Saturday, March 28, 2020
Home News Feature Reorganisasi Indosat: Mengubah Kerugian Menjadi Keuntungan

Reorganisasi Indosat: Mengubah Kerugian Menjadi Keuntungan

-

Jakarta, Selular.ID – Akhir pekan lalu, Indosat Ooredoo mengambil langkah drastis. Anak perusahaan Qatar Telecom itu, mengurangi tenaga kerja sekitar 16% sebagai bagian dari perubahan strategi yang dirancang untuk mengatasi lingkungan yang lebih kompetitif di industri selular.

Ahmad Al-Neama, Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo, mengatakan bahwa pengurangan staf adalah bagian dari reorganisasi alokasi sumber daya untuk meningkatkan daya saing perusahaan.

Menurut Ahmad, langkah PHK tak bisa dihindarkan, karena saat ini pihaknya tengah menjalankan tiga perubahan vital terhadap bisnis Indosat Ooredoo.

Pertama memperkuat tim regional agar lebih cepat mengambil keputusan dan lebih dekat dengan pelanggan.

Kedua, mengalihkan penanganan jaringan (managed service) ke pihak ketiga. Dan ketiga rightsizing organisasi, menambah SDM untuk meningkatkan daya saing, serta merampingkan SDM di beberapa fungsi bisnis.

Ditambahkan oleh Irsyad Sahroni, Director & Chief of Human Resources, perubahan organisasi akan mendorong bisnis Indosat lebih lincah sehingga lebih fokus kepada kebutuhan pasar.

“Kami telah mengkaji secara menyeluruh semua opsi, hingga pada kesimpulan bahwa kami harus mengambil tindakan yang sulit ini, namun sangat penting agar Indosat dapat bertahan dan bertumbuh,” ujarnya.

Meski menimbulkan polemik, ia mengklaim lebih dari 80% dari 677 karyawan telah menerima pesangon yang disebut sebagai “paket di atas persyaratan hukum”.

Langkah PHK yang dilakukan Indosat memang tak terhindarkan. Pada akhir 2017, Indosat punya 4.392 karyawan. Lewat program perampingan, jumlahnya menyusut menjadi 3.700 karyawan.

Itu pun masih terbilang gemuk dibandingkan XL Axiata. Pesaing terdekat itu, hanya memiliki 1.700 karyawan dari sebelumnya 1.892 pada 2016. Padahal dari sisi market caps, XL lebih besar yakni Rp35 triliun. Sedangkan Indosat hanya Rp12 triliun.

Pemimpin pasar, Telkomsel memang memiliki karyawan terbesar dibandingkan operator selular lainnya, yakni 5.200 orang.

Namun revenue yang dihasilkan terbilang eksesif untuk ukuran industri. Tengok saja, pada 2017 anak perusahaan Telkom itu mampu menghasilkan pendapatan Rp94 triliun dan net revenue Rp32 triliun – rekor pendapatan dan margin laba yang dihasilkan operator selular. Itu berarti Telkomsel mampu memberdayakan (empowerment) dengan baik, karyawan yang dimiliki.

Perampingan organisasi memang menjadi salah satu agenda Indosat Ooredoo di tahun ini. Data GSMA Intelligence menunjukkan, hingga akhir 2019, Indosat memiliki 59,2 juta pelanggan. Terpangkas hampir setengah dari jumlah pelanggan sebelum diberlakukannya kewajiban registrasi prabayar pada 2018.

Seiring dengan pergeseran pola komunikasi di masyarakat, lebih dari 64% pelanggan tersebut telah menggunakan jaringan 4G. Hal ini menunjukkan program modernisasi jaringan yang dilakukan perusahaan sejak 2015 berjalan baik.

Seperti operator lain, Indosat memang harus bergerak cepat dalam memenangkan pertempuran di era data. Berkembangnya ekosistem digital karena meningkatnya populasi smartphone dan gaya hidup berbasis aplikasi, sesungguhnya memberikan peluang bagi operator untuk menggarap new business.

Jumlah pengguna data yang terus melonjak setiap tahunnya, diyakini akan menjadi penopang pertumbuhan operator setelah revenue dari basic service terus menurun. Terutama karena migrasi pengguna ke layanan milik OTT.

