Tuesday, July 14, 2020
       
Home News Feature Mengapa Investasi Foxconn Masih Belum Mengalir ke Indonesia?

Mengapa Investasi Foxconn Masih Belum Mengalir ke Indonesia?

-

Jakarta, Selular.ID – Raksasa elektronik kontrak asal Taiwan, Foxconn telah merinci rencana untuk mempercepat investasi di India. Langkah mendiversifikasi basis manufakturnya itu dipicu perang dagang yang masih terus berlangsung antara AS dan China.

Dalam RUPS yang digelar pada Rabu (24/6/2020) di Taipe, chairman Foxconn Liu Young mengatakan meskipun harus menutup operasi di India karena wabah Covid-19 (coronavirus), negara ini adalah titik terang untuk perluasan pembangunan pabrik dan fasilitas R&D perusahaan.

Liu Young menyatakan bahwa Foxconn akan terus maju dengan langkah-langkah berikutnya di India. Pihaknya menjanjikan akan berbagi rincian dalam beberapa bulan mendatang.

India adalah pasar smartphone terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok. India merupakan negara berkembang yang masyarakatnya punya kecenderungan membeli smartphone entry-level atau mid-range, dengan penguasa pasarnya adalah Xiaomi.

Meski demikian, pangsa pasar segmen high end juga semakin meningkat, sehingga memberi peluang bagi vendor yang membidik segmen ini, seperti Apple dan OnePlus untuk meningkatkan penjualan.

Menurut laporan Reuters, Foxconn yang juga dikenal sebagai Hon Hai Precision mempertahankan predikat sebagai produsen elektronik kontrak terbesar di dunia dengan 16 lokasi produksi secara global.

Selain India, vendor yang berbasis di Taipe itu, juga telah berinvestasi besar-besaran di Vietnam selama dua tahun terakhir, meskipun saat ini China masih menyumbang sekitar 70 persen dari penjualannya.

Sejauh ini Apple adalah mitra manufaktur utama Foxconn. Analis memperkirakan vendor AS itu menyumbang lebih dari setengah pendapatan Foxconn. Sejak tiga tahun terakhir, perusahaan telah memproduksi beberapa handset iPhone dan Xiaomi di India.

Seperti dilaporkan Nikkei Asian Review, Liu menyatakan bahwa kapasitas produksinya di Vietnam lebih besar dari India. Tercatat Foxconn telah menginvestasikan total TWD11 miliar ($ 373,2 juta) di India selama 2018 dan 2019 dibandingkan dengan TWD6 miliar di Vietnam.

Investasi Foxconn di Vietnam itu termasuk dana senilai US $ 25,10 juta yang digelontorkan perusahaan, saat mengakuisisi 100 persen saham produsen komponen elektronik setempat, Competition Team Technology melalui anak perusahaan, Foxconn Singapore Pte. Ltd, pada pertengahan 2019.

Anak perusahaan Foxconn yang terdaftar di Hong Kong, FIH Mobile Limited juga berencana untuk memperluas kapasitas produksi di Vietnam.

FIH Mobile, vendor perakit ponsel, telah beroperasi di Vietnam sejak membeli sebuah pabrik di sana pada 2016. Perusahaan mengatakan sebelumnya bahwa banyak kliennya ingin mengirimkan barang-barang mereka dari pabrik di negara itu, demi menghindari aturan tarif yang dikenakan AS pada China.

Peningkatan Kapasitas

Di India sendiri, Foxconn telah mempresentasikan rencana untuk berinvestasi hingga $5.000 crore di fasilitasnya di Sriperumbudur, dekat Chennai. Saat ini Foxconn sedang dalam pembicaraan dengan pemerintah setempat untuk sejumlah konsesi yang diminta perusahaan.

Pabrik Foxconn pertama kali berproduksi di India pada 2015. Seiring dengan meningkatnya permintaan, perusahaan telah merekrut lebih banyak pekerja di wilayah India selatan, dari sebelumnya ratusan menjadi lebih dari 30.000 pegawai saat ini.

Foxconn juga telah meningkatkan kapasitas produksinya menjadi 50 juta unit per tahun. Langkah ini mendukung upaya Apple untuk memindahkan produksi iPhone dari wilayah Tiongkok, sebagai upaya untuk menghindari tarif impor yang diterapkan Presiden Donald Trump untuk unit yang dikirim dari negara tirai bambu tersebut.

