Beranda News Telco Outlook DIGITAL TELCO OUTLOOK 2021: Aturan Batas Tarif Dapatkah Mendorong Industri Selular Kembali...

DIGITAL TELCO OUTLOOK 2021: Aturan Batas Tarif Dapatkah Mendorong Industri Selular Kembali Sehat?  

-

Jakarta, Selular.ID – Tak dapat dipungkiri, dengan beragam aktifitas yang banyak dilakukan di rumah karena aturan PSBB, kini  layanan data sudah menjadi kebutuhan utama pengguna. Lonjakan konsumsi data, mengubah gaya hidup masyarakat dan pada gilirannya mendorong tumbuhnya pendapatan operator.

Namun setelah sempat naik di awal pandemi, trafik data kemudian menurun karena daya beli masyarakat juga melemah seiring menurunnya kondisi ekonomi secara umum. Hal tersebut kemudian meningkatkan kompetisi di antara operator selular yang lantas meluncurkan paket-paket data baru dengan harga murah demi menjaga trafik dan loyalitas konsumen.

Banyaknya paket-paket data murah, sesungguhnya menunjukkan operator kembali terjebak dalam persoalan lama, yakni perang tarif data paket internet. Kondisi itu diperkirakan bakal berkepanjangan sampai 2021, imbas dari pandemi Covid-19 dan masa resesi ekonomi Indonesia. Padahal harga data yang dibandrol operator selular sudah terbilang murah. Riset perusahaan Inggris Cable menyebut rata-rata harga data 1GB di Indonesia USD 1,21 atau hanya sekitar Rp 17 ribu.

Untuk mencegah berulangnya perang tarif yang merugikan industri selular, pemerintah akan mengatur penetapan tarif.  Seperti diketahui, Undang-Undang Cipta Kerja mengubah sejumlah ketentuan dalam UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang telekomunikasi. Salah satunya terkait soal penetapan tarif batas atas dan batas bawah penyelenggaraan jasa telekomunikasi oleh pemerintah.

Beleid sapu jagat tersebut menyebutkan, pemerintah dapat menetapkan tarif batas bawah dan atas dengan mempertimbangkan keadaan tertentu. Misalnya kepentingan masyarakat. Selama ini menyangkut penetapan tarif data oleh operator, pemerintah tidak ikut campur karena dinilai bertentangan dengan prinsip persaingan pasar.

Permasalahan

Yang menjadi permasalahanya ialah perang tarif data murah jelas mengkhawatirkan bagi perkembangan industri telekomunikasi nasional.  Selama ini operator mengabaikan penurunan tarif data yang terus berlangsung karena masih bisa disubsidi oleh pendapatan dari layanan suara dan pesan singkat.

Namun kelamaan, komposisi suara dan pesan singkat terus menyusut seiring perkembangan teknologi, sehingga berdampak pada pendapatan.

Rencana penetapan tarif batas bawah dan atas oleh pemerintah, diharapkan dapat mencegah perang harga dan menyehatkan kembali industri telekomunikasi. Saat ini intervensi pemerintah dinilai sudah mendesak, karena dinamika pasar tak lagi mampu diselesaikan oleh para pelaku industri.

Meski demikian, penetapan tarif bawah oleh pemerintah belum tentu memperbaiki masalah operator yang merasa bisnisnya kurang menguntungkan. Karena, selain persoalan tarif, masih ada faktor lain yang harus lebih diperhatikan, misalnya mekanisme pengawasan. Pemerintah bisa juga menurunkan cost industri dengan cara misalnya mengurangi regulatory charges seperti aturan BHP Frekwensi.

Penetapan tarif juga dinilai berseberangan dengan prinsip persaingan pasar. Konsumen dapat dirugikan karena penetapan tarif yang seragam. Sesuai prinsip persaingan pasar, tarif merupakan alat untuk berkompetisi bagi setiap operator, dan tentu saja setiap operator tidak ingin bisnisnya merugi. Cost structure operator berbeda-beda dengan strategi bisnis yang berbeda-beda juga. Hal Ini menyebabkan level tarif tidak sama untuk semua operator.

Melalui forum Digital Telco Outlook 2021, diharapkan forum tahunan ini dapat mendorong industri ICT semakin kuat dalam menghadapi tantangan di era disrupsi teknologi.

Bagi Anda yang tertarik untuk mengikuti sesi ini bisa langsung bergabung melalui Link Zoom Sesi 4: https://zoom.us/j/97119069535?pwd=TmhjR3o1TnNUM2Q1MG44VEQ0VlliQT09 Passcode: 161220

Artikel Terbaru