Beranda News Telco Outlook Investasi Infrastruktur Di Daerah, Bukan Sekedar Cari Untung?

Investasi Infrastruktur Di Daerah, Bukan Sekedar Cari Untung?

-

Jakarta, Selular.ID – Telkomsel, salah satu operator yang memiliki jangkauan luas di seluruh Indonesia menilai, dari segi bisnis membangun infrastruktur di daerah-daerah tertentu memang masih belum menguntungkan.

“Tapi Telkomsel tetap membangun di daerah terpencil tersebut karena bagi kita apabila jaringan infrastruktur sudah masuk ke daerah tersebut maka ekonomi akan bertumbuh secara perlahan, dengan adanya investasi infrastruktur dan infrastruktur digital pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut perlahan-lahan akan tumbuh 30% – 40% dalam setahun jadi ada harapan. Sebenarnya kita tidak hanya melihat untung dan rugi, tapi bagaimana kita juga memberikan value bagi masyarakat dan juga bagi Indonesia,” terang Ronald Limoa selaku GM Future Network Project Telkomsel, dalam acara Selular Digital Telco Outlook, Selasa (15/12).

baca juga: DIGITAL TELCO OUTLOOK 2021: Aturan Batas Tarif Dapatkah Mendorong Industri Selular Kembali Sehat?  

Sebagai catatan, berdasarkan dokumen Konsultan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti), tercatat telah membagi 3.435 titik desa kepada 6 operator seluler, untuk melakukan penggelaran 4G.

Pembagian tersebut telah diberitahukan kepada operator dan operator pun telah memberikan angka kesanggupan mereka dalam menggelar 4G di daerah non-3T tersebut. Alhasil, dari sisi usulan konsultan, berdasarkan data Telkomsel, Indosat, Smartfren, Sampoerna, XL, dan Tri masing-masing mendapat jatah pembangunan sebanyak 1491, 645, 50, 10, 861 dan 378 desa.

Baca juga: DIGITAL TELCO OUTLOOK 2021: Setelah IMEI, What’s Next?

Operator dalam hal ini juga mempertimbangkan letak geografis dan ketersediaan infrastruktur pendukung, seperti listrik sebelum membangun jaringan. Sekadar catatan, saat ini terdapat sekitar 70.670 desa yang telah mendapat sinyal 4G. Sisanya, 12.548 desa belum mendapat sinyal 4G. Dari jumlah tersebut, sebanyak 9.113 desa berada di wilayah 3T dan menjadi tanggung jawab Bakti untuk bangun jaringan, adapun 3.435 desa sisanya menjadi tanggung jawab 6 operator seluler di Indonesia.

Yang juga menarik dalam diskusi ini, disinggun soal persaingan yang diketahui secara berlahan banyak operator pesaing (Telkomsel)  mulai memperluas jaringan di luar Jawa, ketika dikonfirmasi hal itu, Ronald mengaku lebih melihat hal positif dari persaingan tersebut.

“Kami melihat bahwa persaingan ini justru akan menguntungkan pengguna atau masyarakat di wilayah tersebut. Dan siapapun operator yang ada duluan di daerah tersebut pasti akan memperbaiki quality of service-nya. Misalnya Telkomsel dengan adanya persaingan dan kompetisi yang semakin kuat di luar Jawa contohnya di Kalimantan, Sulawesi, Papua atau Maluku maka Telkomsel akan dipaksa untuk semakin memperbaiki servicenya dan layanannya demi pelanggan tidak berpindah ke persaingan yang lain, jadi sebenarnya persaingan itu sesuatu yang sehat,” tandasnya.

Artikel Terbaru