Di sisi lain, Apple mencoba untuk melakukan penetrasi ke pasar India, dengan strategi berupa penjualan model iPhone lawas yang memiliki harga terjangkau. Peluang ini ditangkap oleh foxconn untuk memperluas kapasitas pabrik yang sudah ada di negara itu.

Selain memperkuat investasi regional, Foxconn juga akan meningkatkan dana investasi di dalam negeri. Namun investasi tersebut fokus pada perangkat teknologi tinggi, seperti kendaraan listrik, robot, dan perangkat medis pintar.

Dalam sebuah forum online pada awal bulan ini, media lokal Taipe Times menyebutkan bahwa, Liu mengharapkan para produsen untuk mendesentralisasi fasilitas produksi menyusul gangguan pada rantai pasokan global yang disebabkan oleh pandemi corona.

Pada awal Februari lalu, saat berkembang wabah virus mematikan itu, Foxconn juga terpaksa menutup pabrik mereka di China selama sepekan. Akibatnya pabrik-pabrik mereka di China hanya beroperasi pada 50 persen dari kapasitas musiman. Hal ini dipastkan akan mempengaruhi pendapatan perusahaan pada akhir 2020.

Sebelumnya, kinerja Foxconn pada 2019 terbilang moncer. Perusahaan mencatat rekor pendapatan selama setahun penuh. Pendapatan konsolidasi sebesar NT $ 539,51 miliar (US $ 17,79 miliar) untuk Desember, turun 10,48% pada bulan dan 12,89% pada tahun, sedangkan pendapatan untuk kuartal keempat 2019 mencapai NT $ 1,73 triliun, tumbuh 25,23% secara berurutan untuk mencapai rekor tertinggi kedua yang pernah ada.

Pendapatan konsolidasi Foxconn mencapai NT $ 5,33 triliun pada tahun penuh 2019, naik sedikit 0,82% YoY, dan tertinggi dalam sejarah baru.

Dengan kinerja yang terbilang mengkilap sepanjang 2019, Foxconn sebelumnya optimis pertumbuhan bisnis perusahaan semakin menguat pada 2020.
Sayangnya, serbuan virus corona, membuat proyeksi yang sudah disusun oleh Foxconn menjadi berantakan. Seperti halnya vendor-vendor smartphone lainnya, Foxconn harus menyusun ulang strategi bisnis mereka di tahun ini.

Foxconn di Indonesia

Liu Young telah menjelaskan panjang lebar mengenai langkah-langkah strategis yang akan dilakukan dalam RUPS perusahaan. Sayangnya, selain India dan Vietnam, ia tidak meyinggung rencana investasi ke negara lain, termasuk Indonesia. Sejauh ini tidak ada rincian mengenai hal itu.

Padahal sejak beberapa tahun terakhir, Indonesia kerap digadang-gadang akan menjadi target investasi selanjutnya dari Foxconn.

Bahkan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang melawat ke Taiwan pada Agustus 2019 untuk menjaring calon investor masuk ke Tanah Air, mengungkapkan langsung rencana tersebut.

“Pegatron sudah mulai investasi dan dia akan memperluas lagi. Kemudian ada perusahaan lain seperti, saya lupa namanya, tetapi ada perusahaan besar di Taiwan itu, termasuk misalnya Foxconn”, ujar Airlangga.

Kabar mengenai rencana Foxconn hadir di Indonesia sebenarnya bukan cerita baru. Pada 2012 lalu, Foxconn beberapa kali dikabarkan akan membangun pabrik di beberapa kawasan di Indonesia.

Namun semua rencana tersebut kandas di tengah jalan. Masalah lahan menjadi isu utama rencana investasi. Saat itu, Foxconn meminta pemerintah Indonesia agar dapat menyiapkan lahan setidaknya 100 hektar. Sayang, permintaan tak dapat dipenuhi. Apalagi, Foxconn ingin mendapatkan lahan di luar Jawa.

Alhasil, Foxconn berpaling ke India. Rencana tersebut langsung disambut hangat PM India Narendra Modi yang tengah menggenjot investasi produk teknologi tinggi, seperti smartphone, sejalan dengan dengan program “Makin in India” yang diusung pemerintahannya.

Tak tanggung-tanggung, pemerintah India sanggup menyediakan lahan seluas 1.500 hektar. Dengan luas lahan sebesar itu, Foxconn tak hanya membangun pabrik, namun fasilitas riset dan pengembangan (R&D), dengan target memperkerjakan lebih dari 50.000 karyawan.

Latest