Monday, August 19, 2019
Home News Industri Pengembangan Aplikasi Hadapi Disrupsi Masif

Industri Pengembangan Aplikasi Hadapi Disrupsi Masif

-

Jakarta, Selular.ID – Dalam laporan yang dikeluarkan oleh OutSystems terdapat ancaman disrupsi yang dihadapi oleh para ahli IT di industri pengembangan aplikasi dan tantangan yang dihadapi tim pengembangan dan peluncuran aplikasi.

Laporan berjudul The State of Application Development, 2019: Is IT Ready for Disruption? ini mengungkapkan secara rinci hasil survei lebih dari 3.300 praktisi IT di berbagai industri di seluruh dunia, 17% di antaranya berasal dari Asia Pasifik.

“Survei tahun 2019 kami menunjukkan bahwa banyak departemen IT sedang menghadapi berbagai disrupsi terkait dengan transformasi digital dan pengembangan aplikasi,” ujar Steve Rotter, CMO OutSystems.

Ancaman disrupsi digital dan kebutuhan akan transformasi digital dikatakan Steve telah menjadi pendorong strategi IT selama bertahun-tahun. Ditambah dengan prediksi situasi ekonomi global yang tidak menentu, menjadi jelas mengapa saat ini para pemimpin perusahaan sangat mementingkan bisnisnya bersifat agile.

Laporan riset yang baru ini berisi wawasan mendalam dari para manajer IT, enterprise architect, dan pengembang yang membahas berbagai topik. Transformasi digital mendominasi strategi bisnis saat ini, menyebabkan tingginya permintaan pengembangan web dan mobile. Selain itu, kecepatan dan ketangkasan (agility) menjadi jauh lebih penting dibanding sebelumnya, jelas Rotter.

Laporan OutSystems ini menggali prioritas dan tantangan pengembangan dan peluncuran aplikasi, serta strategi yang digunakan tim IT untuk mempercepat peluncuran.

Dalam laporan tersebut setidaknya ada enam temuan utama yang berdampak pada semua praktisi IT:

  • Permintaan pengembangan aplikasi (app dev) meningkat tajam: Jumlah aplikasi yang dijadwalkan untuk peluncuran di tahun 2019 naik sebanyak 60%, menurut para responden global, 38% di antaranya berencana melakukan peluncuran 25 atau lebih aplikasi tahun ini. Di Asia Pasifik, 69% responden berencana meluncurkan 10 atau lebih aplikasi di tahun 2019, dengan 52% di antaranya menargetkan peluncuran sebanyak 50 atau lebih aplikasi di tahun berikutnya.
  • Waktu pengembangan sempit: 46% responden di Asia Pasifik mengungkapkan waktu rata-rata untuk meluncurkan aplikasi berbasis web atau mobile sebanyak lima bulan atau lebih.
  • Backlog masih ada: 63% praktisi IT di Asia Pasifik mengungkapkan masih adanya backlog pengembangan aplikasi, dan 16% di antara responden ini menghadapi backlog sebanyak lebih dari 10 aplikasi.
  • Kesulitan mendapatkan dan mempertahankan sumber daya manusia (SDM): Sebagian besar responden sudah mempekerjakan pengembang, 75% responden global mengungkapkan kesulitan menemukan SDM di bidang pengembangan aplikasi, dan hanya 36% organisasi di Asia Pasifik yang memiliki tim pengembangan aplikasi yang lebih besar dari tahun lalu. Data menunjukkan retensi tenaga pengembangan aplikasi adalah masalah yang juga serius.
  • Praktik-praktik agile masih lambat matang: 69% organisasi di Asia Pasifik telah berinvestasi di layanan dan perangkat agile di tahun lalu. Namun demikian, rata-rata nilai agile-maturity (ketangkasan dan kematangan) cukup rendah, yaitu sebesar 2,76 dari total nilai 5. Hal ini menunjukkan sebagian besar organisasi di wilayah ini masih berada dalam proses mendefinisikan proses-proses agile.
  • Fokus pada pelanggan terus meningkat: Tahun lalu, lebih dari 69% organisasi di Asia Pasifik telah berinvestasi di praktik-praktik yang fokus pada pelanggan, termasuk di dalamnya pemetaan perjalanan pelanggan, design thinking dan lean UX. Untuk aplikasi yang akan dikembangkan di tahun 2019, aplikasi yang akan digunakan langsung oleh pelanggan atau mitra bisnis digolongkan sebagai yang paling penting.

Latest