Rebound

Seperti diketahui, kinerja keuangan Indosat Ooredoo melemah secara signifikan pada 2018 karena menderita penurunan tajam dalam pelanggan dan pendapatan. Meski menurun, perusahaan dipacu meningkatkan belanja modal demi memperluas cakupan 4G, setelah bertahun-tahun kekurangan belanja investasi.

Lembaga keuangan internasional Moody, melaporkan bahwa pendapatan operator yang identik dengan warna kuning itu, sepanjang 2018 anjlok hingga 23% tahun-ke-tahun (YoY) menjadi Rp23,1 triliun (US$ 1,64 miliar).

Hal itu terutama disebabkan oleh menurunnya pendapatan hingga 26% dalam bisnis selular, karena terus anjloknya kontribusi dari layanan dasar (suara dan SMS).

Menyusul kebijakan registrasi SIM prabayar yang diwajibkan oleh pemerintah, basis pelanggan Indosat juga amblas sebesar 47% menjadi 58 juta pada akhir 2018.

Padahal tahun sebelumnya, perusahaan mengklaim memiliki 110 juta sambungan selular. Indikator kesehatan lain, yakni ARPU juga turun sebesar 8% menjadi Rp18.700 pada periode yang sama.

Dengan berbagai indikator yang melemah, pada akhir 2018 Indosat tak kuasa menahan kerugian. Tak tanggung-tanggung, besarnya mencapai Rp2,4 triliun. Padahal dua tahun sebelumnya (2017 dan 2016), Indosat masih mencetak laba. Masing-masing sebesar Rp1,13 triliun dan Rp1,10 triliun.

Pada tahun-tahun sebelumnya, kinerja Indosat juga turun naik. Masing-masing laba Rp1,1 triliun (2011), laba Rp0,5 triliun (2012), rugi Rp2,7 triliun (2013), rugi Rp1,8 triliun (2014), dan kembali rugi Rp1,2 triliun (2015).

Untuk mengubah bandul dari kerugian menjadi keuntungan, tak ada pilihan lain bagi Indosat untuk memperluas infrastruktur 4G sebagai sarana bersaing dengan operator lain.

Operator yang pernah listing di bursa saham New York itu, secara signifikan meningkatkan anggaran belanja modal untuk periode 2019-2021 menjadi Rp30 triliun.

Capex sebesar itu digunakan untuk memperluas cakupan 4G di luar pulau Jawa. Perusahaan menargetkan dapat menambah 18.000 unit BTS 4G sepanjang 2019.

Demi mendapatkan tambahan Capex, Indosat rela melepas tower yang dimilikinya. Pada Oktober 2019, Indosat menjual 3.100 menara. Sebanyak 2.100 ke PT. Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) yang tak lain adalah anak perusahaan dari PT Telkom.

Sedangkan 1.000 menara dijual ke PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo). Dari penjualan menara tersebut, diketahui Indosat mengantongi Rp6,39 triliun.

Sebelumnya, pada Februari 2012, Indosat telah menjual sebanyak 2.500 BTS kepada Tower Bersama Infrastructure dan anak perusahaannya Solusi Menara Indonesia. Nilai penjualan tower itu mencapai Rp4,76 triliun

Dukungan capex yang melimpah, pada akhirnya membuat Indosat lebih dalam agresif membangun BTS. Hal itu terlihat di sepanjang tiga kuartal 2019. Pada Q1, Indosat membangun 4.965 BTS. Lalu pada Q2 membangun 2.859 BTS dan Q3 sebanyak 4.443 BTS.

Peningkatan jumlah BTS pada akhirnya mampu mengatrol pendapatan. Kuartal satu sampai ketiga 2019 terus tumbuh, mencapai 14,5% YTD (year to date).

Pertumbuhan yang dialami oleh Indosat itu, merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan operator selular lainnya di Indonesia.

Pada kuartal satu 2019, Indosat meraup revenue Rp4,858 miliar, lalu meningkat lagi di kuartal dua menjadi Rp5,103 miliar dan pada kuartal ketiga sebesar Rp5,123 miliar.

Peningkatan revenue tersebut, menunjukkan Indosat sesungguhnya sudah dalam track untuk rebound. Apalagi perusahaan sudah mengatasi berbagai isu-isu strategis. Baik sisi bisnis, finansial, maupun sumber daya manusia.

Bagaimana sesungguhnya kinerja Indosat sepanjang 2019? Kita tunggu laporan full year yang akan dipublikasikan tidak lama lagi.

Latest