Monday, October 14, 2019
Home News Telco Q1 - 2019 TBIG Kantongi Pendapatan Rp1,1 Triliun

Q1 – 2019 TBIG Kantongi Pendapatan Rp1,1 Triliun

-

Jakarta, Selular.ID – Berdasarkan laporan keuangan  interim  tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2019, PT  Tower  Bersama(TBIG) berhasil mencatat pendapatan dan EBITDA masing-masing sebesar Rp1.131 miliar dan Rp965 miliar untuk periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2019.

Jika triwulan pertama ini disetahunkan, maka total pendapatan dan EBITDA Perseroan mencapai Rp4.524 miliar dan Rp3.862

TBIG memiliki 25.998 penyewaan dan 15.192 sites telekomunikasi per 31 Maret 2019. Sites telekomunikasi milik Perseroan terdiri dari 15.131 menara  telekomunikasi dan 61 jaringan  DAS.

Dengan  angka  total  penyewaan  pada  menara telekomunikasi  sebanyak  25.937,  maka  rasio kolokasi (tenancy ratio) Perseroan menjadi 1,71.

“Pada kuartal pertama tahun 2019, portofolio kami bertumbuh sebanyak 510 penyewaan, yang terdiri dari 127  sites  telekomunikasi dan  383  kolokasi. Oleh karena itu, rasio kolokasi kami sedikit naik ke 1,71x dari 1,69x pada akhir tahun lalu. Kami terus mendukung pelanggan operator telekomunikasi kami untuk memgembangkan dalam memperluas jangkauan  jaringan  mereka  di  seluruh  negeri,” jelas Hardi Wijaya Liong, CEO TBIG.              

Per 31 Maret  2019, total pinjaman  kotor  (grossdebt) Perseroan, jika bagian pinjaman dalam mata uang US Dollar yang telah dilindung nilai diukur dengan   menggunakan   kurs   lindung   nilainya, adalah sebesar Rp19.887 miliar dan total pinjaman senior  (gross  senior  debt)  sebesar  Rp12.700 miliar.

Dengan saldo kas yang mencapai Rp235 miliar,  maka  total  pinjaman  bersih  (net  debt) menjadi Rp19.652 miliar dan total pinjaman senior bersih   (net senior debt)  Perseroan   menjadi Rp12.465  miliar.  Menggunakan  EBITDA kuartal pertama 2019 yang disetahunkan, rasio pinjaman senior bersih terhadap EBITDA adalah 3,2x dan pinjaman bersih terhadap EBITDA adalah 5,1x.

Sementara itu, menurut Helmy Yusman Santoso, CFO TBIG, walaupun   pertumbuhan    pendapatan Grup dipengaruhi oleh penghentian  penyewaan  dari Internux (Bolt) di akhir Desember 2018, leverage tetap stabil di 5,1x, jauh di bawah covenant obligasi untuk tidak lebih dari 6,25x untuk rasio pinjaman kotor (pada tingkat lindung nilainya) terhadap EBITDA kuartal terakhir yang disetahunkan.  

“Kami   terus   mematuhi   strategi konservatif  kami  untuk  melindung  nilai  seluruh utang  kami  dengan  lindung  nilai  yang  sesuai dengan  jatuh  tempo  utang.  Para  kreditur  kami tetap  berkomitmen  untuk  memberikan  pinjaman tambahan  di  mana  kami  akan  bertumbuh  baik secara organik maupun non-organik,” ungkap Helmy.

Leboh lanjut disampaikan Helmy, kontrak jangka panjang dan terjamin dari operator telekomunikasi, memastikan arus kas yang kuat dan meningkat, yang memungkinkan untuk melanjutkan inisiatif  pengembalian untuk pemegang saham.

“Visibilitas dari arus kas kami memungkinkan kami  untuk  terus membagi dividen  secara  regular  kepada  para  pemegang saham kami. Kami berencana untuk mengusulkan pembagian  dividen  pada  RUPS  Tahunan  yang akan diadakan kemudian hari,” pungkasnya.

Latest