEI dapat mencegah masuknya ponsel BM. Mendorong pertumbuhan industri lokal dalam jangka panjang. Sehingga pada gilirannya dapat mendongkrak penjualan ponsel secara keseluruhan.

Permasalahan aturan IMEI diberlakukan di tengah menurunnya permintaan ponsel di pasar domestik. Menurut laporan IDC, pasar smartphone di Indonesia pada kuartal II-2020 mengalami penurunan sebagai dampak pandemi Covid-19. Pengiriman mencatatkan rekor terendah sejak 2016. Hanya 7,1 juta unit smartphone yang dikirimkan sepanjang kuartal itu, turun 26% secara year over year (YoY) dan 3% secara kuartal ke kuartal (QoQ).

Dengan populasi yang besar, Indonesia merupakan pasar ponsel terbesar keempat di dunia. Meski demikian penjualan ponsel terbilang naik turun. Sebelum diterjang pandemi, permintaan ponsel mulai menujukkan pemulihan. Menurut riset Canalys, pengiriman mencapai rekor tertinggi yakni 38 juta pada 2018, naik 17,1% dibandingkan 2017. Itu menunjukkan pasar telah pulih total dari titik terendah di 2016 (pertumbuhan tahunan -3,3%) dan 2017 (pertumbuhan tahunan 0,6%), akibat peraturan TKDN.

Meski sempat menimbulkan polemik, namun aturan TKDN merupakan terobosan penting yang dilakukan oleh pemerintah. Selain dapat menekan nilai impor ponsel hingga 30%, kebijakan TKDN diyakini bisa menjadi titik balik posisi Indonesia, dari sekedar pasar menjadi produsen. Ujung dari ketentuan ini adalah ‘memaksa’ vendor ponsel untuk berinvestasi, dengan membangun pabrik ponsel.

Sayangnya, hingga kini visi menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat manufaktur ponsel, mengejar India dan Vietnam, masih belum sepenuhnya tercapai. Alih-alih mendirikan pabrik, mayoritas vendor asing di Indonesia memilih menggandeng perusahaan EMS (electronic manufacturing services), sehingga investasi yang ditanamkan tidak terlalu besar.

Dapat dipastikan, enggannya vendor membangun pabrik karena belum adanya skema dan insentif menarik yang ditawarkan pemeritah kepada vendor-vendor ponsel.

Melalui forum Digital Telco Outlook 2021, diharapkan forum tahunan ini dapat mendorong industri ICT semakin kuat dalam menghadapi tantangan di era disrupsi teknologi.

Bagi Anda yang tertarik untuk mengikuti sesi ini bisa langsung bergabung melalui Link Zoom Sesi 3: https://zoom.us/j/91490959417?pwd=SVZpaUhnVWJ3L09aYU43eHJxb1BMdz09 Passcode: 161220

Artikel Terbaru